Lelaki tak berguna (oleh Bintang Rina )

Wati sedang mencari anaknya yang bermain di sekitar mushola ketika ia menghentikan langkahnya karena mendengar suara bapaknya berkata kepada  temannya ,sesama orang tua, tentang hidupnya.

“ Hidup saya sekarang membosankan. Bayangkan saya wajib menjaga dan memelihara kesehatan , tetapi  setelah sehat saya tak tahu  mau bekerja apa.Semua pekerjaan yang dulu kita kerjakan sekarang telah diambil alih oleh anak-anak muda.” kata bapak Wati.

Temannya berkomentar :” Sampeyan , juga kita-kita ini seharusnya bersyukur   telah ada yang mengambil alih tugas-tugas kita. Bayangkan andaikata sampeyan masih harus bekerja seperti beberapa saudara-saudara kita sedesa yang masih harus bekerja sampai tua, terbungkuk-bungkuk , siang mencangkul, sore manyabit rumput untuk ternaknya , malamnya hanya tidur sebentar .karena ia harus ke sawah lagi untuk menjaga air dari irigasi yang jatahnya terbatas  waktu giliran mengairi sawahnya. ….”

“Sampeyan benar ! saya bersyukur tetapi perasaan bosan sering  muncul .Hari-hari terasa lebih panjang dan sepi tanpa pekerjaan yang berarti . Penantian yang melelahkan.” sang bapak menambahkan

“Kalau tidak sabar menanti datangnya panggilan Allah, satu kilometer dari sini ada rel kereta api,  Tinggal pilih mau bunuh-diri pukul berapa  , tiap dua jam KA lewat!” teman sang ayah memberi tawaran sambil tertawa nyengir..

“Huss sampeyan ini ada-ada saja. Siapa ingin masuk neraka ?” kata sang bapak sambil tertawa mendengus dan beranjak meninggalkan teras mushola  setelah menyimpan sapu , ember dll.

 

Sesampainya di rumah  Wati langsung menceritakan kepada ibunya tentang obrolan bapaknya Selesai bercerita , ganti ibunya menjelaskan : “beban batin bapakmu memang berat. “.

“Sebetulnya ada apa dengan bapak ?”Wati memberanikan diri bertanya .

“Kau rupanya belum mengerti ?

“Tahu tetapi hanya kira-kira. “

. Nah kini kujelaskan. Dulu kau tahu bapakmu pernah bekerja di pabrik  besar. Prestasi kerjanya membanggakan. Walaupun demikian bapakmulah orang pertama yang di PHK sebelum karyawan lain secara besar-besaran. Masalahnya karena bapak menolak menjalankan perbuatan yang tidak jujur dari perusahaan dan bapak juga tidak setuju dengan  rencana efisiensi dari managemen pabrik karena berakibat banyak karyawan yang kehilangan pekerjaannya. Akhirnya  bapakmu diangggap membangkang dan dikeluarkan alias di PHK. dengan beberapa tuduhan. Bapak menolak dan melawan.Namun kalah  di pengadilan. Sejak di PHK bapak benar-benar mempraktekkan definisi  yang di katakan Pak De-nya yaitu tentang arti Rela. Caranya bapak mencari kegiatan atau kesibukan yang bermakna misalnya menolong dan membantu orang lain tak perlu yang besar-besar atau yang berbiaya tinggi yang penting waktu membantu hatinya ikhlas.. Selain –rela- dan -narima – bapakmu juga  melaksanakan kegiatan yang mempercepat  cepat rela dan narima dengan nasihat yang juga penting  yaitu jangan mengingat-ingat  peristiwa dan penderitaan yang telah lewat dan jangan mengharap-harap sesuatu yang belum terjadi. Untuk menunjang hidupnya sebagai seorang kepala keluarga bapakmu berbisnis dan bekerja sama dengan beberapa rekan barunya. Waktu itu ibu harus pulang ke desa untuk meneruskan usaha pertanian kakekmu yang telah wafat. Dan bapakmu sendirian di kota dengan menyatakan akan sering pulang. Mula-mula  usaha bapakmu menunjukkan kemajuan. Tahun berikutnya usaha bapakmu yang awalnya menunjukkan keberhasilannya ternyata sebaliknya, gagal total.Usaha bisnisnya bangkrut, termasuk uang pesangonnya dari perusahaan juga ludes. Saat itu baru bapakmu menyadari bahwa dirinya tidak berbakat di bidang bisnis. Padahal sejak awal ibu sudah mengingatkan bahwa bapakmu seorang pekerja yang tekun, yang hobynya menulis  dan bukan seorang usahawan.” sang ibu menjelaskan  dan melanjutkan:

“Bapakmu yang semula merasa bisa benar-benar rela , karena mempunyai usaha dibidang  lain, langsung terguncang hatinya ketika usahanya hancur. Keterpaksaan pindah ke desa ini malah membuat bapakmu frustasi .Untung tidak sampai sakit. Disini bapakmu harus berani melihat kenyataan bahwa dirinya bukan siapa-siapa lagi. Bapakmu benar-benar tidak Rela dan tidak Narima. Sering uring-uringan dan kurang bisa mengendalikan dirinya lagi. Sementara bapak tersiksa karena kenyataan yang pahit itu , ibu mengalami panen raya dengan padi melimpah dan harga jual gabah sedang membaik. Bagi ibu ,sebagai keluarga petani, hal itu bukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi justru telah membuat bapak malu. Sebagai suami ia tidak bisa mencari nafkah , malahan menumpang hidup , makan dan uang saku dari  istrinya. Bertani dan bekerja kasar bagi bapakmu selain tidak mampu, juga berarti mengambil nafkah para buruh tani dan keluarganya yang sudah lama hidup  bersama sawah warisan kakek.” ibu menjelaskan lebih jauh.

“Itulah gambaran bapakmu saat ini. Hatinya menderita , mental tidak stabil, mudah tersinggung dan ucapannya sering  menyebalkan. Suatu perilaku yang tak pernah dilakukan  sebelumnya . Apalagi kalau bicara dengan ibu , walau hanya sebentar , hampir selalu berakhir dengan wajah yang tidak sedap sambil beranjak pergi.. Dulu walau sedang berselisih dengan ibu dibalik adu argumennya  ibu bisa merasakan suasana kemesraan. Bapakmu sebenarnya pria yang romantis. Kini yang terjadi sebaliknya Dalam berkomunikasi selalu ada kesan menyalahkan entah siapa yang disalahkan, terutama bapak sering merasa selalu bersalah seperti lelaki tak berguna . Dan ibu tak tahu apalagi yang harus di ucapkan. Hal-hal yang dulu dianggap biasa ,  kini bisa menyulut perselisihan. Bapakmu sering tersinggung dan disalahkan seolah-olah bapak tak tahu kewajiban atau lainnya. Padahal ibu tidak bermaksud demikian.Dan masih banyak  lainnya.

 

“Suatu hari ada satu pertengkaran yang agak keras , kau waktu itu belum pulang  kerja.. Untuk kedua kalinya bapakmu mengucapkan bahwa dirinya memang suami yang tak berguna , hidup menumpang kepada istri. Kalimat ini membuat ibu sedih , kecewa dan kesal. Rupanya bapakmu tidak tahan menerima kejatuhannya. Di pecatnya bapakmu , hancurnya usaha bisnis sampai dengan kepindahannya ke sini  bukan salah ibu. Tetapi ibu yang kena getahnya.Tetapi ibu tidak mau melayani kemarahaan bapakmu , dan setiap ada kesempatan menghimbau bapak mencamkan kembali nasihat PakDe narto. Tentu saja secara singkat dan tidak melayani perdebatan. Tampaknya sedikit demi-sedikit bapakmu mulai sadar dan berusaha lebih banyak menahan diri.”  Ibunya menjelaskan dengan nafas terengah-engah ..

Wati sedih dan jengkel karena mengira ibunya juga marah dan ganti mendiamkan bapak apalagi setelah bapaknya sering melamun , suntuk dan kemudian bersepeda entah kemana dan sore hari baru  pulang . Dulu bapak sering menikmati  lagu-lagu lama dari DVD beliau untuk menghibur diri . Kini tak pernah lagi . Berbeda dengan ibunya yang mampu menguasai diri dengan  bersikap wajar ,tetap sibuk dan tetap bergosip ria dengan tetangga waktu belanja pagi. Ibunya hanya berbicara dengan bapak bila dianggap penting , Tetapi hasilnya tak ada bedanya . Bercerita atau tidak sang suami tetap  berwajah masam  atau melengos pergi.

“Kau harus tetap menghormati bapakmu dan tidak ikut-ikutan risau dan gelisah.”kata ibunya setelah nafasnya normal.“Bapakmu berjalan di jalan yang benar. Kalau ibu lebih banyak diam tujuannya memberi kesempatan bapak agar sadar, agar Eling dan Narima. Ibu sama sekali tidak marah dan mendiamkan bapakmu !” kata ibunya.  seperti mengerti perasaan Wati anak kesayangan ayahnya. “Proses Rela dan Narima yang menakutkan bapakmu ini berlangsung lebih dua tahun. Sekarang perubahannya ada sedikit..” Ibu mengakhiri ceritanya.

Suatu pagi setelah sholat subuh bapaknya  belum pulang padahal Mushola telah sepi. Lama ditunggu tidak juga muncul .” Bapak telah menghilang !” Wati khawatir bapak bunuh diri karena  ingat gurau sendau temannya di mushola tempo hari. Ternyata ibu juga . Sepeda bapak masih ada, berarti perginya belum jauh. Ketika Wati dan ibunya  sedang mengira-kira kemana bapaknya  pergi, dari jalan-raya di samping rumah terdengar celoteh dan tawa  renyah  beberapa kali. Itu jelas suara bapak. Dengan bergegas tetapi hati-hati Wati dan ibunya mengintip ada apa dengan bapaknya dijalan raya sepagi ini. Ternyata bapak sedang menyapu jalan raya di kanan rumah dan tiap kali terdengar sapaan ramah dari  orang-orang yang mulai berlalu lalang. Ibunya tertegun dan ekspresi wajahnya sulit kutebak. Lalu dengan bergegas sang ibu masuk ke dalam rumah. Selesai  menyapu jalan ,bapaknya langsung menyapu halaman  . Wati menghindar dan cepat-cepat membuat kopi untuk bapaknya.  Ibunya ternyata menghindar dengan cara mandi pagi dengan suara deburan  air yang sengaja di keraskan. Wati mengira tak sampai seminggu bapaknya pasti sudah bosan. Ternyata tidak dan ibu juga tidak menghindar malah dengan manja meminta bapak  memutarkan lagu-lagu kenangan mereka sambil menemani minum kopi pagi. Setelah itu baru ibu ke kandang ayam memberi makan ayam-ayamnya atau menyuruh Wati sebelum kekantor berbelanja ke tukang sayur. Hubungan kedua orang tuanya sudah mencair.

 

Suatu pagi lima bulan kemudian seusai menyapu jalan, teman bapaknya  yang sering bertemu di mushola  mengobrol dengan sang ayah di teras samping rumah dengan hidangan kopi dan ketan kelapa ditaburi bubuk  kedelai . Kedua orang  tua tadi atas  keputusan rapat desa di beri tugas membuat rencana anggaran dan rencana desa untuk tahun depan.

Pemandangan pagi itu  membuat Wati tiba-tiba ingat enam bulan yang lalu waktu bapaknya sedang bertengkar keras dengan ibunya dan mengira Wati masih di kantor. Sebetulnya Wati sudah pulang dan mendengar semuanya. Waktu itu ia hanya sedih. Setelah sekian lama dan sudah melupakan kejadian itu pagi ini di luar dugaan Wati memahami lebih banyak  tentang makna pertengkaran  yang pernah  di berikan oleh seorang dosen favoritnya. Kini Wati tahu  bahwa di balik pertengkaran orang tuanya dulu itu ada lolongan pedih betapa ayahnya telah menderita . Penyebab utama penderitaan itu hanya akibat rasa tidak Rela dan tidak Narima yang berkepanjangan. Dan untuk mengobatinya sebenarnya bapaknyapun sudah tahu. Ayahnyapun telah melaksanakannya. Namun karena proses penyadaran diri itu makan waktu maka , angan-angan, perasaan dan nafsu-nafsu  ayah sering bergolak hebat. Kehilangan  kekuasaan dan penghasilan membuat bapak  kehilangan jati dirinya yang asli. Bapak sebagai  lelaki yang sudah puluhan tahun mampu memenuhi dibutuhkan keluarganya  tiba-tiba tak bisa lagi, akhirnya bapak merasa kehilangan peran dan merasa tidak di butuhkan lagi baik sebagai suami maupun sebagai lelaki.  Malahan minta makan kepada istrinya. Ayah tidak bisa menerima kenyataan itu, ia malu dan merasa  hidup miskin dan lemah tidak pantas untuk ditampilkan. Untuk menutupinya ayah bertindak keras Ayah bersembunyi di balik –topeng ganasnya– Dengan berperilaku galak ia merasa bisa menutupi kelemahannya. Tetapi karena jati dirinya bukan orang seperti itu, apalagi menghadapi istrinya maka bapak  hatinya makin kacau. Dalam hati bapak ingin  minta tolong , bapak sambat . Suara batinnya  seolah-olah mengatakan tolonglah aku. aku kini sedang menderita. Tetapi karena gengsinya tinggi maka yang terucap hanyalah “Aku tahu kau muak kepadaku karena aku hanya lelaki yang tak berguna. Seharusnya aku tak disini !” Itulah ucapan yang pernah diucapkan bapak dulu itu. Suatu gambaran nyata dari seseorang yang jati dirinya sedang kacau. Ucapannya menjadi kasar yang membuat sang istri menjadi jijik dengan tingkah laku suaminya yang menakutkan, tidak gagah dan tidak membuat bangga seperti dulu-dulu.  Untung ibunya Wati sabar sehingga bisa menahan diri dan mengarahkan bapaknya  agar kembali Rela dan Narima serta tidak bosan memotivasi diri agar bangkit kembali karena kepandaian bapaknya yang belum tergali masih banyak.

Saran ibunya tepat. Setelah bapak bisa Narima dan hatinya bersih maka dengan sendirinya  muncul gagasan-gagasan baru  yang orisinil dan actual. Wati sangat bangga dengan ibunya yang sabar dan ulet.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Tak terkategori | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Bapak ideal

(Oleh Bintangrina )

“Biasanya Roni berjalan di belakang kita. Tetapi sudah beberapa hari ini dia tak kelihatan.” Pak Heru TU sekolah SMP “Bakti Pertiwi” berkata sambil menengok ke belakang.

“Dia sakit. Ada surat keterangan dari ibunya.”kataku.

“Dari ibu angkatnya bukan ?”

“Pasti!” Mana mungkin dari ibu kandungnya.” jawabku sambil ikut menengok ke belakang ,  posisi dimana biasanya Roni berjalan di belakang kami. Pak Heru tertawa dan di lanjutkan,

“ Tentu saja . ibu kandungnya jelas tidak mungkin!” dan di tambah “ Dia anak yang baik, sopan yang pasti dia minder.” Aku  hanya mengangguk

“Kata beberapa guru otaknya agak kurang. Apa memang demikian ?” tanya Pak Heru.

“Dia memang agak terbelakang. Tetapi bukan bodoh seratus persen. Dia hanya lamban. Akan tetapi kalau sudah mengerti  maka, pengertian itu akan melekat erat dalam ingatannya.”

“Maksud bapak bagaimana ?”

“Kalau pelajaran yang bersifat hafalan dia selalu ingat , Akan tetapi kalau pelajaran soal  perkalian, penjumlahan, pembagian, pokoknya yang bersifat penalaran dia pasti tertinggal . “

“Berarti dia memang bodoh.” Pak Heru bersikukuh  , lagi-lagi aku hanya mengangguk.

“Kalau di bandingkan dengan ibu kandungnya Roni termasuk lumayan.” Pak Heru meneruskan

Untuk kesekian kalinya aku hanya meng-iya-kan .

”Ah kita harus berpisah . itu sudah ada angkot yang menunggu .” Pak Heru pamit dan aku menyeberang jalan. Ketika menengok ke belakang , sekilas kulihat ada  Roni  menghilang di balik pagar hidup. Kuduga ia akan menyeberang juga tetapi batal dan segera menghilang ketika melihatku menengok ke arahnya..Ada rasa bersalah karena belum juga bersekolah walaupun sudah sehat. Kemunculan dan menghilangnya mudah di tebak. Ia pasti baru saja menemui ibu kandungnya.

Malamnya  ketika aku sedang bekerja memeriksa hasil ulangan anak didikku ,aku melihat Roni berkelibat  di depan rumah. Semula aku ingin memanggilnya, namun kubatalkan . Lebih baik aku meneruskan pekerjaanku. Tetapi belum sampai lima belas menit bekerja aku kehilangan selera karena kepalaku  tiba-tiba dipenuhi dengan riwayat Roni.

Dua tahun yang lalu Roni yang sudah 13 tahun umurnya menjadi siswa di sekolah ini tanpa tes masuk apapun juga. Bukan hanya Roni saja melainkan semua anak-anak SDN III yang sudah selesai ujian namun tak ada biaya , atau nilai ujiannya terlalu jelek pasti meneruskan sekolahnya disini  di SMP Bakti Pertiwi.  Sekolah ini masuk sore dan tempatnya di SDN III juga. Sekolah SMP  sendiri adalah sebuah yayasan yang di dirikasn oleh tokoh-tokoh desa yang sebenarnya tak bersemangat mencerdaskan bangsa kecuali memancing dana bantuan dari Pemerintah  dan dari para donatur. Nyatanya tak pernah ada kepastian apakah bantuan itu ada atau tidak  karena kebanyakan warga desa sudah tahu mental para pengurus yayasan Bakti Pertiwi. Kalau sampai sekian puluh tahun sekolah ini masih hidup adalah bukti bahwa bantuan itu ada. Tetapi dari siapa dan berapa banyak tak ada yang tahu. Yang pasti itu karena karena masih ada semangat mengajar dari beberapa gelintir guru yang datang dan pergi kalau ada waktu . Dan yang lebih menyedihkan jumlah guru yang mau mengabdi  sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa  uang jasa , lebih sedikit lagi. Hanya kadang-kadang  ada donatur dadakan yang uangnya sampai ke tanganku atau tangan Pak Ferdinan Heru.Atau karena tanpa alasannya yang jelas beberapa orang tua siswa tersentuh hatinya dan mau membayar uang sekolah walaupun hanya sekedarnya.

Sebagian besar siswanya setelah keluar dari sini tidak meneruskan sekolahnya. Maklum  sebagian besar orang tua para siswa ini hanya buruh tani , tukang ojek,pedagang asongan  atau anak penjaga villa . Ada juga  anak preman, atau anak dari suatu keluarga pengangguran .

Roni memang berbeda dengan siswa lainnya. Orang tua  angkat Roni ini adalah wanita yang cukup Ia wanita single parent. dengan dua anak yang kini sudah mandiri dan berumah tangga . Entah apa niatnya tetapi yang pasti si wanita tadi mengangkat Roni dan merawatnya sebagai anaknya dengan penuh kasih. Jadi Roni ini di banding  teman-temannya sedikit  lebih baik. Selama hidupnya di biarkan mengalir seperti apa adanya dia tak mempunyai masalah. Itu telah terbukti ketika dia masih kecil sampai dia lulus sekolah dasar

Waktu Roni sudah kelas lima sekolah dasar dia tahu bahwa ibu kandungnya masih ada sejak itu setiap hari di tengoknya sang ibu yang tingggal di rumah seorang wanita pensiunan perawat tidak jauh dari tempat Roni bersekolah. Roni baru pulang ke rumah setelah makan siang bersama ibu kandungnya. Ibu angkatnya memahami. Ini berlangsung sampai Roni kelas dua SMP.

Ketika penalaran Roni makin berkembang dan perasaannya semakin halus, maka gurau sendau teman-temannya menyadarkan dirinya  bahwa ibu-kandungnya  adalah wanita kurang waras.

Sejak saat itu ia mulai merasa malu dan menjauhkan diri dari ibu kandungnya.  Namun kasih sayang dua manusia itu lebih kuat dari hambatan sosial yang ada. Dengan sembunyi-sembunyi ia selalu berusaha bertemu ibu kandungnya . Yang melegakan adalah wanita pensiunan yang menampung ibu kandung Roni selalu memberi kesempatan ibu dan anak tadi bertemu di samping kiri rumahnya yang berpagar tinggi . Dasar anak-anak SMP masih polos,  mereka selalu saja bisa menemukan di mana Roni dan emaknya berada. Mereka lalu bersorak-sorak  menggoda Roni yang sedang asyik menemui ibunya.  Tuhan dengan cara-Nya sendiri tetap melindungi umatnya yang masih anak-anak itu. Teman-temannya justru menggoda Roni dengan  ejekan yang membuat Roni dan ibunya , walaupun kurang waras ,makin sayang dan gembira. Dengan ejekan “Idih, Roni masih manja ya diam-diam ketemu ibunya. Malu kan…!”

Setiap kali aku mendengar celoteh anak-anak tadi aku langsung keluar kelas dan melarang mereka menggoda Roni. Tetapi  anak-anak sambil tertawa-tawa tetap menggoda “Roni manja !”

Ketika Roni sudah remaja, muncul gossip baru , yaitu tentang bapaknya . Kalau ia masih diam dan tidak berbuat apa-apa atas merebaknya gossip  tadi, karena Roni belum memahami  masalah bapak ini . Tetapi ia tak selamanya diam. Ia pasti bereaksi.

Reaksinya  berupa kemarahan berawal dari rasa galau yang muncul sewaktu Roni sakit  thypus dan di rawat di rumah sakit selama sepuluh hari. Pulang kerumah setelah sembuh  dan kembali ke sekolah Roni telah berubah . Ia lebih mengenal dirinya.

Di sekolah dia bercerita bahwa waktu dia sakit perawat rumah sakit swasta di Bogor ,menanyakan  identitas dirinya termasuk menanyakan soal nama ibunya  juga bapaknya. Kebetulan waktu itu  ibu angkatnya tidak ada, dan petugas rumah sakit hanya menyatakan bahwa  nama bapaknya itu perlu untuk membayar biaya rumah sakit. Padahal sejak semula ibu angkatnya sudah mengatakan bahwa semua biaya ditanggung olehnya. Mungkin perawat lupa. Bagi perawat Rumah Sakit pertanyaan seperti di atas adalah tugas biasa dan rutin.

Tetapi bagi Roni berbeda. Pertanyaan  di atas sangat mengejutkan bagai membangunkan dirinya dengan kasar dari tidurnya yang indah dan panjang ke dunia nyata yang menakutkan. Masa anak-anaknya yang berselimut kasih sayang telah tersibak lepas dan menyaksikan wajah dirinya menjadi manusia tanpa status yang jelas.

Roni yang kini telah kelas tiga SMP telah mampu merasakan perbedaan  antara dirinya dengan anak-anak lainnya. Antara lain ia tidak pernah mengucapkan kata bapak , karena tidak  mempunyai bapak. Ibu angkatnya  sejak Roni masih kecil telah menyadarkan bahwa tidak setiap anak ada  bapak dan ibunya di sertai contoh-contoh nyata beberapa teman-temannya, Untuk nasihat itu Roni bisa menerimanya . Tetapi pertanyaan tentang siapa bapaknya , ia belum bisa menerima, karena ibunyapun tidak pernah menjawab pasti.

Pertanyaan  yang  belum terjawab inilah yang terus menerus  mengganggu pikirannya. Karena orang-orang yang bisa dipercaya  dan mengenal dirinya tidak mau bicara berterus terang , maka Roni yang sudah penasaran mencari informasi perihal di atas melalui jalur lain.

Sebagaimana diketahui karena peristiwa yang berkaitan dengan kehamilan Mimin, ibunya Roni, sampai dengan kelahiran  Roni dulunya dianggap peristiwa yang luar biasa  dan menjadi rahasia umum maka , bagi yang menyukai gossip, berita tadi tetap saja dianggap sensasional  sehingga selalu ada bahkan banyak yang ingin tahu.

Melalui mulut para penggosip inilah  Roni bisa tahu masa lalu ibunya ,bapaknya dan lain-lain.

Informasi dari para penggosip inilah yang mengubah Roni menjadi lain. Badannya yang tumbuh sehat , lebih besar, dan pendiam, akhirnya menjadi pribadi yang menakutkan dan mudah tersinggung. Penyebabnya ia minder . Dampak yang mengikutinya adalah ia selalu gelisah  Akibatnya selain tak lagi hirau dengan pelajaran sekolahnya, Ia juga tak pernah terlihat menengok ibu kandungnya.  Ia lebih banyak diam atau menyendiri. Nilai pelajaran di sekolahnya pun semakin menurun Perilaku Roni menakutkan teman-temannya dan menggelisahkan warga desa dan teman-temannya yang mengenal  riwayat Roni.

Roni memang tak pernah bicara apa-apa kepadaku atau Pak Heru soal bapaknya. Dan itu bisa  saya pahami . Namun karena Roni dekat kepadaku dan Pak Heru terutama  pada saat pulang bareng , tidak mustahil suatu saat Roni akan bertanya kepadaku. Ini sangat merisaukan.

 

“Andaikata Roni datang kepadaku dan bertanya siapakah bapaknya ? Maka menurut Pak Sur saya harus menjawab bagaimana?” tanya Pak Heru kepadaku suatu sore di kantor TU menunggu  waktu bubar sekolah.

“ Kira-kira Pak Heru menjawab bagaimana ?” aku balik bertanya.

“ Itulah kebodohan saya. Sampai detik ini saya belum mempunyai jawaban yang pas.”

“Saya juga tak tahu!  Roni itu lahir  di luar nikah.. Kelahirannya tak pernah di harapkan oleh kedua orang tuanya. Anak seperti dia seharusnya di sayang. Sebagai orang beriman kita harus  menutup aib-nya dan mengangkat derajadnya.” hanya itu jawabku.  Setelah itu kami diam , lama.

.Peristiwa  sekitar 16 tahun yang lalu muncul kembali dalam  ingatanku.

Dulu di Pasar Cipanas ada wanita tidak waras bernama Mimin.  Sejak kapan ia datang dan di mana ia tidur selama itu tak banyak yang tahu.  Tetapi wanita yang tidak waras itu tidak pernah mengganggu umum. Malahan sering membantu  angkat junjung  barang-barang dagangan di pasar. Selain itu wanita itu juga tidak jorok ,cenderung bersih. Inilah yang mengherankan. Hanya manusia sehat yang mengerti kebersihan. Andai ia tidak gila , wajahnya cukup cantik. Setelah sekian lama dia  hidup  di pasar, tiba-tiba  Mimin  sakit. Antara lain sering muntah –muntah dan lama kelamaan perutnya membusung. Dengan diantar para pedagang wanita, Mimin di bawa ke Puskesmas dan diperiksa ternyata Mimin tidak sakit, tetapi hamil.

Kehamilan Mimin bagi para pedagang pasar bukanlah hal yang aneh, juga ketika tidak ada yang mengakui siapa yang bertanggung jawab. Semua maklum karena pasar memang bukan tempat yang baik untuk hidup dan tinggal. Apalagi Mimin di kenal tidak waras. Hanya karena kebaikan hati seorang ibu ,pensiunan perawat rumah sakit Mimin di tampung  , di rawat pokoknya hidupnya di jamin oleh Bu Emy, nama ibu yang baik hati tadi. Dan ibu tadi tinggalnya tidak jauh dari  SMP Bakti Pertiwi. Dan setelah bayinya lahir , seorang bayi lelaki diangkatlah bayi tadi oleh sahabat Bu Emy yang bernama Bu Jenab yang tinggal agak jauh dari rumah bu Emy. Sejalan dengan berkembangnya waktu  anak lelaki Mimin yang diberi nama Roni  tumbuh menjadi besar dan sehat karena Bu Jenab juga sangat menyayanginya. Perkembangan yang sudah diduga tetapi tetap  menggelisahkan adalah ketika Roni sudah kelas tiga SMP dan menanyakan siapa bapaknya. Disini Bu Jenap dan Bu Emy , tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan .

“Jawabnya bagaimana Pak?”  pertanyaan Pak Heru membuyarkan lamunanku.

“Yang pasti Roni mula-mula hanya bertanya nama bapaknya.” kataku  .” Namun bisa di duga ada pertanyaan lanjutan yaitu dimana rumahnya, apa pekerjaannya, dia masih hidup atau sudah meninggal. Kalau sudah meninggal di mana makamnya dan seterusnya…”

“Nah itulah yang harus kita jelaskan !” potong Pak Heru.”Dan saya tidak mampu.”tambahnya

“Kita tak bisa apa-apa . Menghibur pun saya tak mampu .”jawabku

“Tetapi jawaban harus ada Pak !”

“Kalau Pak Heru memaksa ,maka jawaban hanya satu, yaitu mencari ayah pengganti yang ideal.”

“Arti ideal itu bagus  tetapi  yang bagaimana ?” tanya Pak Heru bergairah.

“ Kalau Roni mendesak terus saya jawab bahwa kalau kau mencari bapak kandungmu , jelas tak ada yang tahu. Tetapi kalau kau mencari bapak pengganti yang paling bertanggung-jawab, paling berkuasa dan sangat menyayangi dirimu , jelas ada . Saya sebut bapak ideal. Boleh juga kita katakan panutan.Untuk bisa tahu dan dekat dengan bapak ideal atau Panutan tadi maka kau harus percaya kepada beliau dengan kasih sayangnya itulah yang harus di utamakan . Roni tidak boleh membenci siapapun, tidak memusuhi siapapun. Pokoknya Roni harus melaksanakan semua yang diperintah dan menjauhi semua yang di larang oleh  bapak ideal tadi. Jadi bukan hanya kekuasaannya tetapi terutama kasih sayangnya …….”

“Nanti dulu…nanti dulu. Rasanya saya  pernah kenal dengan istilah itu….apa ya….bapak ideal ?” Pak Heru langsung memotong ucapanku.

“Bapak yang ideal , atau Panutan yang tak pernah salah dan menjadi Bapak semua orang memang hanya satu. Dan kalau Roni benar-benar mencari bapak yang ideal , maka Roni harus berani menyatakan diri sebagai putera sang bapak  ….”

“ Putera Sang Bapak …? Stop Pak Sur! Sekali lagi STOP! Jangan bicara lagi. Anda keterlaluan. Jangan samakan Roni dengan Yesus….”

“Saya hanya bicara tentang bapak yang ideal. Hanya itu! Saya kebetulan berkata tentang bapak  ideal yang lebih baik dari bapak-bapak yang lain. Jadi tidak ada kesengajaan untuk menyamakan Roni dengan Yesus. Atau sinis terhadap agama..!” kataku dan Pak Heru terlanjur marah dan sangat tersinggung dianggap aku main-main.

“Ucapan Pak Suryo itu seakan akan mengatakan Tuhan adalah bapakku …..? “ Pak Heru mengulangi ucapanku dengan wajah merah dan “Maaf anda keterlaluan. Jawaban tadi  tidak sopan dan bukan untuk main-main.” Pak Heru  menyerocos protes atas ucapanku.

“Aku bukan sedang main-main Pak. Tiap anak tentu ingin dan bangga mempunyai panutan. Contohnya seorang anak bangga karena bapaknya seorang pendekar, anak yang lain bersyukur bapaknya seorang pejabat dan lain-lain. Lalu bagaimana dan kebanggaan apa buat anak seperti Roni ini ? Apakah harus bangga mempunyai ayah seorang pemerkosa, tukang jambret atau preman pasar ? Tidak bukan. Karena itu kubuat contoh panutan yang ideal . Dan tanpa sengaja  ucapan saya ber konotasi Tuhan sebagai bapaknya. Dan andaikata Roni benar-benar bertanya kepadaku siapa bapak ideal itu , aku pasti tak menjawab hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum Hanya dalam hati kukatakan dengan yakin Tuhan adalah bapakku. Dan aku putera Tuhan. “

“Maaf Pak Sur ! Anda sahabatku , tetapi untuk yang satu ini Pak Sur sudah kelewatan ! Anda sudah menyinggung harga diri agamaku .Bapak seolah olah mengatakan bahwa Yesus Kristus itu sebangsa Roni. Anda kelewat batas !”

Aku hanya mengangkat bahu  . Masa Bodoh. Dan pembicaraan sore itu  berakhir begitu saja.

Hari hari selanjutnya  berjalan biasa-biasa saja. Pak Ferdinan Heru dan Roni juga tampak biasa-biasa saja. Padahal tidak demikian. Aku bisa merasakan Roni sedang berubah. Ia tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan dingin. Di luar sekolah sering terlihat memakai wangi-wangian dan pakaian bagus.  Pak Heru kelihatan membatasi diri dalam berbicara denganku.  Tetapi ini tak berlangsung lama.

Seminggu kemudian sore hari setelah sekolah bubar dan semua kelas sudah kosong. Pak Heru masuk setelah mengetuk pintu dan aku sedang  bebenah mengakhiri  tugasku.

“Belum pulang Pak ?’ tanyanya kepadaku sambil duduk di bangku kosong di seberang meja.

“Sebentar lagi. Tinggal sedikit . “ kataku sambil membenahi lembaran-lembaran kertas ulangan.

Untuk beberapa  saat ruangan kelas sepi.Sambil menunggu saat yang tepat untuk bicara denganku pegawai TU itu menatap berbagai gambar yang ada di dinding kelas.

“Saya sangat terkesan dengan  akhir diskusi kita tempo hari .” Pak Heru mulai bicara Suaranya memecah keheningan kelas. “Ucapan Pak Sur yang mengatakan bahwa Tuhan adalah bapakku sangat meninggalkan kesan yang dalam yang membuat saya berpikir lain tentang  agama. Terutama agamaku.” aku masih diam. Memberi kesempatan Pak Heru melanjutkan

“Ucapan Pak Surya kemarin benar-benar membuka cakrawala baru tentang perkembangan berbagai agama khususnya tentang agamaku sendiri.……..”

“Maaf saya kemarin tidak berniat atau bermaksud bicara soal agama.” aku langsung memotong.

“Ya…ya… saya mengerti , sangat mengerti. Biarkan saya selesaikan penjelasan saya.” Pak Heru juga langsung memotong ucapan ku.

“Sejak lima malam yang lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa para nabi itu adalah manusia ideal yang di ciptakan Tuhan agar menjadi contoh manusia lainnya……” berhenti sebentar  menatapku.” Kalau Pak Surya pernah mendengar cerita menjelang kelahiran Yesus, anda pasti sependapat denganku.” Berhenti sebentar menatapku lagi. Dan melanjutkan

“ Semua berawal dari ramalan bahwa akan lahir seorang bayi laki-laki yang akan menjadi raja agung. Berita ini tentu saja membuat penguasa yang sah tidak rela. Lalu keluarlah perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki di seluruh wilayah kekuasaannya, Sang Raja takut kalau dinastinya jatuh karena adanya bayi baru yang akan menjadi raja besar. Perbuatan biadab itu berdampak jauh dan lama . Kira-kira 16 tahun kemudian setiap bayi lelaki yang selamat dari pembunuhan setelah dewasa menjadi sangat bangga dan sangat mengidolakan bapak sebagai juru selamat yang menyelamatkan anaknya dari pembunuhan masal. Dalam anggapan mereka berkat perjuangan bapaknyalah dia bisa terus hidup. Akhirnya di jaman itu semua pemuda sangat mengidolakan bapaknya. Yang tidak mempunyai bapak cepat-cepat mencari bapak angkat dan dijadikan idolanya sebagai juru selamat. Diantara pemuda itu ada yang kecewa karena tidak pernah mempunyai bapak yang ideal. Yang kecewa itu bernama Yesus dari desa Nazaret. Dalam kegalauan itulah turun  semacam petunjuk atau istilah Jawanya “Pepadang “dari Allah yang isinya bahwa kalau kau mencari manusia yang ideal dan pantas di  jadikan bapakmu,maka usahamu itu pasti sia-sia, karena manusia ideal itu tak pernah ada. Namun kalau kau ingin mempunyai  bapak yang ideal maka akulah Tuhanmu, yang pantas menjadi bapakmu . Dan kau adalah puteraku……” Begitulah yang ingin kuceritakan kepadamu Pak Sur.” Pak Heru mengakhiri ceritanya dengan puas dan nafas terengah-engah. Rupanya Pak Heru sangat serius dengan ceritanya yang terinspirasi dari gagasanku. Setelah itu suasana semakin sepi dan rembang petang mulai menyelimuti ruang kelas. Lampu  yang hanya 15 watt tidak mampu menerangi seluruh ruangan.

“Tengkuk saya meremang Pak!” kataku setelah lama diam.  ”Bukan hanya riwayat kelahiran nabi Isa  R.a itu sendiri yang luar biasa, tetapi cara Anda bertutur sangat memukau. Bayangkan  andaikata cerita itu itu sampai terucap lewat mulut saya maka saya bisa dianggap pencipta onar dan mengganggu kerukunan umat beragama. Padahal sejak semula ide saya hanya berniat memberi peluang kepada Roni bahwa kalau ia kerepotan mencari bapak yang baik , jangan tanggung-tanggung. Anggap saja Tuhan itu bapakmu. Hanya itu yang ada di kepalaku. Jadi bukan membuat atau meniru cerita-cerita dari kitab suci.” aku memberi penjelasan berkaitan dengan ucapanku  yang menyebabkan timbulnya gagasan yang luar biasa dari Pak Heru.

Waktu terus berjalan.

Berbulan-bulan kemudian perdebatan soal Roni yang mencari bapaknya pun akhirnya terlupakan  Apalagi sejak Roni  sudah menyelesaikan ujian akhir SMPnya tak pernah bertemu lagi denganku  Hanya menurut berita yang kuterima kini Roni selalu tampil trendi .Tampaknya yang tidak berubah hanya aku dan Pak Heru yang masih setia mengurusi siswa-siswi SMP Bakti Pertiwi. Setiap tahun kami berdua selalu “mengasuh “ dan “mendidik  “ anak-anak dari kelompok masyarakat lapisan bawah yang tak pernah mempunyai cita-cita yang pasti tentang hari depannya .

Pada suatu sore , ketika ruang kelas  sepi karena sekolah sudah bubar, di luar dugaan dengan sopan masuklah Roni kedalam kelas di mana saya dan Pak Heru sedang  ngobrol. Roni tampil trendi , harum dan percaya diri.

“ Saya datang hanya untuk minta maaf karena dulu tidak sempat pamit.”kata Roni langsung.

“Saya senang kau masih ingat kami berdua yang biasanya pulang sekolah bersama-sama.”

“Saya juga sering ingat hal itu Pak. Karena itu kini saya sempatkan pamitan.”

“Kau sekarang ada di mana, sekolah atau bekerja.”

“Saya sekarang di Pasar Induk Kramat jati. Tidak sekolah . tetapi bisnis !”ucapnya meyakinkan.

“Apa kau sudah pamit ke Bu Jenab, Bu Emy dan ibu kandungmu  ?”

“Sudah ! Saya sudah menginap dua malam di Bu Jenab, dan sudah ketemu emak. Dan kesini untuk pamitan.” Jawab Roni tetap sopan.

“Syukurlah kami gembira !” jawab kami berdua serentak, dan Roni memutar badan keluar .

“Sebentar Ron ! saya ingin bertanya satu hal. Apa kau keberatan ?” tanya Pak Heru tiba-tiba.

“Apa  itu Pak ?”

“Apa kau sudah ketemu bapakmu ?” aku terkesiap mendengar pertanyaan Pak Heru ini

“Sudah pak ! Saya sudah ketemu !” jawab Roni dengan tersenyum  percaya diri.

“Siapakah ?” Pak Heru semakin berani, dan aku hanya berdoa semoga Roni tidak marah.

“Pasar ! Pasar-induk  adalah bapakku !”  Roni percaya diri dan tetap tersenyum penuh arti.

“Jadi begitu ya …..!” Pak Heru manggut-manggut .kelihatan masih penasaran.

“Boleh saya tanya lagi ?” Pak Heru  nekad  bertanya. Hati saya berdebar.

Roni diam hanya matanya menatap tajam kami.

“ Apa nasihat bapakmu ?” sekali lagi aku terkesiap dan tegang.

Dengan wajah tegang sambil berjalan keluar Roni menjawab

Pasar tidak ramah kepada orang miskin !”  .

 

 

 

 

Dipublikasi di Tak terkategori | Meninggalkan komentar

cerita tentang citra

(Oleh Bintangrina )

Malam ini dari kamar indekosannya yang baru  ia mendengar lagi lagu lama yang meninggalkan kesan yang dalam di hatinya.Bukan dari radio atau TV melainkan  dari warung kopi dan mie rebus yang ada di seberang rumah indekosannya. Penyanyinya Sutarji ,anak angkat pemilik warung . Dia bernyanyi sambil bermain gitar.

“Ternyata masih ada juga yang menyanyikannya. “ pikirnya dan membiarkan lamunannya hanyut mengikuti irama lagu tadi dari kamarnya yang sunyi.

“Terlalu indah untuk di lupa ,Terlalu sedih untuk di kenang

“Setelah jauh aku berjalan…….

Penghayatan atas lirik lagu  KoesPlus itu telah mengembalikan ingatannya ke masa remajanya  yang terlalu cepat ditinggalkan dengan cara menyakitkan dan mempermalukan  orang tuanya.

Hidupnya mulai kacau ketika dia baru lulus SMA dengan nilai pas-pasan.

 

“Dengan nilai kelulusan pas-pasan seperti itu seharusnya kau tahu diri !” kata ayahnya menahan marah kepada Rosita ,anak gadisnya , yang ingin kuliah.Tetapi sang anak tidak terpengaruh oleh ejekan dan kejengkelan  bapaknya ,dan tetap memaksa orang tuanya agar dirinya bisa meneruskan  pendidikannya ke perguruan tinggi.

Akhirnya  orang tuanya menuruti tuntutan anaknya karena ancaman kabur sang anak .

Rosita kemudian memang bisa kuliah walaupun hanya di perguruan tinggi Abal-Abal  alias perguruan tinggi tak berijin. Orang tuanya tak tahu , tak perduli dan tak penting. Yang penting anaknya tidak benar-benar minggat. Untuk itu ia telah berhutang banyak ke pemilik bengkel di mana dia bekerja. Rosita yang mengetahui tentang hutang bapaknya dan tentang universitas abal-abal  juga tidak perduli dan tidak penting. Bisa menyandang atribut mahasiswi itulah yang terpenting. Dengan sebutan mahasiswi ia berkhayal bisa nampang, bisa sering pesta-pesta dan bernyanyi. Itu keinginannya sejak SMA . Ia suka pesta senang bernyanyi dan suaranya di akui oleh teman-temannya memang bagus.

Tetapi baru satu setengah tahun kuliah dan belum terkenal  sebagai mahasiswi cantik dan bersuara merdu , ia harus mengalami kekecewaan karena pesta-pesta atau makan-makan di restauran mewah yang pernah di impi-impikan belum juga dialami.Masalahnya bukan kemewahannya yang tidak ada ,melainkan karena ia tak di ajak teman-temannya.

Di kampus universitas “Abal-abal” itu hanya mahasiswa anak orang super kaya saja yang bisa menjadi anggauta – Geng Pelangi Citra –  Konon dengan iuran bulanan sekian ratus ribu rupiah, dan mempunyai mobil pribadi , seseorang baru bisa  makan-makan mewah serta malam mingguan di klub malam terkenal. Sedangkan Rosita hanya mahasiswi kelas teri, dengan make-up wajah sekedarnya  dan kalau ke Mall harus naik angkot atau bergelantungan di bus kota . Tentu saja dengan kondisi semacam itu  ia tidak pernah mampir ke kafe ,minum coffe latte serta menggigit hamburger.

Tetapi faktor yang memperparah dan mempercepat dirinya meninggalkan kuliahnya ada di luar itu semua. Ia telah hamil di luar nikah. Pacarnya yang kaya, gagah dan anggauta Grup Pelangi Citra langsung berganti pacar tanpa merasa bertanggung jawab ketika tahu bahwa dirinya telah membuat Rosita hamil. Malahan si pacar dengan sikap pongah mengatakan bahwa sejak semula ia tidak pernah menyukai Rosita . Kalau Rosita atau siapapun tidak terima dan  mau berperkara ke Pengadilan atau bahkan ke grup Preman ganas silakan saja.

“Paling-paling saya harus membayar sedikit uang dan mencarikan lelaki yang mau mengakui anak yang ada di dalam perutmu, yang belum tentu anakku !” katanya sinis.

Itulah saat-saat yang paling membuat dirinya sangat tidak berharga, dan di waktu itulah ia menyadari bahwa dirinya memang anak keluarga miskin bapaknya hanya montir bengkel  biasa.

Kalau semula Rosita berhasil menekan orang tuanya dengan ancaman kuliah atau kabur, setelah dirinya hamil maka kini orang tuanya ganti mengancam “Pergi dan tak usah kembali” kecuali melunasi semua hutang-hutang orang tuanya. Impian tentang dunia mewah berbuah penyesalan.

 

Suara letusan yang keras di jalanan  mengejutkan dan membuyarkan lamunannya. Rosi bergegas bangkit dan melongok keluar lewat jendela. Terdengar celoteh bercampur makian lalu  di jalanan tampak dua orang mendorong sepeda motor menepi.Sepeda motor tukang ojek yang sedang melintas tiba-tiba pecah ban menimbulkan suara letusan.  Hanya itu. Setelah tahu duduk persoalannya Rosi kembali menutup jendela dan tidur.

Keesokan harinya dengan lesu ia berangkat kerja. Kesibukan Mall yang meningkat  membuatnya lupa akan kegelisahannya. Namun sore hari menjelang pulang kegelisahannya datang lagi. Teman lelaki yang baru dikenalnya  minggu lalu , yang menjemput dirinya dengan motor bebeknya ditolak secara halus.

“Mengapa ?”

“Karena aku sedang ingin sendiri.” jawab Rosita datar.

“Sampai kapan ?”

Rosita hanya mengangkat bahunya.

 

Petang hari setelah makan malam Rosi ke kios di ujung jalan untuk membeli beberapa keperluan. Pulangnya bertemu Sutarji ,anak lelaki yang bermain gitar hampir setiap malam . Karena rumahnya ada di depan pondokan Rosi maka otomatis mereka berjalan pulang bersama.

“Tak kuduga kau pandai bernyanyi dan bermain gitar  .” Rosita menyapanya.

“Ah hanya beberapa lagu saja. Aku suka lagu yang mudah dinyanyikan juga   genjrengan gitarnya sederhana. Cocok untuk ngamen di bus.”

“Lagu apa saja yang kau senangi ?”

“Beberapa lagunya KusPlus , dan lagu yang dipopulerkan lagi oleh Meriam Belina, terutama lagu – Untuk sebuah nama.”

“Tetapi caramu bernyanyi dan memetik gitar terasa sekali bahwa kau sangat menghayati lagunya. Apalagi kalau itu lagunya KusPlus maka, sangat jelas kalau kau menghayati isi lagu itu.Tidak heran kau berulang-ulang menyanyikannya.

“Rupanya Kakak bosan ya mendengarnya ?”

“Tidak! tidak demikian. Sebaliknya aku suka. Kau tahu kan aku baru tiga bulan indekos disini, yang membuatku betah disini antara lain adalah lagu-lagu yang kau nyanyikan hampir setiap malam. Dan caramu bernyanyi juga bagus.!” Rosi buru-buru menjelaskan dengan jujur agar Tarji tak salah paham.

“Aku menyukai lagu itu karena lagu itu adalah lagu pertama yang bisa kunyanyikan sambil main  gitar.” Tarji menjelaskan.

“Siapa yang mengajarimu bernyanyi ?”

“Teman-teman sesama pengamen dan kakak-kakak LSM di Rumah singgah.” Tarji menjelaskan  dan meneruskan “Tetapi Emak yang memberi tahu cara bernyanyi yang baik.”

“ Berarti Emakmu ibu yang baik. Tetapi aku tak pernah melihatnya. di mana dia sekarang ?” tanya Rosi . Setelah itu ia menyesal telah menanyakan emaknya, karena ia telah mendengar cerita bahwa emaknya pergi entah kemana.

“Kata Abah Ocim emak pergi jauh. Entah ke mana dan dimana” Tarji menjawab jujur.

“Suatu saat ia pasti akan mencarimu Ji .” Rosi menghibur dan hatinya ikut resah.

“ Abah Ocim juga berkata demikian. Malahan  kata Abah kalau saya menyanyikan lagu kesenangan emak  maka Tuhan pasti akan menyampaikan perasaanku kepada Emak !”

“Apakah itu juga lagu kesenangan Emakmu ? Itu lagu sudah lama sekali.”

“Ya . Emak paling bangga kalau aku menyanyikan lagu itu. Tetapi Emak sekarang ada di mana aku tak tahu. “ Sutarji galau.

“Kupikir pendapat Abah Ocim benar.  Tuhan pasti akan menyampaikan rasa rindumu kepada Emakmu lewat lagumu sampai suatu hari,entah kapan, di saat yang tepat ia datang untukmu !” Rosita menjawab dengan perasaan tersendat menahan kesedihan karena saat itu  Rosita ingat anaknya yang juga terpaksa  ditinggal.

“Sampai disini kita berpisah. Kau belok kiri aku ke kanan. Daaag.” Rosi pamit

 

Sesampainya di kamar Rosi langsung merebahkan dirinya ke tempat tidurnya. Tak lama kemudian telinganya mendengar lagi lalu lama itu yang dinyanyikan dengan apiknya oleh Sutarji  Lagunya KusPlus yang senantiasa menghanyutkan kenangannya ke masa-masa yang mengaduk-aduk jiwanya.

Terlalu indah untuk di lupa,

Terlalu sedih untuk di kenang.

Setelah jauh aku berjalan…………..

Dipeluknya gulingnya erat-erat  untuk melupakannya. Semua menjadi kacau gara-gara perilakunya yang  hanya memenangkan rasa amarahnya karena dihianati oleh pacarnya.

“ Kini  anakku berumur 3 tahun. Kukira ia pasti cantik karena aku ibu kandungnya cantik, dan juga pasti bersuara bagus.Tetapi di mana dia. Aku selalu merindukannya .” keluhnya dalam hati sambil menutup wajahnya dengan bantal.Tanpa dikehendaki kenangan lain yang paling menyedihkan muncul lagi.

Hari itu adalah hari yang paling mengguncangkan seluruh jasmani dan rokhaninya. Anaknya  perempuan,lahirnya lancar beratnya 3 Kg lebih sedikit . Ia sempat menyusui sampai tujuh hari lalu ia harus berpisah karena anaknya ada yang mengadobsi. Waktu itu ia tak bisa berpikir atau berkata apa-apa. Ia dalam keadaan yang sangat asing bukan saja dengan pengalaman melahirkan yang pertama , dan tempat di mana dia melahirkan, tetapi juga orang-orang yang menolong dan membantu mencarikan bidan  dan terutama sepasang manusia yang akan langsung mengadobsi bayinya. Ia benar-benar kacau dan tak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingat salah seorang familinya mengatakan bahwa bayinya perempuan cantik dan di pangkal tengkuknya  yang sebelah kiri belakang si bayi ada tahi lalat  sebesar biji kedelai warnanya hitam. Hanya itu yang diingatnya. Setelah itu sampai hari ini ia tidak pernah melihat anaknya lagi. Kalau menurut kata orang yang mengadobsi  anaknya waktu itu, konon sebulan paling lama dua bulan setelah ia melahirkan  ia akan melupakan bayinya , seperti cerita para gadis yang mengalami nasib sama dengan dirinya.

 

Sampai seberapa jauh ia bisa merasakan kebenaran ucapan itu  ia tak pernah tahu soalnya sampai saat ini ia tak bisa melupakan anaknya. Rosita memang tidak terlalu merindukan si bayi, tetapi ia juga tidak bisa melupakannya. Ia mengira bahwa waktu akan  menyembuhkan segala-galanya, termasuk melupakan bayinya. Tetapi kapan itu ? Ia sering berandai-andai ,andaikata ia yang merawatnya kira-kira sudah seberapa besar anaknya kini.

Seharusnya berbagai pertanyaan di atas bisa membuat dirinya menjadi pemurung atau temperamental seperti kata beberapa orang. Tetapi nyatanya malah sebaliknya.  Ia menjadi wanita yang ramah, suka menolong dan membantu orang lain baik diminta maupun tidak .Pokoknya secara perilaku ia menjadi lebih baik. Juga kebiasaannya bercanda dan suka bernyanyi tidak hilang, malahan bakatnya di rawat dengan baik-baik. Perubahan itu tak terjadi secara otomatis, melainkan berkat sebuah buku yang di ketemukan ketika ia sedang membersihkan calon kamar indekosannya yang baru. Ia menemukan sebuah buku catatan entah milik siapa , yang pasti milik anak yang pernah indekos disini.Seperti bukunya anak kuliahan.

Buku itu sudah lusuh dan kumal terselip di pojok antara ranjang kayu dan tembok. Tetapi yang luar biasa buku kumal tadi berisi semacam petunjuk atau nasihat budi pekerti utama yang tidak menggurui , tetapi cukup  kuat memacu dirinya mau mempraktekkannya dalam perilaku sehari-hari. Berkat isi buku tadi Rosita mampu bangkit dari frustasinya Selanjutnya walaupun ia akhirnya berpindah-pindah indekosan demi mendekati tempat kerjanya , buku kumal tadi tetap dibawa dan dibacanya berulang-ulang.

 

Suatu sore ketika Rosita sedang berebut menunggu angkot yang akan membawanya pulang tiba-tiba terdengar klakson di bunyikan berulang-ulang dari truck mini bak terbuka dan di sela-sela suara klakson itu terdengar namanya dipanggil-panggil bunyinya keras mengalahkan kenek angkot yang juga sedang berteriak-teriak mencari penumpang. Mula-mula Rosita kurang menghiraukan walaupun namanya dipanggil-panggil karena yang memanggil biasanya para kenek angkot yang sudah kenal dan menawarkan  angkotnya. Setelah si sopir menjulurkan kepalanya ke jendela lebih panjang sambil terus memanggil panggil namanya , Rosita baru tahu bahwa sopir truck tadi memang memanggil dirinya. Lalu dengan bergegas Rosita mendatangi sopir tadi.

“Tarji ? apa kau memanggilku ….?”

“Betul ! Cepat naik Kak !” kata Tarji lebih keras

“Kemana ….?,kan ini  sudah sore dan saya harus segera pulang. Saya capai Ji !”

“Saya juga mau pulang !Ayo cepat naik. Tuh di belakang sopir angkot pada marah  karena saya berhenti disini . Cepat naik Kak !” begitu Rosita naik,tanpa menunggu pintu di tutup truck mini berangkat.

“Kak Ros kemana saja sudah sebulan tidak terlihat. Menurut Mbah Surip kakak menginap di rumah temannya. “ tanya Tarji sambil mengendalikan truck mininya.

“ Betul ! Saya diminta teman membantu menyelesaikan persoalan pacarnya dan sekaligus dapat order bernyanyi di sebuah café . Lumayan untuk menambah penghasilan . Kini sudah selesai.”  Rosita berkata sambil menengok ke belakang, dan menggelengkan kepalanya kearah kenek angkot yang kecewa karena penumpangnya naik truck mini.

Tarji anak tetangga yang umurnya baru sekitar 20 tahun ini sangat dekat dengannya. Selama ini apapun yang dibicarakan dengannya selalu bersuasana riang.

“Bagaimana keadaan Abah ? Katanya emakmu datang . Kau pasti senang sekali !” tanya Rosita dengan wajah cerah. Entah kenapa asal berbicara dengan Sutarji suasana hati Rosita selalu merasa ringan . Mungkin karena Ia sangat simpati kepada nasib sutarji yang di perlakukan kurang manusiawi justru oleh ibu kandungnya.Suatu peristiwa yang jarang terjadi.

“Itulah yang ingin saya ceritakan kepada Kak Ros. Malahan seminggu yang lalu Abah dan Emak resmi menikah . Ternyata benar apa yang dikatakan oleh para tetangga. Abah dan Emak sudah lama saling jatuh cinta..” Sutarji bercerita sambil tertawa aneh dan membuang muka.

“Mengapa kau tertawa ?”

“Ah tidak. “ kata Tarji sambil cengar-cengir. Karena penasaran Rosita terus mengejar dengan pertanyaan yang sama. Setelah diulang beberapa kali dengan wajah serius akhirnya sambil terus tertawa Sutarji bertanya kepada Rosita apakah Emaknya nanti akan hamil dan mempunyai bayi lagi . Pertanyaan itu mau tak mau juga membuat Rosita tertawa tertahan, membayangkan emaknya Tarji hamil dan Abah yang sudah kakek-kakek akan menjadi ayah lagi. Padahal Rosita belum pernah melihat emaknya Tarji.  Rosita akhirnya tidak menjawab hanya tertawa. Tarji juga tidak berharap ada jawabannya , soalnya Tarji tahu jawabnya memang tidak ada . Di pikiran pemuda yang baru gede pernikahan dan percintaan orang tua adalah ganjil dan lucu.

“ Kalau nanti Kak Ros ke rumahku pasti kaget soalnya penghuninya bertambah lagi. Jadi makin ramai lagi sekarang, bukan soal langganan saja , melainkan juga paman Santo datang bersama anaknya yang berumur 3 tahun.”

“Rumahmu benar-benar ramai. Tuh kelihatan dari sini.” Rosita berkata  sambil turun dari  truck.

“ Terima kasih atas jemputannya. Besok saya bisa berkenalan dengan Emakmu dan keluarga Mang Santo.”

“Jadi malam ini Kak Ros belum mengunjungi emakku ?”

“ Belum soalnya malam ini aku harus mencuci pakaianku yang sudah menumpuk.Pokoknya besok pagi aku akan kesana bertemu dengan emakmu dan juga keluarga pamanmu. Daaag!”

Keesokan harinya setelah sarapan dan selesai menjemur pakaian, Rosita ke warung. Sutarji jelas  sudah berangkat ke toko material. Sesampainya disana hanya ada dua lelaki dan seorang pembeli, Abah dan lelaki muda gagah, dia pasti adiknya Abah. Tak ada seorang wanita pun di sana . Padahal tujuannya kewarung ini ingin berkenalan dengan emaknya Tarji. Suasana warung masih sepi, maklum masih pagi. Rosita disambut ramah oleh Abah . Setelah berbasa basi menanyakan khabar menghilangnya Rosita selama sebulan ini , Abah mengenalkan adiknya kepada Rosita. Sambil berkenalan pandangan mata Rosita menyapu seluruh warung. Yang dicari tidak ada. Ketika Rosita akan melepaskan salamannya dengan Santo ternyata lelaki itu belum melepaskan genggaman tangannya sehingga  Rosita terpaksa menatap wajah Santo kemudian ke tangannya yang belum terlepas.Memberi isyarat agar tangannya di lepas.

“Siapa yang kau cari …?” Santo bertanya dengan sorot mata yang tajam.

“Emaknya Tarji di mana Bah ? saya kan belum kenal ?” tanyanya sambil melepas tangannya.

“Ooo dia sudah pergi tadi pagi-pagi sekali, mengantar  Ririn ke puskesmas !”

“Siapa Ririn itu ?”

“Dia anak Santo.” kata abah sambil menunjuk ke adiknya yang baru saja berkenalan dan telah kembali ke belakang meja warung melayani pembeli yang memesan mie rebus..

“Anak itu sakit apa ?”

“Yah namanya anak-anak. Dia pasti kelelahan naik bus dari Tanjung Karang.”

“Ya dia pasti kelelahan .” Santo menambahkan. “Perutnya juga kembung.”

“Kasihan sekali. Dari Tanjung Karang ke sini kan jauh.”berhenti sebentar “ Kalau begitu saya pamit dulu Bah . Selain ingin ketemu Emak juga ingin berknalan dengan emaknya Ririn. Nanti sore saya kesini lagi.”

Bersamaan dengan diakhirinya kalimat Rosi, tiba-tiba Abah dan Santo saling pandang. Santo wajahnya pucat.

“Ada apa Bah? Apa yang salah dengan ucapan saya ?”Rosita heran.

“Tidak !…..tidak…..tidak ada yang salah hanya…….” kata Abah sambil menengok  adiknya yang tiba-tiba menunduk  sambil membuang muka . Ada tangis tertahan.

“Ibunya Ririn telah meninggal dunia tiga bulan yang lalu. Setelah itu Ririn sering rewel.” Abah menjelaskan derita yang harus di hadapi Santo. Setelah itu semua tenggelam dalam sepi.

“Karena di Tanjung Karang tidak mempunyai saudara, dan para tetangga  yang ada di sana adalah orang-orang sibuk serta kurang cocok, maka Santo membawa anaknya kemari.

“Permisi dulu Bah dan Bang Santo. Nanti sore akan ke sini lagi. siapa tahu bisa menghibur Ririn.”

“Terima kasih sebelumnya.” Kata Abah dan Santo hampir bersamaan. Sepeninggal Rosita kedua lelaki itu masih diam. Abah membeku dengan pikiran kosong, sedangkan Santo resah.

”Mau  kemana kau ?” tanya Abah kepada adiknya

“Membelah kayu ! agar pikiran saya tidak ke mana-mana.”jawab Santo sambil kebelakang warung. Di tempat itu memang banyak potongan-potongan kayu bekas bangunan yang di beli murah oleh Sutarji dan dibawa pulang  untuk kayu bakar  dapur warung abahnya.

“Hati-hati kayu bongkaran banyak pakunya. Kalau beradu dengan kampak bisa rusak

 

Sebetulnya bukan hanya Santo saja yang resah  Rosita juga demikian. Wanita muda itu hatinya mudah tersentuh setiap kali bicara soal anak kecil . Cerita tentang kematian ibunya Ririn mengingatkan dia akan anaknya , yang kini entah di mana. Kalau kini Ririn tak mempunyai ibu lagi , itu memang kehendak Gusti Allah, akan tetapi  perpisahan anak kandungnya dengan dirinya bukanlah kehendak Gusti Allah melainkan karena nafsu pribadinya yang tak ingin bertanggung jawab, yang malu mempunyai anak tanpa pernikahan yang sah. Ia ingat dirinya masih sempat menyusui anaknya dan yakin anaknya juga pasti masih sempat merasakan kasih sayang ibunya .

“Anakku pasti masih bisa merasakan betapa bahagianya tidur dalam pelukanku.” berhenti sebentar.  “ Tetapi hanya tujuh hari. Ya Tuhan hanya tujuh hari……Setelah itu ….setelah itu semua dicabut dari dirinya oleh sepasang manusia yang mau mengadobsi bayinya. Kalau dikatakan pasangan yang mengadobsi bayinya itu manusia jahat, maka dirinyalah yang lebih jahat dan kejam sebab di biarkan bayinya di bawa orang lain tanpa perjuangan mempertahankannya, malahan ia mendapatkan uang banyak atas adobsiannya tadi. Konon  uang tadi untuk membayar hutang bapaknya kepada pemilik bengkel, ketika dirinya memaksa karena ingin kuliah. Tetapi sampai seberapa jauh kebenarannya ia tak tahu, karena sehabis melahirkan ia tak mau pulang lagi  malahan nomor HP nya di ganti sehingga hubungan dengan orang tuanya sama sekali terputus.” Rosita menyesal dan merasa  bersalah. Tetapi itu sudah terjadi sekitar hampir tiga tahun yang lalu.

“Anakku seharusnya tidak perlu kehilangan ibu-kandungnya karena ibunya yaitu diriku  masih ada. “ Pikiran Rosita kacau. “Duh Gusti Allah ampunilah kebodohanku. Semoga anakku dimana pun dia berada ada dalam asuhan wanita yang penuh kasih sayang.” Doa nya.

 

“Hai Rosi! kalau bekerja yang benar. Jangan seperti orang melamun begitu ! Begadangnya  di café, pestanya di café , tetapi telernya di sini !” kepala regu kerjanya menegur .

“Maaf….sekali lagi maaf !” Rosita geragapan dan memperbaiki kerjanya. Tetapi sampai jam tugasnya berakhir dia tidak pernah bekerja dengan tenang.Pikirannya  selalu ingat Ririn, anak 3 tahun yang belum di lihat dan di kenal. Anak itu nasibnya pasti sama dengan anakku

 

Waktu pulang tiba hatinya senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Ririn.Ia akan menyediakan waktunya, hatinya dan jiwanya untuk menghibur Ririn. Ririn akan dianggap sebagai anaknya. Itulah tekadnya.Hatinya bertambah mekar ketika dari tempatnya berdiri ia melihat di seberang jalan  tampak Sutarji sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. Pemuda itu naik motor. Itu jelas motor ojek temannya yang dipinjam untuk menjemput dirinya. Entah mengapa Rosita tiba-tiba merasa bahwa Sutarji sengaja datang menjemput dirinya padahal sebelumnya tak ada perjanjian. Agar yakin Rosita bertanya  kepada Sutarji ,

“Maaf sebenarnya kau mau kemana atau baru dari mana  ?”

“Saya sengaja kesini memang untuk menjemput Kak Ros !”

“Terima kasih sekali. Sepertinya ada yang penting.”

“Bagiku memang ada. karena itu aku menjemput Kak Ros.”

“Coba ceritakan alasanmu .” Rosita mulai gelisah.Dan Sutarji langsung bercerita.

 

“ Tadi sore Emak sedang mandi dan Ririn masih tidur. “ Tarji mulai bercerita sambil menyetir motornya pelan-pelan.  “Rencananya setelah mandi maka emak akan mulai mempersiapkan masak  soto kuning sebagai dagangan nanti malam dan besok pagi. Tetapi di luar dugan Ririn yang sedang sakit bangun dan menangis. Tentu saja yang menggendong Mang Santo. Ternyata Ririn terus rewel, walaupun telah digendong oleh emak. Anak 3 tahun itu terus saja menangis padahal  sudah diberi susu juga bubur  untuk bayi. Dan tak henti-hentinya  memanggil-panggil ibunya. Emak, Abah juga Mang Santo terus berusaha menenangkan . Tetapi anak itu tak mau diam. Ia berontak berguling-guling di tanah sambil menangis menjerit-jerit memanggil-pangggil bundanya yang sudah almarhum. Dalam keadaan panik tadi kudengar Mang Santo  bertanya kepada Abah apakah Rosita kira-kira mau menolong seperti janjinya tadi pagi? Dan  Abah menjelaskan bahwa Rosita hanya tetangga dan ia karyawati Mall selain itu ia juga penyanyi Cafe. “Jadi jangan berharap Rosita sempat menolongmu .” kata Abah.

“Lalu apa kata Bang Santo?” tanya Rosita sedikit terkejut dan ingat tadi pagi sambil pamitan sempat menawarkan tenaganya membantu mengasuh Ririn.

“Apakah Kak Ros memang berjanji kepada Mang Santo ?”

“Memang benar !”

“Jangan berbasa-basi begitu Kak. Kasihan Mang Santo. Hatinya kacau tak mampu menenangkan anaknya dan  akhirnya hanya bisa diam.”

“Lalu ada apa lagi dengan Ririn?” panik

“ Tidak ada ! hanya Ririn menangis memanggil ibunya berulang-ulang.”

“Kasihan Ririn. ! Tadi pagi saya memang sudah berjanji dan bukan basa-basi !….. Ayo kebut !” kata Rosita.

“Mang Santo tadi sore sudah sangat panik sampai  mengatakan ia mau mengganti semua ongkos dan mau mengupah Kak Ros asalkan mau membantu menenangkan Ririn. Tanpa malu-malu Mang Santo  menangis sambil bercerita  bagaimana istrinya menyayangi Ririn dan sangat memanjakan Mang Santo karena dengan gigihnya mempertahankan Ririn sebagai bayinya!”

“Jadi Ririn bukan anak kandung mereka ?”

“Bukan !.”

“Barusan kau bercerita katanya Mang Santo mempertahankan bayinya ! Apa maksud mempertahankan tadi ?” Rosita bersuara keras untuk mengatasi suara mesin motor.

“Saya tidak tahu. Nanti saja tanyakan langsung ke Mang Santo kalau sampai di rumah. Tidak enak bicara sambil menyetir motor!”

Sesampainya di rumah Rosita cepat-cepat mandi dan sedikit makan snack lalu bergegas ke rumah Abah. Warungnya kini tampak lebih terang, bersih dan lebih ramai. Soalnya yang di jual bukan hanya mie rebus dan kopi saja, tetapi juga soto Jakarta atau soto kuning. Rosita langsung ke dapur dan berkenalan dengan emaknya Tarji. Tetapi setelah di dalam dan berkenalan dengan Mak Tarji ia tak melihat ada Ririn.  Bang Santo juga sedang ada di belakang warung membelah  kayu menjadi potongan pendek-pendek dan kecil-kecil.

“Kemana Ririn……katanya dia sakit….?”

“Dia memang sakit, kata bu Bidan ia kelelahan dalam perjalanan yang jauh. Tetapi kini telah tidur, Satu jam yang lalu bu Bidan datang lagi memberi obat.

“Maafkan saya  terlambat pulang. Padahal tadi pagi sudah berjanji akan membantu mengasuh Ririn.” kata Rosita dengan rasa bersalah.

“Tidak apa-apa Ros. Kan ada Mpok .” Terdengar suara Santo dan Rosita memutar badan.

“Ririn…….?”

Dia sudah tidur .” Santo menjelaskan sambil menunjuk ke kamar di belakang warung.

 

Seminggu telah berlalu. Hubungan Rosita dengan Ririn sangat baik. Mak Tarji mengajari Ririn memanggil Rosita dengan bulik, dan anak itu menurut. Kedekatan Rosita dengan keluarga Abah Ocim semakin baik berkat Ririn dan Tarji demikian pula hubungan Rosita dengan Santo. Ternyata Santo lelaki yang gagah dan tampan itu pemalu dan sering kikuk. Rosita sendiri akhir-akhir ini mempunyai kesibukan lain yaitu menjadi penyanyi café seminggu tiga malam dan baru pulang setelah pukul 24 malam.Keesokan harinya ia masih harus bekerja sebagai karyawati di sebuah Mall sehingga baru bisa menemui Ririn sore harinya sepulang kerja. Hampir setiap sore menjelang Rosita pulang Ririn sudah ada bersama Santo di halaman depan dan langsung berlari ke jalan menyongsong Rosita yang baru pulang dan turun dari ojek atau angkot. Demi keselamatan Ririn mau tak mau Santo harus menemani dan menjaganya agar Ririn tidak jatuh atau lari ke tengah jalan. Inilah sebenarnya yang membuat dua anak manusia itu semakin dekat. Tarji berkhayal pasti sangat bangga bila mempunyai bibi Rosita yang bukan hanya cantik tetapi juga suaranya merdu.Tarji pernah dua kali diajak ke café dimana Rosita bernyanyi dan dikenalkan dengan para penyanyi dan pemain bandnya. Hampir semingggu sekali Rosita selalu membelikan rok , atau pakaian atau mainan untuk Ririn.

Pembelian pakaian dan perlengkapan bayi lainnya ini yang kemudian membuat Santo segan, malu dan minder. Selama ini bahkan jauh sebelum istrinya meningggal ia tidak pernah berpikir membelikan sesuatu untuk Ririn. Semuanya di serahkan kepada almarhumah istrinya.

Tiga minggu berikutnya Santo mendapat pekerjaan sebagai  Sopir Travel, yaitu kendaraan khusus antar jemput penumpang jarak jauh. Kesibukannya ini membuat Santo semakin jarang bertemu dengan Ririn maupun Rosita. Sebaliknya hubungan Ririn dengan Rosita semakin dekat malahan sering diajak tidur di kamar indekosannya.

Selama hal itu berlangsung  Abah dan Emak tampaknya biasa-biasa saja . Hanya berharap  Rosita  dan Santo bisa berjodoh dan segera menikah itu lebih baik. Itu yang ada dipikiran kedua orang tua itu.

 

Suatu pagi setelah manggung selama empat hari tiga malam di hajatan di luar kota ,Rosita tidak melihat Ririn. Kata Emak  Ririn di ajak pergi Santo entah ke mana. Santo tidak menjelaskan tetapi tampak kalau Santo terburu-buru. Dengan mobil travelnya ia pergi membawa Ririn. Walaupun kecewa Rosita langsung pamit. Dan berkata kepada Tarji ,yang juga mau berangkat kerja ,bahwa  dia malam ini tidak pulang .

 

Keesokan harinya  ketika Rosita sudah pulang kebetulan ada libur tugas dua hari dan sudah siap mengajak bermain Ririn , belum sampai ia keluar indekosannya ia melihat  Tarji bergegas dengan  ekspresi wajah panik menemuinya dan langsung mengadu “  Kasihan Ririn!”

“Kan ada bapaknya , Abah dan juga ada Emakmu .”

“  Ririn hilang!”

“Apa….?”

“Ririn hilang ! benar-benar hilang !”

Mustahil ! bagaimana itu bisa terjadi ?! tanya Rosita kurang yakin dengan berita itu.

“Tanyakan saja langsung ke bapaknya . Tuh dia di bawah pohon sawo . Linglung !” Tarji dengan marah menunjuk ke bangku di bawah pohon sawo. Setelah itu Tarji menghilang.Tampak Santo sedang duduk bersandar loyo di bawah pohon sawo . Tanpa ragu-ragu dengan suara bergetar menahan marah Rosita mendekat dan bertanya kepada Santo tentang kebenarannya.

“Memang benar Ririn sempat hilang. Tetapi kini sudah ketemu.” Santo menjawab,peluh membasahi wajah dan tubuhnya.

“Jadi Ririn selama tiga hari ini hilang, baru ketemu tadi pagi dan langsung dibawa pulang!” Rosita meradang . Mulutnya terus  “berkicau dengan pedasnya “ mengulang-ulang  apa yang telah di katakan Santo di tambahi kata-kata lainnya yang menyakitkan perasaan,.

“Sekarang di mana Ririn ? saya tak melihatnya !” Rosita masih terus mengoceh sambil tangannya menunjuk-tunjuk ke berbagai arah untuk membuktikan Ririn tidak ada. Santo.yang di hardik hanya menunduk, wajahnya pucat.

Abah Ocim  menahan diri agar tidak menambah rumitnya masalah. Perilaku Rosita yang sedang kalap mengingatkan Abah akan almarhumah  emaknya  yang sudah puluhan tahun yang lalu meninggal dunia. Saat itu Abah rasanya seperti  menyaksikan emaknya memarahi Santo yang waktu itu masih anak-anak tetapi berani kabur dan dirinya  disuruh emaknya  mencari anak itu dengan ancaman tak boleh pulang kalau belum ketemu.

“Ririn di bawa Mpok ke rumah sakit .” jawabnya tetap menunduk. Ketika Rosita akan menanyakan di rumah sakit mana tiba-tiba HP nya berdering. Dari Tarji yang baru saja sampai  di rumah sakit menemani Emak.

“Baik saya akan segera ke sana. Begitu saya sampai di rumah sakit Emak kau antar pulang. Apa…….? Saya sendiri yang akan menjaga Ririn ! Sampai kapanpun akan tetap menjaganya , jangan berpikir yang lain. !” telepon di tutup. Saya akan pulang sebentar mengambil pakaian kata Rosita. Santo menengadahkan  kepalanya dan melihat ke Abah, yang hanya memelototi adiknya, sambil menggoyangkan kepalanya.

“Ros…Rosita…biar aku mengantarkanmu !” Santo berkata dengan suara bergetar.

Untuk beberapa saat Rosita tertegun dan sadar  bahwa ia telah menghardik Santo, padahal Ririn anaknya Santo, bukan anaknya. Tetapi mengapa dirinya yang marah-marah.

“Pakai motornya Gufron saja.” Kata Abah sambil melambaikan tangannya  ke jalan . Kebetulan Gufron tukang ojek  kerabat jauh Abah sedang lewat. Abah di desa itu sangat dihormati. Tanpa banyak bertanya atau mendebat Gufron langsung menyerahkan motornya kepada Santo.

“Kita mampir ke rumah dulu. Saya akan menyiapkan pakaian ganti dan juga nanti mampir ke tukang penatu.” kata  Rosita.

“Tukang penatunya di mana….?” Santo heran ketika motor menuju ke arah kota. Kemudian berhenti kesebuah kios. Disitu ada kesibukan khusus.Beberapa karyawan menimbang-timbang pakaian dan mencatatnya , kemudian menyerahkan bukti penerimaan  pakaian yang akan di cuci.

Sesampainya  di rumah sakit  Rosita tampak gelisah dan masuk dengan tergesa-gesa.

“Ros kita harus belok kiri, lalu ke kiri lagi.” Santo menjelaskan kamar di mana Ririn di rawat.

“Oh maaf saya sangat gelisah.”

“Maafkan saya Ros, seharusnya kau tak perlu terlibat akibat kesalahanku !” Santo memberanikan diri berkata sambil menyapu seluruh tubuh Rosita dengan ekspresi yang sulit di tebak.

“Sekarang yang mana ruangan Ririn….?” Tanya Rosita untuk mengalihkan pandangan mata Santo yang tajam tapi sulit di tebak. Santo tidak menjawab hanya dengan kepalanya dia memberi isyarat agar Rosita melihat ke kamar berikutnya , dimana Tarji melambai kearah mereka.

Sesampainya di ruangan Rosita melihat Ririn sedang tidur tetapi tidak pulas. Sesekali terdengar Ririn merintih. Tidak jelas apa yang diucapkan. Ketika Rosita mengatakan bahwa disini ada nenek, ada juga Bulik Rosita , juga abah dan bang Tarji, Ririn bukannya bangun justru menjerit-jerit “tidak mau…..tidak mau….!!”

“Sudah ! Sudah jangan berkomentar apa-apa. Anak ini masih dibayangi  ketakutan dan kepanikan!” kata perawat yang masuk dan memeriksa panas tubuh Ririn.

“Bagaimana dia Mbak ?” tanya Rosita kepada perawat dengan cemas.

“Dia tidak apa-apa, dia hanya kecapaian dan beberapa kali jatuh, entah di mana.” Berhenti memeriksa barut-barut bekas jatuh  dan melanjutkan.

“Sebaiknya saya yang mengantar Empok pulang sambil pamit kepada perusahaan bahwa saya tidak bisa kerja. Dan Tarji menemani Rosita.”

Tak lama kemudian Ririn sudah bangun dan langsung menangis. Begitu melihat Rosita , Ririn langsung bangun dan Rosita sudah mendahului memeluknya sambil membujuk bahwa kini mereka telah bersatu lagi. Ketika Santo berusaha ikut bicara agar jangan menangis terus, Rosita langsung memotong  mengatakan biar saja Ririn menangis sepuas-puasnya agar tidak ada beban batin karena dua , tiga hari yang lalu ia merasa sedih dan takut. Santo langsung diam menunduk dan pelan-pelan keluar ruangan.

Selanjutnya Rosita terus merayunya agar tangisnya mereda dengan sendirinya. Sambil merayu  tangannya mengganti bajunya Ririn dengan yang bersih. Pada saat ia membuka bagian kiri tubuhnya , sampai di bagian pangkal tengkuknya  agak kekiri, Rosita tertegun. Bagian tertentu itu di usap-usap. Beberapa detik kemudian  dipeluknya rubuh Ririn erat-erat. Kejadian yang hanya sekejap ini memang terlewatkan oleh yang ada di situ , kecuali Emak yang sedikit heran akan perilaku Rosita yang tiba-tiba memeluk Ririn sambil menutup matanya seperti sedang berdoa.

Rosita memang sedang berdoa. Beberapa kali di elus-elusnya pangkal kiri tengkuk Ririn . Di bagian yang di elus-elus itu memang  ada tahi lalat besar sebesar kedelai berwarna hitam .Tahi lalat besar yang tak akan hilang seumur hidupnya.

“Tuhan aku mengucap  syukur kepadaMu karena telah mengembalikan anakku yang telah berpisah denganku ketika ia baru berumur tujuh hari.!”

“Ada apa Ros ?” tanya Emak juga Tarji. Santo walapun tidak berkata apa-apa tetapi dia heran melihat kelakuan Rosita yang aneh terutama ketika sedang mengusap-usap pangkal tengkuknya. Santo tahu dan hafal apa yang ada di pangkal tengkuknya Ririn, sebuah tahi lalat besar . Tetapi ia tidak mengerti mengapa Rosita  perilakunya sangat aneh. Lebih aneh lagi ketika mendengar ucapan Rosita waktu membujuk Ririn.

“Ririn mulai saat ini bersama bulik terus ya. Dan memanggilnnya bukan bulik , tetapi ibu, atau bunda .”

“Bunda….?” Emak, Tarji dan Santo terkejut dan saling pandang satu sama lain. Tetapi Rosita seperti tidak mendengarnya. Ia terus saja membuka pakaian Ririn dan menggantinya  dengan pakaian yang bersih yang sudah disediakan oleh Emak.

“Emak kalau akan pulang silakan sekarang saja. Ririn aman bersamaku .” ucapan Rosita ini semakin membuat mereka bingung tetapi tak berkata apa-apa. Santo tegang.

Sambil pamitan dan mengucap mualaikum salam kepada  kepada Ririn dan Rosita semua langsung keluar kamar.

Tanpa di ketahui oleh Emak dan anaknya Santo kembali ke kamar dan menatap tajam kepada Rosita.  Yang ditatap hatinya berdesir, tak tahu mengapa Santo kembali dan menatap tajam kepadanya. Tetapi naluri seorang ibu yang kini mengisi seluruh relung jiwa Rosita membisikkan ada bahaya dan ia  perlu melindungi Ririn. Otomatis tangannya merangkul anaknya dan menatap waspada kepada Santo. Yang dipangku sekarang ini adalah anak kandungnya  tak akan dilepaskan selamanya. Itulah yang ada di benak Rosita.

“Ada apa Bang ? Apa ada yang masih tertinggal ?” tanya Rosita sewajar mungkin .  yang ditanya tidak menjawab  dan tetap menatap tajam pada si wanita.

“ Dengar baik-baik ! Ririn adalah  anakku !” kata Santo dingin.

Ririn yang dipangku Rosita menurut saja malahan ikut menatap  Santo.

“ Mualaikum salam ! hati-hati di jalan…..!” ucap Rosita setelah menguasai perasaannya . Ia sengaja mengucap kata salam untuk mengusir secara halus agar Santo pergi .  Santo akhirnya memang pergi , dan ketika balik badan  bertubrukan dengan Tarji yang mau masuk. Rasa tegang yang di alami Rosita berubah menjadi rasa geli.

“Main tubruk saja!” Santo menghardik sambil keluar, dan Tarji yang semula terkejut akhirnya hanya geleng-geleng kepala dan menggerutu “Dasar !”

“Mang Santo barusan ngomong apa ?”tanyanya setelah tenang.

“Ah tidak ada. dia tak bicara apa-apa.  Hanya menatap Ririn saja.” Rosita menjawab sekenanya. Setelah bicara lain-lain dan ada kemungkinan nanti sore Ririn bisa pulang, Rosita bertanya bagaimana proses adobsi Ririn oleh Santo.

“Jadi Kak Ros belum bertanya langsung ?”

“Tidak sempat. Karena itu kini kau saja yang bercerita agar saya tahu proses adobsinya.”

“Proses adobsinya tidak ada, karena tidak didaftarkan ke mana-mana. “ jawab Tarji . “ Hanya di anggap luar biasa karena  bayi itu di selamatkan dari kecelakaan tunggal mobil di jalan raya di sebuah jalan hutan yang sepi, antara Bakauheni dan Palembang.  Mang Santo yang sedang lewat menghentikan trucknya karena mendengar tangis bayi. Dan memang ada bayi menangis di dalam mobil yang mulai terbakar itu.Seorang bayi berhasil di selamatkan dari kebakaran sedangkan sepasang manusia yang duduk di depan tidak. Anehnya  setelah itu tak ada berita apa-apa , baik tentang sepasang penumpangnya maupun yang mengaku atau memberi tahu telah kehilangan bayi. Akhirnya Mang Santo yang memang tidak mempunyai anak mengaku bahwa bayi itu anaknya. Ternyata istrinya setuju dan merasa senang dengan  memberi nama Marini, dengan panggilan Ririn. Ketika pindah ke Tanjung Karang ,Ririn diaku sebagai anak kandungnya.” Tarji mengakhiri ceritanya. Setelah itu suasana sepi. Rosita sibuk menyisiri Ririn dengan penuh kasih .

“Ririn memang anak bunda  !” kata Rosita kemudian sambil memeluk Ririn dan yang dipeluk tertawa geli. Sebaliknya Tarji heran. Ini untuk  kedua kalinya tiba-tiba Rosita mengaku Ririn anaknya. Tetapi Tarji diam saja dan akhirnya lagi-lagi hanya angkat bahu tak perduli. Tetapi sikap masa bodoh yang dianggap bukan urusannya itu berubah menjadi urusannya.

 

Setelah menginap semalam  akhirnya Ririn diperbolehkan pulang. Semua biaya rumah sakit  telah di lunasi oleh oleh Rosita dan ini membuat Santo tersinggung.

“Itu kan anakku. Mengapa dia yang membayar ?”gerutu Santo dengan wajah tegang.

“Kalau kau mau  membayar langsung saja bicara sama Rosita. Kan ada rekening pembayaran Mengapa harus menggerutu!”emak berkata sambil memberikan rekening pelunasan . Dengan rasa malu Santo mengganti semua biaya rawat inap buat Ririn.

Setelah itu hari-hari berjalan kikuk buat mereka berdua terutama buat Santo karena di matanya kini Ririn sepenuhnya di kuasai oleh Rosita. Dan Ririn tampaknya senang, tak pernah  memanggil-panggil ayahnya. Tidak seperti dulu. Malahan sering menginap di kamar Rosita.

 

Seminggu setelah itu, suatu sore Rosita pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah mandi dan ganti baju dengan bergegas Rosita datang ke warung Abah, mencari Marini. Dengan wajah tegang dia mencari cari Ririn.

“Kemana Ririn ?!” tanyanya dengan ekspresi panik

“Jalan-jalan dengan bapaknya !”

“Ini kan sudah  sudah sore, mengapa belum pulang ? tanya Rosita mulai panik. “Kemana saja mereka  apa sudah mandi? Jangan-jangan di dibawa pergi seperti tempo hari bagaimanapun seorang bapak kurang bisa mengasuh bayi. Apalagi……….” Perkataannya terhenti . Dari halaman terdengar celoteh riang Ririn.  Ririn tampak diturunkan dari tempat duduk tambahan dari sepeda ontel oleh bapaknya.

“Besok sore kita bersepeda lagi ya.” Kata si bapak dan setelah mengiyakan kata bapaknya ,sambil berlari masuk kedalam si kecil mencari neneknya. Dan ketika ketemu Rosita si anak makin gembira dan bercerita bahwa ia baru saja bersepeda bersama bapaknya  keliling komplek perumahan. Dengan perasaan marah dan cemburu  yang di tahan dipaksanya dirinya tertawa dan menanggapi celoteh si anak. Setelah menyimpan speda ontelnya di belakang warung, Santo  muncul ke ruang tengah  warung yang sepi.

“Dari mana saja, sudah hampir magrib masih saja main….!” Tiba-tiba Rosita bertanya  ketus.

“Itu terserah saya. Kan Ririn anakku dan hampir setiap sore kami berdua bersepeda keliling komplek!” jawab Santo tanpa menengok, langsung minum teh manis  yang baru saja diseduh. Kemudian dipanggilnya Ririn di tawari teh yang baru saja diminum dan masih hangat.

“Rin sini minum sama ayah !” katanya membujuk, tetapi cepat-cepat Rosita menanyakan kepada Ririn di mana susu buat Ririn yang baru saja kemarin sore dibelikan. Pesona Rosita lebih kuat sehingga Ririn berlari ke meja di mana terletak susu yang dimaksud.

“Ririn harus banyak minum susu ya agar lebih montok dan sehat, tidak seperti sekarang kurus!”jawab Rosita  tetap ketus.

“Aku bapaknya jelas lebih tahu soal anaknya!” Santo langsung memotong .Ia tersinggung.

“Seorang bapak yang ,menyayangi anaknya mustahil menyerahkan anaknya ke tempat lain sehingga sempat hilang ! Bapak macam apa itu ?” di luar dugaan Rosita menjawab dengan tuduhan yang sangat menyakitkan.

“Saya tidak menghilangkan Ririn ! Kau ini siapa berani-beraninya berkata demikian!”

“Kalau kau merasa bapaknya, mustahil menghilangkan anak kecil. Kau lelaki yang sengaja mengirim anak kecil ke tempat yang tak di kenal. Tidak mustahil kau sengaja menjual Ririn !”

“Jaga ucapanmu!kau lancang sekali ! Kau kira aku seorang kriminal ?!”

“Santo !! “ tiba-tiba Abah Ocim ikut bicara. “Sejak Ririn hilang sampai hari ini kau hanya menampakkan kebingunganmu saja! Kini jelaskan juga kepada kami semua yang ada disini. Kau kemarin itu kemana dan mengapa Ririn sampai sempat hilang !” Abah  Ocim menunjukkan kemarahannya.

“Saya memang  salah Bang !” kata Santo panik sampai tersedak dan terbatuk-batuk.“Tetapi…. tetapi…yang penting Ririn kini sudah pulang dalam keadaan sehat !”  Santo wajahnya masih pucat menahan marah dan berbagai perasaan yang di tahan.

“Bicaralah yang jelas kemana kau bawa Ririn sampai sempat tiga hari hilang! Untung saya belum lapor Polisi . Bayangkan kalau sampai tersebar berita bahwa kita keluarga  penculik atau penjual anak ! Mau di taruh di mana wajahku !?” Abah marahnya sudah serius.

“Saya ke Pandeglang, untuk mencarikan ibu buat Ririn. Ternyata……! Ternyata  saya kecele! Sudahlah Bang saya jangan di tanya terus-menerus begitu. Saya malu  Bang !” jawab Santo sambil duduk di bangku panjang.

Untung warung sepi belum ada pembeli yang datang hanya Tarji yang ikut mendengarkan

“Saya tidak berniat mempermalukan kamu Santo justru sering mencemaskanmu. Kau adikku satu-satunya. Tetapi sejak dulu setiap saya bertanya  tentang dirimu, jawabmu tidak pernah tuntas. Kini karena kita bicara soal anak yang hampir hilang, dan ada tanda-tanda unsur kesengajaan, yang mengarah kepada penculikan dan penjualan bayi maka saya  semakin cemas. ! Santo jawablah pertanyaanku dengan jelas!” Abah kini benar-benar  marah bercampur sedih.

“Abang dan Mpok saya ke Pandeglang benar-benar mencarikan wanita untuk ibunya Ririn. Bukan yang lain….. Sekarang jelas Bang !” Santo menjawab frustasi.

“Kau ketemu wanita itu dimana dan kapan ?”

“Waktu naik bus dari Tanjung Karang ke sini yang meringankan bebanku menghadapi  rewelnya Ririn adalah wanita yang duduk dikursi di sebelahku.Wanita itu ikut menidurkan Ririn di bus. Sebelum berpisah kutanyakan alamatnya, ia tinggal di Pandeglang……….!”

“Cukup ! Bagiku sudah cukup jelas . Adikku yang kusayangi ternyata bodoh !  Bodoh!!”

“Ampuni aku Bang ….!”

“Kalau tujuanmu untuk mencarikan ibunya Ririn , mestinya kau cari wanita yang cocok dan sudah di kenal Ririn, misalnya wanita yang ada di desamu sana diTanjung karang.!”

“Tetapi disana  tidak ada Bang….tidak ada.!”

“Kalau disana tidak ada ya dicari di lain tempat , pokoknya Ririn cocok!”

“Siapa dan dimana Bang ?”

“Kau ini memang keterlaluan ! Matamu melotot tetapi hatimu buta !”

“Iya Bang, saya memang bodoh, hatiku buta. Kini tolonglah saya siapa yang mau dengan aku? terdengar permintaan penuh memelas dari Santo.

“Kau memang keterlaluan !” Abah Ocim gemas dan istrinya memberi isyarat  agar jangan berkata kasar  dan tetap sabar. Setelah mengambil nafas panjang menyabarkan diri sambil geleng-geleng kepala akan kebodohan adiknya,lelaki tua itu berkata dengan tenang

“Wanita yang kini di tempel Ririn itulah yang cocok dengan anakmu. Mengapa bukan dia yang kau lamar ?”

Ucapan Abah Ocim bukan hanya mengejutkan  Santo yang langsung tertegun menatap ke arah Rosita kemudian menunduk, tetapi juga Rosita sendiri yang untuk beberapa saat berdiri terpaku di tempatnya.Ucapan Abah memang sangat mengejutkan yang ada disitu termasuk Tarji. Emak walaupun terkejut hanya menengok sebentar ke arah Rosita.Sesaat ruangan sepi. Abah yang  menatap tajam adiknya, masih diam menunggu . Sang Adik hanya menunduk.

“Mengapa kau diam Santo ?! Kurang cantikkah dia atau ada kekurangan  lainnya ?”

“Tidak  Bang !Rosita terlalu cantik buatku. Abah harus tahu saya hanya seorang sopir, seorang montir. Malahan kini hanya menjadi petani  kopi kurang dari 1000 pohon di Tanjung Karang.” berhenti sebentar . Bayangkan untuk cantik seperti dia kamarnya pasti penuh dengan alat-alat kosmetik yang mahal dan mana aku kuat membelikannya Bang !” jawab Santo memelas.

“Apa kau pernah masuk ke kamarnya Rosita ?” tanya Emak di luar dugaan.

“Tidak Mak, tidak pernah !” tanyakan ke Rosita, kalau tak percaya.!” Santo meminta dukungan Rosita. Yang diminta hanya diam.

“Mang Santo ! Mengapa Mamang berpikiran sempit ? Bukankah Mamang yang mengajari aku pepatah Inggris yang berbunyi “ You are what you think ?   yang artinya dirimu adalah apa yang kau pikirkan. Kalau Mamang hanya berpikir yang sempit-sempit saja memang seperti kemarin itulah jadinya. Ririn hampir hilang. Saya ingin mengingatkan  bahwa Mamang adalah sopir teladan . Dan mempunyai sertifikat sebagai sopir teladan dari Ka Polri, juga mendapat sertifikat terbagus dari sebuah dealer Mobil Jepang dan banyak lainnya lagi ! Mengapa Mang Santo mencitrakan diri serendah itu ?” celoteh Tarji di luar dugaan. Rupanya Sutarji jengkel melihat perilaku adik bapaknya yang karena frustasi lalu merendahkan dirinya dalam menghadapi Rosita.

“ Dimataku Rosita terlalu cantik dan bisa menumpulkan gagasan-gagasanku !” Santo frustasi.

“Apa tidak terbalik Mang ?” Tarji terus mendesak.” Bukankah  kemarin Mamang bercerita kepada saya  bahwa gagasan mendirikan tukang penatu di rumah kita sebagai cabang laundry and dry cleaning besar di Bekasi itu muncul dari Kak Ros pada waktu Mamang mengantar kak Ros ke tukang penatu di kota. Bukankah ide itu muncul karena  Mamang dekat dengan Kak Rosita ?”  di luar dugaan Tarji  masih bercerita banyak tentang ide-ide lainnya yang berasal dari Rosita.

“Sudah !Sudah sukup Ji! Saya malu…” Santo wajahnya makin merah. Malu.

“Kak Ros dan Abah perlu tahu bahwa setiap sore Mang Santo bersepeda ontel keliling perumahan ini bukan hanya main-main dengan Ririn , tetapi sekaligus menyebar pengumuman bahwa dua minggu lagi di rumah kita akan di buka Laundry and Dry celaning ,cabang Bekasi.!”

Semua yang mendengar terkagum-kagum  dengan gagasan Santo. Abah Ocim baru mengerti mengapa sudah seminggu ini adiknya sibuk membersihkan bahkan mengganti kaca depan rumahnya, yang memang hak warisan adiknya , menjadi seperti sebuah toko. Abah sebagaimana biasa tidak langsung bertanya tetapi membiarkan dulu semua kegiatan adik satu-satunya ini.

 

“Nah Santo kini dengar baik-baik omongaku !” Abah Ocim tiba-tiba memotong dan bicaranya berubah, suaranya berat dan dalam , menandakan  dia sedang serius dan Santo mengerti abangnya sedang serius, setengah marah dan harus di dengar baik-baik.

“ Apakah kau benar-benar serius mencarikan emak buat Ririn ?”

“Ya saya serius !” Santo menjawab sambil melirik ke sekitarnya. Keringat membasahi tubuhnya.

“Menurut pendapatmu apakah Rosita pantas menjadi emaknya Ririn ?” tanya Abah selanjutnya.”

Santo hanya  mengangguk dan menengok ke arah Rosita sebentar lalu menunduk lagi.

Yang di di tengok terhenyak . Jantungnya berdebar kencang .Dengan gelisah melirik kekiri. Emak mendekat dan tersenyum penuh arti sambil mengelus punggungnya.Ririn berpindah menempel di badan neneknya.

“Kalau demikian lamarlah Rosita !”

“Kapan Bang …..Sekarang ?”

“Sekarang juga!…… Atau kau menunggu Rosita dan Ririn mendapat suami dan bapak baru ?!”

“ Bapak baru ….?! Tidak bisa , tidak boleh !” di luar dugaan Santo berdiri tegak bicara tegas dan garang. Tangannya terkepal, pandangan matanya  yang tajam itu setelah menatap Rosita lalu bergeser menyapu seluruh ruangan . Seolah-olah dia siap menghadapi apapun yang bakal menghalanginya. Diluar dugaan  kejadian yang mendadak ini justru membuat Rosita kagum atas sikap Santo.

“Demi Tuhan, inilah lelaki jantan yang selalu kubayangkan.Aku aman bersamanya. Tuhan jadikan dia pemimpinku, agar jelas citra diriku sebagai istri dan ibu.”  bisik  Rosita kepada Tuhan.

Suasana mendadak sepi dan tegang. Emaknya Tarji mendadak ingat masa lalu bagaimana dirinya tidak berdaya menghadapi Abah Ocim yang menanyakan apakah dia menerima lamarannya. Emaknya Tarji bisa membayangkan bagaimana gelisahnya Rosita. Karena itu di usahakan dirinya tetap tersenyum ramah  dan mengangguk kepada Rosita.

 

Semua perhatian terpusat kepada Rosita ,sehingga tak ada yang menyadari masuknya seorang lelaki tua sahabat Abah dan duduk tak jauh dari Santo. Santo masih berdiri memandang Abangnya dengan wajah pucat. Sesaat sang Abang teringat masa kecilnya Santo, adik satu-satunya, yang ketakutan karena dimarahi oleh ayah mereka.Dan saat itu dirinyalah yang menghiburnya. “ Kinipun Santo membutuhkan diriku.” pikir sang abang.

“Katakan baik-baik Santo !” suara Abah terdengar lembut. Dan ini  membangkitkan semangatnya. Santo dengan langkah pasti berjalan ke arah  Rosita. Setelah cukup dekat ia bersimpuh di depannya. Rosita tak bisa berpikir lagi , indah menyenangkan dan tak terduga

.Di saat yang bersamaan Ririn mendekati bapaknya ikut bersimpuh dan menirukan perilaku bapaknya. Mereka berdua bapak dan anak memandang ke arah Rosita, memohon kecintaan dan kerelaan hari Rosita

“Rosita, aku melamarmu untuk menjadi istriku dan ibu buat anakku…..Jawablah!”

Semua diam tegang. Emaknya Tarji kembali mengelus punggung Rosita dan tersenyum memberi semangat dengan anggukan kepala.

“ Ya aku mau menjadi istrimu dan ibunya Ririn.” Rosita menjawab lirih

“Saya belum mendengar jelas…. ulangi !” tiba-tiba temannya Abah berteriak menghentak.

“Saya juga belum mendengar kecuali kata “ya “ saja. Mohon di ulangi!” Abah menyetujui.

“Bagaimana kau Tarji apa sudah jelas ucapan Rosita tadi ….?” Abah minta pendapat Tarji sambil melotot  memberi isyarat agar Tarji mendukung gagasan Kakek ,temannya Abah.

“Saya ….saya… terus terang  sebaiknya  Kak Rosita bicara lebih keras. Para pendekar Betawi ini tidak suka yang lembek-lembek !”

“ Ya saya mau menjadi istrinya Bang Santo dan menjadi ibunya Ririn !”akhirnya Rosita yang biasa bernyanyi di Café mempunyai keberanian untuk bicara jelas

“ Syukur Alhamdulillaaaaaah..!!!!” Terdengar ucapan puji syukur dari semua yang hadir.

“Bang Santo berdirilah !Aku malu.”  kata Rosita sambil memeluk Ririn dan mempersilakan Santo berdiri.

Setelah itu Rosita , Ririn dan dan emaknya Tarji langsung berpelukan . Rosita menangis bahagia.

Derita batin yang harus dipikul sendirian akibat perilakunya  sejak remaja kini terhapus sudah. Setelah ini ia akan menemui orang tuanya, yang telah ditinggalkan tanpa pamit untuk, memohon ampun atas segala kelakuannya

Adzan magrib  terdengar dari masjid  komplek.

Selesai.

 

Dipublikasi di Tak terkategori | Meninggalkan komentar

Pretty woman

PRETTY   WOMAN

( oleh Bintang Rina )

 

Orang boleh percaya juga boleh tidak , tetapi sebaiknya Anda percaya bahwa perbuatan apapun yang dilakukan oleh manusia tidak pernah hilang. Orang bisa lupa atau pura-pura lupa, tetapi apa yang dilupakan itu masih ada dan tersimpan di dalam jiwa atau batin yang paling dalam dari orang yang bersangkutan.  Jadi tidak pernah hilang.

Dan perbuatan yang telah dilupakan itu bisa muncul lagi kepermukaan alias ingat lagi bila ada pemicunya. Pemicunya bisa bermacam-macam  biasanya berkaitan dengan nafsu-nafsu , perasaan atau emosi orang yang bersangkutan.

Walaupun demikian munculnya kembali ingatan itu tidak utuh dan tidak orsinil lagi seperti aslinya  karena sudah terpengaruh atau terkontaminasi oleh berbagai peristiwa yang selalu datang dan pergi oleh yang bersangkutan. Terutama pengaruh “waktu “yang  tidak sama.

Di bawah ini ada pengalaman temanku bernama Praba Sentika, yang tanpa sengaja ingat kembali mantan kekasihnya yang telah dilupakan dan hidupnya kembali  dinamis setelah lama membeku. Pemicunya adalah rasa simpati yang menggores kenangannya karena mendengar kisah seorang wanita yang rela pulang ke desa demi merawat bapaknya.

Kisahnya sebagai berikut,

Suatu pagi , di teras belakang  sebuah rumah sepasang suami istri berbincang ringan.

“Setelah sarapan aku akan berjalan-jalan menyusuri saluran induk.” kata Praba Sentika   kepada istrinya sambil menyeruput kopi. Sementara istrinya menyiapkan makan pagi.

Setelah sarapan Praba pamit. Yang dipamiti hanya berpesan jangan jauh-jauh jangan kecapaian.

“Aku pulang kalau sudah lelah atau sudah bosan.”

“Lalu jus tomatnya bagaimana ?” tanya istrinya. Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena sudah jelas yaitu .”Simpan saja di kulkas.”

Setengah jam berjalan Praba ingat sesuatu dan berbelok ke kiri meniti jembatan dari dua batang kelapa di atas saluran induk untuk mampir ke warung . Praba membeli jajanan agak banyak. Bukan untuk dirinya tetapi untuk dibagikan kepada anak-anak atau siapa saja yang ditemui sepanjang jalan.

Tujuan Praba Sentika berjalan menyusuri saluran induk irigasi selain sudah kebiasaannya juga untuk menghibur hatinya yang galau. Biasanya setelah bertemu dan ngobrol dengan siapa saja di jalan maka, kegalauan hatinya hilang. Namun dari tadi tak bertemu dengan seorang pun,baik anak-anak maupun orang dewasa . Ini mengherankan. Jalan irigasi kali Pahit ini memang tidak seramai  jalan desa tetapi juga tidak sesepi seperti hari ini. Biasanya beberapa anak pulang sekolah atau orang  berjalan dari atau ke sawah sering di jumpai . Pedagang keliling yang lewat secara rutinpun hampir selalu ketemu.Tetapi hari ini tidak.

Selain suasana sepi dan langit berawan ,yang lain tak ada yang baru . Juga tak ada yang berubah dari dulu sampai sekarang. Dan mungkin juga sampai kelak di kemudian hari. Lelaki tua itu  hampir saja memutuskan akan kembali karena sudah lelah , bosan dan tidak ada teman berbincang. Jajanan yang terlanjur di beli akan dibagikan kepada anak-anak tetangga, yang jumlahnya tidak banyak , karena KB di desanya berhasil. Desanya sekarang menjadi desa yang makmur tetapi sepi.

Namun ketika akan balik badan tiba-tiba ia berhenti,merasa melihat pemandangan yang aneh. Didepannya masih agak jauh menjelang saluran induk berbelok ke kiri  ada yang berubah.  Karena penasaran  ia terus maju. Setelah saluran induk itu menikung ke kiri dan kali Pahit  lurus maka, tanah kosong dan terbuka diantara kali Pahit dan saluran induk otomatis melebar dan beberapa puluh meter ke depan baru ada  semak dan pepohonan  serupa hutan kecil kayu sengon. Tetapi itu dulu. Kini di sana ada rumah  dari bambu. Lebih tepat disebut  rumah gubug. Ia terus berjalan ke sana. Tujuannya selain berkenalan juga mencari teman mengobrol Ketika tinggal beberapa meter dari rumah gubug itu langkahnya  terhenti. Praba ragu-ragu karena ada yang tidak lazim. Jemuran pakaian.

Status sosial dari penghuni sebuah rumah bisa di tebak melalui apa yang  ada di jemurannya. Tetapi menebak status penghuni rumah bambu  di depannya tidak mudah karena diantara jemuran pakaian anak-anak dan  orang tua seperti baju batik berlengan  panjang,celana ,kolor dan celana butut petani , ada beberapa lembar pakaian  dan kelengkapan  busana  wanita masa kini yang sama sekali tidak menggambarkan bahwa penghuninya  orang desa. Pakaian wanita yang ada di jemuran itu terlalu bagus untuk wanita desa , apalagi seorang petani.  Paling tidak pemiliknya wanita muda yang bukan petani.

Ketika Praba sedang berdiri termangu-mangu ia mendengar semacam percekcokan kecil di dalam rumah. Ia ingin mendengarkan apa yang di pertengkarkan. Namun tidak sempat karena pintu tiba-tiba terbuka dan seorang anak lelaki kecil berumur sekitar 10 tahun muncul dan lari keluar sambil berteriak-teriak bahwa kakaknya galak dan judes. Belum lagi Praba menguasai situasi muncul di pintu seorang wanita sekitar 25 tahun . Ia sedang memarahi anak kecil tadi.

“Santo….Santo kau jangan kolokan begitu….!” kemarahannya  terhenti dan ada ekspresi terkejut  demi melihat ada seorang lelaki tahu-tahu telah berdiri di pintu pagar. wajahnya berubah dari gemas terhadap anak tadi menjadi malu. Sedang si anak terus berlari menjauh ke kampung di seberang saluran induk.

“Maaf saya tidak sengaja berdiri disini…karena…..karena….. !” Praba minta maaf.

“Karena bulan kemarin gubug ini belum ada ! Begitu kan maksud bapak !”wanita tadi langsung memotong dengan judes.

Praba terhenyak  karena sikap galak wanita yang ada di depannya. Tetapi hanya sebentar .  Ia  telah menguasai diri lagi dan mengatakan bahwa dirinya tidaklah seperti itu.

“ Saya bosan harus menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang! Hampir setiap orang yang melintas disini selalu mampir hanya untuk menanyakan sejak kapan gubug ini berdiri Lalu di susul pertanyaan-pertanyaan lain . Saya bosan menjawabnya!”

“Kalau kamu bosan menjawab, saya bisa maklum .”  Praba,berusaha memahami.

“ Kalau begitu saya akan bertanya yang tidak pernah membuatmu bosan !” tambahnya

Wanita itu diam berpikir. Praba Santika bisa menduga  wanita muda itu semula akan mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi . Praba yang sudah tua yang telah melewati masa yang penuh dengan pahit getirnya hidup tahu bahwa wanita di depannya itu membutuhkan seseorang yang mau di ajak bicara demi mengusir rasa sepi. Siapapun tahu bahwa mendirikan rumah di tempat yang terasing seperti ini pasti jarang ketemu orang kecuali orang yang kebetulan lewat.

“Saya hanya ingin tahu anak kecil yang baru saja lari tadi anakmu atau adikmu ?”

“ Dia adik saya namanya Susanto ! Bagaimana  ? Sudah puas dengan pertanyaannya?”

“Belum….saya belum puas saya ingin ngobrol banyak dengan Anda!”

“Maaf saya sedang sibuk !” jawabnya judes. Ketika itu tiba-tiba adiknya datang lagi dengan berlari-lari  Namun pintunya cepat-cepat di tutup dari dalam sehingga si anak berteriak-teriak minta dibukakan pintu.

“Hei Santo jangan berteriak-teriak Pakde punya jajanan banyak Nih semua untukmu !”  kata Praba sambil mengulurkan tangannya yang memegang jajanan. Tetapi anak itu tidak langsung menerima ,justru ia memandang ke arah Praba dan jajan yang ditangannya ganti berganti. Praba terus mendesaknya dengan  mengulurkan tangannya sambil berjongkok .

“ Mbak..!Pakde memberi jajanan, boleh tidak Santo menerimanya …..?” terdengar permintaan yang ditujukan kepada kakaknya yang ada di dalam rumah.  Setelah tiga , empat kali Santo meminta ijin boleh atau tidaknya menerima jajanan, baru  pintu rumah terbuka.  Wanita itu melihat kedua tangan Pakde  menyatu menyangga  jajanan  yang sudah terbuka bungkusnya dekat sekali dengan Santo, dan anak kecil tadi otomatis makin tersiksa  hatinya. Ia sangat ingin makan jajanan itu tetapi di saat yang bersamaan kakaknya muncul dengan wajah garang.

“Ambil dan pilih dua jajanan yang kau suka !” sang kakak memerintah.

“Tetapi….tetapi kata Pakde semua ini untuk Santo kak….!” Ujar anak itu memelas.

Ketika kakaknya akan memarahi adiknya dengan cepat Pakde memotong dan mengulangi bahwa semua jajanan ini memang untuk Santo.Sambil berkata demikian Pakde berdiri dan mendesak pintu . Dengan sendirinya sang kakak mundur dan itu berarti membiarkan Praba Santika masuk ke dalam rumah.

“Bolehkan saya duduk ? saya agak lelah berjalan-jalan dari  dusun Kacangan!”katanya setelah menaruh jajanan di meja, dan dengan cepat Santo menyergap beberapa kue lalu kabur lagi keluar.

“Silakan saja , kursi memang untuk duduk !” karena tak bisa memarahi adiknya akhirnya nada judesnya ditimpakan kepada sang lelaki.

Setelah itu ruangan sepi. Mata Praba menyapu seluruh ruangan. Isinya sederhana dan rapi. Namun di situ terlilhat ada lampu listrik , alat penanak nasi, juga ada strika listrik. Padahal gubug itu jelas tak dilewati listrik dari PLN. Otomatis dan tanpa sadar Praba berusaha menyusuri kabel yang terlihat melintas di atas kepalanya.

“Listrik itu dari tetangga !” kata si  wanita yang bisa menebak pikiran Praba.

“Tetangga yang baik dan pengertian.” Praba berkomentar. Setelah itu kembali sepi.

“Maaf  kalau aku boleh bertanya siapakah nama kedua orang tuamu ?  Soalnya saya rasanya belum pernah melihatnya .”

Wanita itu tidak segera menjawab . Sejenak  matanya memandang tajam ke Praba kemudian berubah murung . Lelaki itu menyesal dan merasa bersalah .

“Kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu saya mohon maaf dan kau tidak usah menjawab.” Praba berusaha memperbaiki sikapnya. Tetapi di luar dugaan ada jawaban,

“Kami sekeluarga semula tinggal di desa Pucang. Namun karena satu dan lain hal maka kami terusir terpaksa  pindah ke bantaran kali Pahit ini !”

“Ooo begitu ya. Rasanya saya pernah mendengar cerita yang menghebohkan dulu itu. Tetapi tak begitu jelas apa dan bagaimana .Ternyata itu ada hubungannya denganmu .”

“Biarlah saya bercerita  kepada Pakde, agar mendengar dari mulut pertama karena masalah itu adalah masalah orang tua saya.”

“Ceritakanlah, saya mendengarkan.” Praba tiba-tiba bergairah.

“ Kejadian yang menyedihkan itu  berawal dari keinginan emak untuk bekerja ke Malaysia atau Hongkong. Padahal tanpa menjadi TKW pun hidup kami lumayan. Namun entah karena apa emak memaksa terus sehingga bapak kalah dan menurut saja.  Singkatnya baru berjalan tiga tahun dari kontrak yang empat tahun itu emak bermasalah.”

“Masalah apa ?”

“Emak jatuh cinta kepada  Bossnya dan entah bagaimana ceritanya mereka kabur, dan lari ke Indonesia. Karena emak masih berstatus istri orang maka  untuk kedua kalinya emak memaksa ayah agar menceraikan dirinya. Dulu memaksa agar ayah mengijinkan emak ke Malaysia. Kini emak memaksa agar ayah mau menceraikan istrinya. Karena tidak berhasil maka emak mulai mengungkit-ungkit uang yang dulu pernah dikirim dari Malaysia.. Untuk kesekian kalinya ayah kalah  sampai akhirnya ayah harus meninggalkan rumah di Pucang yang memang milik emak. Tidak sampai enam bulan setelah perceraian itu ayah sakit dan terpaksa saya yang sudah tiga tahun bekerja di Surabaya  harus pulang mengurus ayah dan adikku.” Wanita itu mengakhiri ceritanya dengan nada hambar. Ia sudah jenuh dengan kejadian yang pasti sudah diceritakan berulang-ulang. Setelah itu suasana kembali sepi

“Kalau kulihat  di laci  didekatku ini ada  buku-buku pelajaran  akuntansi. Ini bukumu bukan ?”suara Pakde memecah sepi.

“Waktu masih di Surabaya saya sempat menyisihkan uang untuk ikut kursus akuntansi Rencanaku kalau ada peluang aku akan kuliah agar cara berpikirku lebih rasional, bukan emosional. Apalagi kini konon guru SD bahkan guru TK juga wajib kuliah lagi agar tidak ketinggalan. Jadi apa salahnya bila aku kuliah juga.Tetapi karena perilaku emak dan kemudian bapak sakit maka semua rencanaku berantakan. Aku harus pulang ke desa mengurus bapak  sampai sembuh dan mengurus adikku Santo. Disini aku tak mempunyai pekerjaan kecuali menunggu rumah, mengurus adik dan menunggu bapak pulang. dengan hati cemas.”

“Bapakmu pergi kemana ?”

“Setelah pindah ke sini bapak kerjanya serabutan.  Pernah menjadi kondektur bus antar kota , tetapi hanya sebentar. Tidak kuat. Karena aku masih mempunyai sisa tabungan kemudian dikumpulkan dengan sisa-sisa uang bapak membangun gubug ini , juga meminjam uang ke tetangga maka aku membeli becak motor untuk bapak. Dengan adanya becak motor rumah tangga pelan-pelan membaik. Selanjutnya untuk mempercepat pelunasan hutang kepada pihak  yang lain maka bapak ikut bekerja sebagai kuli memborong tebang tebu. Sekarang ini musim panen raya tebu dan para pemilik kebun tebu kekurangan tenaga penebang tebu. Lalu bapak ikut. Dan becak motornya di sewakan kepada sahabatnya. Saya sebenarnya berkeberatan  bapak  menjadi buruh tebang tebu. sebab sebelumnya bapak bukanlah buruh tani .Tenaganya tidaklah seberapa karena itu hasilnya  lebih kecil bila dibanding teman-temannya Tetapi lebih besar daripada menjadi penarik becak.” Surti mengakhiri ceritanya.

Selanjutnya gubug kembali sunyi. Sayup-sayup celoteh anak-anak yang  mandi di di saluran induk    membuat sepi semakin lengang.

“Melihat penampilanmu dan wajahmu seharusnya kau sudah mempunyai calon suami,” suara Pak Praba memecah keheningan.

“Sewaktu di Surabaya saya memang sudah mempunyai pacar dan sudah berencana menikah. Namun saya minta menangguhkan rencana itu karena aku masih ingin kuliah. Mungkin  ia terlalu lama menungguku ,apalagi ia telah menguasai diriku sepenuhnya, maka ia bosan .Ketika tahu bahwa ibuku seorang TKI , apalagi disertai berita miring, maka dia memutuskan hubungannya denganku”.

Sambil bercerita demikian tangannya  sibuk menata beberapa kain untuk alas setrika

“Tetangga di atas memberi kesempatan menyetrika jam-jam segini ini Jadi saya minta maaf saya bicara sambil menyetrika.”

“ Ooh poor Pretty woman  !” gumam Praba Sentika kepada dirinya sendiri.

“Siapa yang dimaksud dengan poor pretty woman ?” tiba-tiba wanita itu mengangkat wajahnya bertanya kepada Pakde dengan pandangan mata tajam. Dan Praba gragapan tidak menyangka wanita itu mengerti bahasa Inggris dan langsung berkomentar.Vokalnya  dan ucapannya juga bagus.

“Maafkan aku. Kaulah Poor Pretty woman itu .” Praba menjawab sejujurnya.

“Tetapi aku bukan pelacur !” si wanita mendebat sambil terus menyetrika.

“Kau rupanya juga menonton film itu ?”

“Ya Pretty Woman adalah film pertama yang kutonton  bersama pacarku.”

“Tetapi  Pretty Woman  yang kuucapkan dan ada di benakku  saat ini  adalah kau ,wanita yang cantik, cerdas dan teliti. (berhenti sebentar ) tidak seperti yang ada di film itu.”

“Maksudnya Pakde ingin memujiku sebagai wanita pelacur yang cantik ?”

“ Tidak! sama sekali tidak  dan maaf Surti. Waktu aku menyebut  poor  pretty woman itu maksudku kau adalah wanita matang, cantik yang malang. Dan tidak terpikir menyamakan kau sama dengan wanita dalam film itu. Menurut pendapatku kukira terjemahan wanita cantik  matang  atau dewasa itu yang tepat memang poor pretty woman. Bukan poor beautiful girl.”Praba menjelaskan.

“  Pakde baru saja memanggilku Surti. Namaku bukan Surti!”wanita tadi bertanya.

“ Ooh maaf sekali lagi maaf aku memang gegabah  !Aku tak tahu mengapa  memanggilmu Surti. Rasanya aku sedang berbicara dengan Surti temanku dulu. Dulu sekali !”

Wanita itu tak bereaksi, terus saja menyeterika. Sedangkan Praba menunggu komentar.

“Kau tak keberatan kan kalau kupanggil Surti ?”  akhirnya Praba bertanya karena wanita itu tetap diam. Gerak gerik wanita di depannya memang mirip sekali dengan mantan pacarnya.

“ Silakan saja Pakde ! Aku suka nama itu. Aku juga minta maaf karena bersikap sinis dan judes .” kata si wanita sambil melengos. Hati lelaki tua itu berdesir.” Kamu memang cantik. “

Hari itu kunjungannya  berakhir biasa-biasa saja. Lelaki tua itu hanya pamit tanpa ucapan lainnya. Wanita yang kini senang di beri nama Surti juga hanya mengatakaan terima kasih telah menemaninya tanpa ucapan  “Lain waktu agar mampir.” Suatu kalimat yang diharapkan didengar oleh Pakde  sebagai lelaki yang sehat.Walaupun demikian Praba pasti akan datang lagi .

Sepulangnya dari rumah Surti Praba Santika merasa sehat, kuat dan perkasa kembali. Logika berpikirnya juga merasa lebih dinamis.  Hari-hari selanjutnya disamping rasa gembira dan bergairah lelaki itu juga sering  bersiul-siul lagu “Pretty Woman” Istrinya heran melihat perubahan perilaku suaminya, namun tidak berkomentar apa-apa .

Suatu hari dari pasar suaminya pulang dengan membawa deodorant perfume spray  dan minyak rambut yang mahal sang istri tersenyum geli. Ia menduga suaminya , 60 tahun sedang puber ketiga. Tetapi istrinya yang berumur 55 tahun  tidak berkata apa-apa hanya geli.  Di waktu yang lain sambil bercermin suaminya bertanya kepada istrinya mengapa senyum-senyum , sang istri dengan jujur mengatakan bahwa penampilan suaminya seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Jawaban itu membuat Pak Praba makin serius mengamati wajahnya di cermin . Rambutnya sudah memutih , tetapi tak pernah disemir. Istrinya sejak dulu melarang dengan alasan suaminya lebih jantan dengan rambut putihnya. Sang suami selalu ingat pujian istrinya justru setelah sang istri melahirkan  anak mereka yang keempat.

“Gagah dan jantan seperti  artis film Richard Gere.” kata sang istri waktu itu.

“Siapa dia itu ? Pernah main di film apa ?” tanya suaminya.

“Pria pemain utama film Pretty Woman.”

“Oh ya….benar aku lupa! “

Itu dulu! sudah lama sekali, sejak itu  Praba memang  tak pernah menyemir rambutnya.

“Apa kini aku masih seperti dulu ?” pikirnya sambil mengelus-elus rambutnya.

“Apa aku  masih seperti Richard Gere ?” tanyanya sambil menatap istrinya lewat cermin.

“Kau selamanya gagah dan hebat.”istrinya memuji .

Praba  gembira  tetapi ia harus menahan nafas  dan menyabarkan diri , agar istrinya tidak tahu kalau dirinya ingin saat itu juga terbang menemui Surti. The poor pretty  Woman.

Keesokan harinya ia harus menunda sehari lagi rencananya mengunjungi Surti karena hari itu ia harus menunggu tukang giling padi.

“Sekarang menggiling padi enak tinggal angkat telepon dan tukang gilingnya datang dengan truck pick-up yang dimodifikasi  di tambahi mesin giling padi. Empat tahun yang lalu aku yang harus pergi kepenggilingan di bantu tukang panggul.” katanya kepada istrinya. .

“Ya Papa sempoyongan memanggul  karung berisi gabah,dibantu si Ridon.”

Suaminya hanya tersenyum sambil meminum sisa kopinya.

Setelah truck penggilingan padi datang  dan dalam tempo satu jam selesai maka, sisa waktu hari itu dipakai untuk kegiatan  kecil-kecil lainnya untuk merintang-rintang waktu. Tentu saja hal ini mengherankan ,tetapi sang istri diam saja , malahan ditinggal tidur siang.

Keesokan harinya setelah agak siang baru ia berangkat mengunjunyi Surti tanpa beban. Namun tak urung ia kikuk dan blingsatan ketika sang istri bertanya  mau jalan-jalan kemana dan mengapa memakai wangi-wangian. Jawab yang paling tepat adalah tidak menjawab apa-apa tetapi langsung pergi.

Selanjutnya seperti beberapa hari yang lalu ia mampir sebentar untuk membeli jajanan. Dengan bergegas dan hati berbunga-bunga ia kerumah Surti.

Sesampainya di  sana ia tertegun .Rumah gubug itu tertutup. Sekelilingnya sepi. Tali jemuran kosong tak ada secuilpun kain yang di jemur. Ia memanggil-panggil nama Surti dan juga Santo adiknya namun tak ada jawaban. Kepalanya berputar-putar memeriksa sekelilingnya barangkali ada tetangga yang tahu atau orang sedang lewat. Kemudian ia mengelilingi rumah. Sepi. Orang lewat juga tidak ada. Ia berusaha mencari kabel listrik yang kata Surti berasal dari tetangga terdekat yang telah berbaik hati memberi aliran listrik.  Tetapi kabel itu tak ada mungkin sudah di cabut oleh tetangganya. Tetapi tetangga yang mana ? Soalnya di sekitar rumah gubug itu tak terlihat ada rumah lain. Yang ada hanya tegalan  dengan beberapa pepohonan waru-alas dan sengon serta beberapa pohon jati kebon. Bangunan rumah tidak ada kecuali jauh disana ada sebuah rumah gedung bertembok belakang tinggi dan mustahil mau memberi strum .Sekali lagi Praba mengelilingi rumah sambil memanggil-panggil nama Surti dan Santo. Karena yakin tak ada siapa-siapa maka ia kembali pulang. Jajanan yang telah di beli digantungkan  di dinding bambu rumah itu dekat pintu.

Sesampainya di rumah tanpa banyak bicara  ia mencuci tangan dan kakinya lalu makan siang tanpa menunggu istrinya yang sedang sholat dhuhur. Setelah makan ia bergegas masuk ke kamarnya .  Ia sengaja menghindari pertemuan dengan istrinya yang pasti bertanya macam-macam dengan arif bijaksana. Suatu kebiasaan sang istri yng membuat dirinya malu dan klimpungan  menjawabnya.

Sore harinya walaupun istrinya tidak bertanya apa-apa, tetapi perasaan lelaki itu tidak tenang.    Ia merasa bersalah ,gelisah dan penasaran. Ia gelisah dan khawatir kalau tiba-tiba istrinya menanyakan sesuatu  yang mengharuskan dirinya berbohong dan ia tidak pandai berbohong. Selain itu ia juga penasaran ingin tahu kemana Surti dan adiknya. Mengapa kabel listrik yang beberapa hari lalu  masih ada kini tidak ada.    Masih ada satu pertanyaan yang membuat dirinya menyesal dan ingin segera kembali ke sana. Ia tahu rumah Surti memang tertutup, tetapi ia ingat di pintu itu tidak ada gemboknya. Jadi seharusnya pintu itu mudah di buka, tetapi nyatanya tidak. Berarti pintu di tutup dengan palang dari dalam. Setelah itu penghuninya keluar lewat pintu lain.  Begitu perkiraannya.Tetapi pintu lain tidak ada. Kemungkinannya hanya satu yaitu  pintu  lain itu ada hanya dirinya tadi siang itu kurang teliti memeriksa rumah. Berpikir demikian  lelaki tua itu makin terdorong mengunjungi rumah Surti malam ini. Ia harus membuktikannya dengan meninjau langsung. Selain itu ia berharap bisa berkenalan dengan bapaknya Surti yang katanya kuli tebang tebu. Jam weker di meja kamarnya menunjukkan hari masih sore.

Sejak ia berfikir akan kesana malam nanti maka ,sejak itu pula semangatnya  berkobar-kobar. Ia merasa muda kuat dan sehat. Bersamaan dengan itu akalnya yang sudah lama membeku karena sifat arif bijaksana sang istri kini bergejolak lagi.  Ia tiba-tiba merasa banyak akal. Ia bisa mencari seribu alasan agar sore ini  bisa mengunjungi rumah gubug di bantaran kali Pahit. Setelah tekadnya bulat , ia pamit. Ternyata istrinya tidak banyak bertanya bahkan mengingatkan jangan lupa memeriksa dulu baterai senternya , kalau perlu ganti batu-baterai baru.dan minta suaminya membawa kunci agar kalau pulang bisa  langsung masuk rumah.

Perjalanan ke rumah Surti  ternyata mendebarkan  Mungkin karena ini adalah malam pertama ia merencanakan penghianatan kepada istri tercintanya.

Praba heran dan sulit mempercayai matanya. Dari jauh rumah Surti sudah terlihat terang oleh lampu listrik. Padahal tadi siang ia tahu tidak melihat lagi kabel yang menuju ke rumah itu. Ketika ia sudah benar-benar di muka pintu pagar , tiba-tiba pintu rumah terbuka dan Surti  sedang keluar untuk membuang sampah di pojok halaman. Surti terkejut disusul tawa senang karena melihat Praba ,yang bangga dipanggil Pakde, sudah ada di depan rumahnya.

“Pakde datang. Syukurlah saya pas keluar untuk membuang sampah. Masuklah Pakde, sekalian saya kenalkan dengan bapak saya.”

Singkat cerita malam itu Pak Praba dikenalkan dengan bapaknya. Setelah basa-basi singkat sang bapak minta ijin akan tidur dulu karena ia besok harus berangkat sebelum subuh agar bisa sampai ke tempat penebangan tebu lebih awal dan sebelum panas menyengat ia telah memperoleh tebangan yang lumayan.

Malam ini baru Pakde menyadari bahwa ternyata gubug itu memang kecil dan suasananya kurang nyaman.Kamarnya hanya satu dan itu pasti kamar tidur untuk Surti , sedangkan  bapaknya tidur di ruangan ini juga di sebuah tempat tidur besar  dengan Santo tidur disebelahnya.  Perabotan lainnya hanya meja butut besar, sebuah meja serba guna  dan di pojok agak menjorok kesebuah sudut ada dapur atau pawon  dimana diatasnya ada tempat untuk menyimpan kayu bakar . Khas rumah pedesaan yang masih memakai kayu bakar

“Sekali lagi maaf Pakde inilah tempat tinggalku. Saya harap Pakde tidak kecewa dengan kenyataan ini.” Surti tiba-tiba bicara seperti mengerti pikiran Praba

“Jelas tidak ! Bukankah kemarin siang saya sudah kesini ?Juga tadi siang. Kalau saya kecewa tentu tidak kesini lagi. Selain untuk silaturakhmi dengan bapakmu saya kesini dengan hati agak cemas karena tadi siang rumahmu  kosong…..dan ….”

” Pakde tidak melihat kabel listrik , gembok dan lain-lain…!”  Surti langsung  memotong.

“Ya itulah sebabnya malam ini aku kesini terutama karena penasaran !”

“ Sekali lagi maaf.”

“Ah sudahlah, yang penting malam ini aku bahagia bisa melihatmu sehat !”

“ Silakan duduk di sini. Maklum tak mempunyai kursi lagi.” kata Surti menyilakan lelaki itu duduk di sebelahnya, di sofa panjang.  Sofa butut dengan penutup kain joknya sudah diganti dengan kain selimut loreng. Tanpa sengaja lengan Pakde menyentuh lengan Surti. Badannya dingin seperti es.Setelah itu  mereka semua diam. Bapaknya Surti tidur meringkuk seperti kedinginan, dan disampingnya Santo tidur pulas telentang dengan sarung tergulung di kakinya.

“Bapak sebetulnya sedang kurang sehat, namun tetap memaksa berangkat . Kalau musim tebang sudah lewat maka, peluang untuk mencari uang banyak secara cepat habis sudah.” kata Surti seolah-olah menjawab apa yang dipikirnkan Pakde.  Lalu bangkit menyeduh kopi.

“Badanmu dingin, juga wajahmu putih pucat.”

“Kan sekarang terang bulan. Kalau pas terang bulan badanku dingin tetapi sehat.”

“Tetapi wajahmu pucat, seperti sedang tidak sehat.” Pak Praba melihat wajah Surti memang pucat  sehingga bibirnya menjadi lebih merah.

“Begitu ya ….!” katanya  sambil tersenyum.

Senyuman yang membuat bulu roma Pakde  meremang

Setelah menaruh kopi panas di meja Surti bergegas ke kamar. Kamarnya kecil dan hanya ditutup dengan korden, ciri khas rumah gubug . Surti di kamar lama sekali sehingga Pakde tertarik untuk menyusul. Selain ingin tahu sedang apa di dalam lelaki itu juga mendapat perasaan aneh. Seakan-akan ada dorongan batin agar dia menyusul ke dalam kamar.

Kamarnya sempit dan gelap. Gelap sekali sehingga Pakde tidak tahu apakah di dalam kamar itu ada dipannya atau tidak. Tetapi di dalam tak ada Surti. Ketika senternya di nyalakan tidak mau menyala.  Malahan kemudian tercium bau harum. Semula ia menganggap itu bau khas kamar wanita . Bau kosmetik. Tetapi bukan. Bau harum setanggi  yang tidak disukainya

“Bulan sudah mulai menerangi halaman !” terdengar suara di luar. Pakde  menengok ke pemilik suara. Dan terkejut.Itu suara Surti. Seharusnya wanita itu masih di dalam kamar. Kalau akan keluar harus melewatinya karena ia berdiri di depan pintu kamar. Tetapi Pakde tak sempat berpikir lain kecuali menyusul keluar. Di dekat pintu ia bertabrakan dengan Surti yang akan masuk.Kali ini  ia terpaksa memeluk Surti karena  sempitnya pintu dan Surti hampir jatuh. Sekali lagi lelaki itu merasa badan Surti dingin seperti es.

“Maafkan saya Pakde ! “ kata Surti mundur mundur sambil menutup mulutnya, menguap.

“ kau pasti mengantuk !”

“Sekali lagi maafkan saya….!”

“ Bangun ! Pak bangun…..! Sudah siang ….” Terdengar suara membangunkan dirinya.

Dengan geragapan Pak Praba bangun dan melihat istrinya duduk di dekat kakinya sambil masih menggoyang-goyangkan kakinya yang lain.

“Lihat tuh matahari sudah tinggi ! ayam jago pun sudah berhenti berkokok karena sibuk mengejar-kejar para betina…..!”

“Uuhh maafkan saya Ma. Saya kesiangan!” Pak Praba duduk mengucek-kucek matanya.

“Bukan hanya kesiangan ! Papa juga mengigau. Memanggil-panggil Surti !”

“Apa …? Saya mengigau…dan memanggil-panggil Surti…?”

Istrinya tidak menjawab hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah begitu kuat cinta Papa kepada  Maria Surtikanti , sehingga walaupun sudah puluhan tahun berpisah dan masing-masing sudah beranak bercucu Papa masih juga mengenangnya ?”

“Ah tidak begitu Ma, Mama salah…! Awas minggir saya mau mandi !” Pak Praba berusaha mengalihkan arah pembicaraan. Dan langsung meloncat turun dan bergegas ke kamar mandi besar di belakang .

Di kamar mandi Pak Praba bingung.  Kenapa ia mengigau.Kata istrinya dia memanggil-panggil nama Surtikanti. Dia memang memberi  nama Surti kepada wanita yang tinggal di bantaran kali Pahit. Semula lelaki itu tidak mengerti tetapi kemudian ingat bahwa ia memanggil wanita itu dengan nama Surti singkatan  dari Surtikanti karena wajah  wanita itu mirip Maria Surtikanti  pacarnya waktu kuliah sebelum akhirnya terpaksa putus karena berlainan agama .

“Papa cepat mandinya dan antarkan saya Trenggalek.” Terdengar teriakan di luar.

Sore hari sepulangnuya dari Trenggalek istrinya sudah lupa dengan igauan suaminya, tetapi Praba masih terus memikirkan kejadian yang aneh itu.

Beberapa hari kemudian ia jalan-jalan lagi menyusuri saluran irigasi.

“Jangan jauh-jauh. Papa kan bukan mantri pengairan.” Istrinya mengingatkan.

Dalam perjalanan menuju ke rumah gubug  ia gelisah.  jalannya makin dipercepat.

“ Bila gubug itu mulai menampakkan diri maka, aku harus bisa menenangkan diri dan jalannya harus santai seperti tidak ada kejadian apa-apa.” pikirnya  Namun membeli jajanan buat anak-anak itu perlu, tepatnya untuk Santo, terutama Surti.

Menjelang ketujuan Praba merasa ada yang aneh. Rumah-gubug tak kunjung menampakkan dirinya .Disana memang tak ada bangunan apa-apa. Hanya ada seorang  lelaki tua  sedang menggali tanah membuat lubang.

Hatinya bergetar hebat.Beberapa kali di kucek-kucek matanya untuk meyakinkan  penglihatannya. Tanah di depannya ,di di bantaran kali Pahit tak ada gubug apapun.

“Hai rupanya Pak Askur yang sedang bekerja !”  Pak Praba menyapa dengan suara bergetar suara orang yang terhianati. Yang disapa berhenti bekerja dan tertawa ramah menampakkan mulutnya yang sudah ompong. . Pak Askur memberi tahu tidak bisa salaman karena tangannya kotor. Praba hanya tertawa getir.

“Sedang apa Pak Askur disini ?”Praba berusaha menguasai emosinya.

“ Membuat lubang  untuk menanam jati kebon! “

“Berapa lubang ? Mengapa hanya sendirian ?”

“Ah tidak banyak .Saya taksir paling banyak  200 sampai 350 lubang. Kalau hanya sebegitu tak perlu ada tenaga tambahan.”katanya sambil duduk di bawah pohon , untuk sarapan. Sebelum sarapan ia menawari Pak Praba. Tentu saja ditolak secara halus.

Saya juga mempunyai jajanan , dan kita makan bareng yuk!  kata Pak Praba sambil duduk di sebelahnya yang juga rindang. Mereka berdua makan tanpa bicara.

“Tanah ini siapa pemiliknya ?” suara Pak Praba memecah keheningan pagi.

“Setelah beberapa kali ganti pemilik, maka tanah ini akhirnya menjadi milik orang dari desa Gurah.” Pak Askur  memberi  penjelasan sambil makan.

“Dan tampaknya baru sekarang ada yang mengurus.”Praba mulai memancing berita.

“Nyatanya memang begitu. (Berhenti sebentar seperti mengingat-ingat ) Lalu menengok ke arah Praba.  Dan dilanjutkan .”Pak Praba rupanya bukan orang sini ya ?”

“Saya baru lima  tahun tinggal disini  Pak. “

“Pantas tidak  tahu….”katanya sambil minum  kopinya dari botol plastik bekas mineral.

“ Memang pernah terjadi apa ?” Praba pura-pura tidak tahu apa-apa.

“Berarti  bapak memang tidak tahu atau tidak pernah mendengar !”

“Ceritakanlah Pak.  Sepertinya menyeramkan!” pancingan Praba mulai kena.Namun lelaki itu  harus bersabar lagi agar Pak Askur menyelesaikan dulu sarapannya, di susul merokok  dua tiga isapan. Baru mulai bercerita..

Dulu ketika di negeri ini wanita di beri ijin mencari nafkah di luar negeri maka berbondong-bondonglah mereka berangkat keluar negeri. Tujuannya sebagian besar ke Arab Saudi. Kemudian Malaysia dan Singapura. Dan tenaga kerja wanitanya kemudian disebut TKW singkatan dari Tenaga kerja Wanita. Diantara mereka yang ingin menjadi TKW , ada yang bernama Juariah . Dia sebetulnya bukan keluarga  miskin  yang terpaksa merantau menjadi TKW. Nyatanya suami serta kerabatnya tak mampu menyadarkan dan melarang. Singkatnya wanita itu kemudian menjadi TKW di Malaysia. Setelah tiga tahun ada berita dia sukses besar sehingga bisa membeli rumah dan tanah . Semua kagum . Namun suatu hari terjadi keributan . Wanita itu minta cerai dan meminta kembali semua kekayaaannya yang berasal dari kerjanya sebagai TKW.  Singkatnya si wanita TKW tadi akhirnya berhasil mendapatkan semua hartanya kemudian menikah dengan lelaki  kaya dari Malaysia. Di saat yang sama mantan suaminya  harus pindah ke rumah gubug di bantaran kali Pahit. Untuk menyambung hidupnya mantan suami wanita tadi menjadi tukang  becak motor, dan kalau musim panen tebu ia menjadi kuli memborong pekerjaan menebang tebu. Dan anak gadisnya yang sebelumnya sudah bekerja di pabrik di Surabaya terpaksa pulang karena bapaknya kemudian sakit parah yang lama. Si gadis tampaknya ikhlas menerima nasibnya yang buruk tadi.

Suatu hari penyakit bapaknya kambuh lagi. Dan seperti yang diduga maka hutang sang bapak makin lama makin banyak selain untuk pengobatan dirinya juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dan penyelesaiannya seperti cerita lama , ada lelaki kaya mengaku sebagai tengkulak tebu mau menolong  dan menanggung semua hutang-hutangnya dengan cara yang mudah yaitu anaknya dijadikan istrinya yang ketiga. Sang gadis tak mau tetapi tidak berani menolak secara terang-terangan. Akibatnya terjadilah yang seharusnya tidak perlu terjadi .

Suatu malam lelaki itu datang ke gubugnya untuk silaturakhmi dengan calon istri. Bapaknya yang waktu itu masih sakit tidak bisa apa-apa kecuali tergolek lemah di ambin di ruangan itu juga. Mau tak mau sang gadis terpaksa harus menemui sang tengkulak. Setelah beberapa saat menjamu sang tamu dengan segelas kopi , si gadis minta ijin ke kamar sebentar. Kamarnya  sempit tidak berpintu kecuali korden atau kelambu yang sudah butut sebagai pengganti pintu. Karena merasa sudah menunggu lama maka sang tengkulak heran dan memberanikan diri masuk. Ternyata si gadis tidak ada di kamar yang gelap itu. Diambilnya senter dan diperiksanya kamar yang hanya berukuraan dua setengah meter kali tiga meter. Kamar itu kosong. Kemana perginya si gadis? Sekali lagi diperiksanya kamar itu. Ternyata dinding bambu di bagian pojok telah di lepas gapitnya dan beberapa ikatan bambunya juga telah putus. Rupanya si gadis sudah mempersiapkan pelariannya. Dengan menahan marah cepat-cepat sang tengkulak keluar memeriksa. Dari sebelah luar, dinding bambu yang telah terbuka itu menggambarkan bagaimana cara si gadis melarikan diri.

Apa yang terjadi selanjutnya tak ada yang tahu hanya besoknya , siang hari baru orang-orang tahu bahwa bapaknya si gadis telah meninggal. Dan anaknya lelaki yang masih berumur 10 tahun tidak mengerti kalau bapaknya telah meninggal sejak pagi hari dan kakak perempuannya juga telah pergi entah ke mana. Bagaimana selanjutnya tak ada yang tahu persis, yang pasti Polisi, dan aparat desa semua turun tangan…..” Pak Askur mengakhiri ceritanya.

“Selanjutnya bagaimana pak ? Misalnya bagaimana nasib anak laki-lakinya  yang masih 10 tahun itu ? Kemana perginya si gadis, Apa sebenarnya yang terjadi?” Praba mengejar dengan berbagai pertanyaan. Tetapi jawab pak Askur hanya satu yaitu “tidak tahu”

“ Kalau nama anak gadisnya saya kira bapak tahu ! Tolong diingat-ingat !” Praba dengan putus asa mengajukan pertanyaan yang terakhir.

“Namanya (mengingat-ingat lama) ..Rasminah….ya saya ingat namanya Rasminah .”  Pada waktu pak Askur menyebut nama adiknya Praba sudah tidak mendengar dan tidak berminat lagi, kecewa. Lalu ngeloyor pulang.  Tetapi belum sepuluh langkah Praba balik badan dan setelah menimbang-nimbang bertanya :

“ Kapan rumah gubug itu di bongkar ?…….Kira-kira saja Pak !”

“Kalau itu saya ingat karena saya diijinkan membawa pulang  selembar dindingnya .”

“ Baguslah, tetapi kira-kira  kapan itu ?”

“Tujuh tahun yang lalu !” jawab pak Askur.

“Tujuh tahun yang lalu ….?” Praba minta penegasan.

“Ya tujuh tahun yang lalu. Memangnya kenapa ?” pak Askur balik tanya.

“Ah Tidak ! Tidak apa-apa !”  jawabnya  sambil bergegas pulang. Hatinya kacau.

S e l e s a i .

Dipublikasi di Tak terkategori | Tag , , , | Meninggalkan komentar

SENANDUNG CINTA UNTUK SI BUNGSU . (Oleh Bintangrina )

“Aku duda tua tanpa seorang anakpun .Banyak yang menyebutku mandul karena sebelumnya aku sudah menikah lebih dari dua kali. Demikian pula dengan istriku. Ia juga di sebut mandul karena telah menjanda tiga kali tanpa seorang anakpun yang keluar dari rahimnya. Tetapi itu terjadi sebelum kami menikah.“ Pak Tomo mulai membuka diri.

“Bagaimana awal pertemuan Anda dengan istri Anda Mas.”tanya Pak Bintang.

“Di hajatan sederhana seorang kenalan, tanpa sengaja kami  bertemu dan berkenalan. Pertemanan terus berlanjut. Apakah ini namanya cinta atau bukan saya tidak tahu persis. Yang pasti kami memang makin sering bersama-sama. Akhirnya kami  menikah setelah kami merasa cocok dan senasib sebagai manusia mandul . Waktu tu keinginan mempunyai anak sudah tak terpikirkan lagi..“ Pak Tomo berhenti sebentar melihat anaknya yang tertidur pulas, di box bayi.

 

“ Selain itu aku juga anak tungggal. Perasaan tidak mempunyai saudara ini terasa setelah aku bersekolah. Libur panjang yang  menggembirakan semua murid, justru membuatku  sedih dan kesepian.  Ketika semua bercerita bahwa mereka berlibur di rumah saudaranya ,aku tidak karena aku tak mempunyai famili. Sedih sekali rasanya. Tetapi itu belum seberapa karena ada kejadian yang lebih menyedihkan. Ketika aku berumur 16 tahun , bencana datang. Kedua orang tuaku hilang dan tenggelam dalam kecelakaan laut. Seharusnya akupun ikut mati Namun nasib bicara lain. Aku diketemukan oleh seorang nelayan setelah berhari-hari terapung-apung di laut dalam keadaan pingsan. Selanjutnya yang membuat aku bisa bertahan hidup karena saat itu orang tuaku mewariskan beberapa rumah yang bisa dikontrak-kontrakkan. Yang menyedihkan adalah aku tidak pernah tahu apakah kedua orang tuaku mempunyai kerabat atau tidak karena sampai saat inipun tak ada orang yang mencariku atau mengaku saudaraku. Demikian juga yang dialami oleh seorang gadis, yang kini menjadi istriku .

 

Gadis itu anak seorang janda. Kisahnya berawal ketika bapaknya  ,seorang aktifis mahasiswa ,hilang tanpa kejelasan ketika penculikan lagi ngetren di negeri ini. Saat itu ibunya sedang mengandung dirinya . Padahal ibunya waktu itu belum menikah secara resmi dengan bapaknya. Ketika gadis itu berumur 16 tahun, ibunya yang tak pernah menikah lagi sejak anaknya lahir, meninggal dunia tanpa meninggalkan apa-apa, baik harta maupun kerabat.Nasib sang gadis selanjutnya sangat bergantung kepada kebaikan  hati tetangganya. Atas usul salah seorang tetangganya ia dinikahkan dengan seseorang. Maksudnya agar ia mempunyai seorang pelindung . Namun kemudian bercerai karena tidak kunjung mempunyai anak.  Demikian pula pada pernikahan yang kedua dan ketiga gadis malang itu tak mampu memberi keturunan  sehingga dianggap wanita mandul. Vonis tersebut membuat wanita itu frustasi dan hidup sendiri untuk waktu yang lama. Ia baru menikah lagi setelah bertemu denganku.

Anehnya setelah menjadi istriku ternyata dia bisa hamil dan mempunyai anak yang sehat.  Ia kami beri nama singkat Sri Asih.” temanku Sutomo berhenti berkisah untuk mengambil nafas. Rupanya menceritakan kisah sedihnya sangat menyedot seluruh energinya . Setelah berhasil mengatur nafasnya dan minum kopi yang masih tersisa, ia melanjutkan.

“ Betapa bahagianya kami berdua ketika anak kita lahir selamat apalagi istriku. Setiap kali ia menyusui bayinya ia berkata “Sekarang hidupku telah lengkap. Aku mempunyai suami yang baik,  hamil melahirkan bayi yang cantik dan menyusui bayiku dengan asi.”

Namun seperti yang sudah-sudah nasib berbicara lain. Ketika bayiku berumur sepuluh hari istriku sakit beberapa hari dan berakhir dengan kematiannya. Ia menderita demam berdarah. Betapa hancur hatiku  kau pasti bisa merasakannya. Kemanapun aku pergi bayiku selalu kubawa kugendong dengan selendang jarik istriku. Tanganku membawa payung untuk melindungi anakku dan tak lupa tas besar berisi pakaian bayi. Aku dan bayiku pergi kemana saja ,kususuri semua jalan yang kuanggap bisa membawa aku dan anakku bertemu ibunya.

Aku tak sadar kalau saat itu aku berperilaku seperti orang gila. Sampai suatu pagi setelah beberapa kali aku memergoki  Dik Bintang sedang mengambil fotoku tiba-tiba aku sadar aku telah berperilaku aneh. Dan itu tak boleh terjadi lagi. Kebetulan sorenya aku kehujanan di jalan  raya tanpa tempat berteduh dan Dik Bintang yang sedang melintas menawariku naik mobilnya.  Demi anakku aku mau menumpang mobil Dik Bintang. Itulah pertama kali sejak istriku meninggal aku bisa berkomunikasi dengan orang lain dan menceritakan nasibku. Waktu itu Dik Bintang menghiburku dengan mengatakan bahwa dia bisa merasakan kedukaanku karena saat itu ia juga sedang berduka. Dia juga baru saja kematian bayinya yang berumur 10 hari.  Walaupun kasusku dengan Dik Bintang berbeda,tetapi rasa sedih  karena di tinggal seseorang yang disayang  membuat kita merasa sangat dekat. Beban batinku agak ringan karena ada orang lain yang memahami diriku………” Pak Tomo berhenti mengatur nafas. Suasana hening.

 

Ketika semua sedang tenggelam dalam lamunannya  tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar dan dua gadis kecil menghambur masuk sambil tertawa-tawa. Tentu saja semua terkejut. Tiba-tiba terdengar tangis bayi. Tawanya hilang berganti rasa menyesal dan takut dimarahi oleh ibunya dan juga ada rasa bersalah. Karena itu mereka berdua bergegas menengok bayi yang menangis tadi.

“Ibu bayinya sakit !” kata si bungsu mengalihkan perhatian ibunya. Wanita setengah baya yang dari tadi gelisah kini makin tidak tenang karena pengaduan anak bungsunya. .

“Tidak  ! Sri Asih tidak sakit hanya mengompol  dan terkejut karena gaduh tadi.” kata Pak Tomo ayah si bayi sambil mengganti popok bayinya.  Tetapi si bayi terus menangis.

“Tetapi bayi ini memang sakit bu !” si Bungsu mengadu kepada ibunya.

“Tidak  Nduk, Sri Asih tidak sakit, ia hanya ingin minum susu.” Pak De Tomo juga bertahan dengan pendapatnya sambil bergegas ke dapur untuk mengambil termos.

“Dik Sarah benar! Sri Asih sakit. Coba dengar tangisnya menyayat hati.” kakaknya si bungsu sependapat dengan adiknya.Dengan bergegas nyonya Bintang bangkit menuju ke box bayi. Sambil berjalan di pijat-pijatnya payudaranya sendiri. Naluri seorang ibu telah berfungsi penuh. Dengan penuh kasih digendongnya Sri Asih ketempat yang lebih segar dan dibukanya kutangnya . Dengan tangis yang lebih lirih  si bayi  menengok ke sebelah kanannya. Tak lama kemudian si bayi dengan rakusnya menetek asi nyonya Bintang. Semua heran , apalagi Pak Bintang dan Pakde Tomo.

“Idih Adik Asih minum asi ibu, lalu bagaimana dengan susu botolnya ?” Sarah mulai berkomentar, sambil menunjukkan susu botolnya di depan Sri Asih. Tetapi Sri Asih nampaknya sudah tidak perduli sedangkan ibunya tetap asyik meneteki bayi tadi sambil mempersiapkan payudara yang sebelah kanan untuk gantinya  bila asi sebelah kiri sudah habis. Pak Bintang dan Pakde Tomo masih terheran-heran melihat kejadian yang dianggap luar biasa.

“Saya sudah sering mendengar  bayi di susui oleh wanita lain, tetapi baru sekarang menyaksikan  kejadian yang sebenarnya.” kata Pakde Tomo takjub.  Pak Bintang sependapat dan hanya geleng-geleng kepala kagum atas sikap istrinya yang tidak ragu-ragu menjejalkan teteknya ke mulut mungil Sri Asih.

“Hai Sri Asih…..berhenti dong neteknya. Ganti susu botol. Asi itu kan milik Sarah!” Si bungsu mulai menggoda Sri Asih. Tetapi si bayi hanya menengok sebentar ke Sarah lalu menetek lagi dengan nikmatnya. Sekali lagi yang menyaksikan tertawa kagum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aduuhh…. tidak menyangka    Asih sombong sekali . Tidak mau minum susu botol.”

“Iya  betul Kak. Asih sombong!” kata Sarah gemas sambil mengelus pipi Asih.

Tiba-tiba terdengar Sri Asih menangis  dengan tangisan nalangsa. Semua terkejut termasuk Pakde Tomo berdiri dan tertegun melihat anaknya menangis ketika akan dipindah oleh Bu Bintang  dari tetek sebelah kiri ke sebelah kanan.

“Kenapa kau Asih….?” tanya bapaknya sambil meminta kembali susu di pegang Sarah. Maksudnya akan diberikan kepada Bu Bintang. Tetapi ibunya Sarah ini juga sedang konsentrasi dengan Sri Asih yang menangis karena akan berganti dari tetek kiri ke tetek kanan.

“Sayang….Asih sayang….!” ujar ibunya Sarah membujuk.  “ Kak Sarah tidak meminta –asi-mu. Asih hanya berganti dari  tetek ibu yang kiri sekarang ganti yang kanan.” Tambah ibunya.

“ Pokoknya semua –asi- itu untuk Asih!” Sarah ikut menghibur Asih.

Sarah yang berumur 9 tahun berusaha berkomunikasi dengan Sri Asih ,bayi anak Pakde Tomo ,yang berumur 5 bulan. Ibunya Sarah juga membujuk dan meyakinkan Asih bahwa  tak ada yang berani merebut –asi- nya.

“Cup….cup….sayang  ,ibu hanya mengganti dari tetek kiri ke tetek kanan. Nah kini silakan netek lagi.” ujar Bu Bintang sambil menjejalkan teteknya yang sebelah kanan kemulut Asih. Dan langsung “disergap” oleh Sri Asih dengan rakusnya. Sepintas Bu Bintang melihat mata Pak Tomo berkaca-kaca sambil tangannya memegang botol susu yang tak sempat diberikan ke Sri Asih,

“Subhanallah, Alhamdulillah…” terdengar pujian lirih dari mulut Pak Tomo.

Ketika itu Sarah mengganggu Asih lagi. “ Hayo….sekarang ganti Kak Sarah yang mau menetek. Kakak mau pakai susu botol ini saja…..” ujar Sarah sambil pura-pura  ngedot dari botol Dan herannya Asih langsung menengok lalu terdengar  gelak tawanya Semua terhenyak heran. Ketika Sarah  mendekat akan meraba pipinya yang lesung pipit sekali lagi , cepat-cepat Sri Asih langsung menetek lagi. Takut kalau tetek ibunya di rebut oleh Kak Sarah. Asih merasa bahwa tetek ibunya itu hanya untuk dirinya. Akibatnya seluruh ruangan terhenyak kagum atas reaksi Sri Asih yang di luar dugaan tadi.Tanpa bisa di tahan lagi Pakde Tomo langsung menangis tersedu sambil sujud syukur kepada Allah.

“Ya Allah aku bersujud syukur kepadaMu karena Kau telah mengirimkan juru Penolong sehingga anakku bisa tertawa. …” Pak Tomo kembali tersedu. Sebuah tangis bahagia.

Sore harinya ketika keluarga Pak Bintang akan kembali ke penginapan , Pak Bintang meminta kepada Pak Tomo sebaiknya Sri Asih diserahkan saja kepada Bu Bintang. Ternyata tidak diberikan. Apaboleh buat padahal semua telah terlanjur menyayangi Sri Asih. Dengan wajah pias Bu Bintang menyerahkan Sri Asih kepada bapaknya demikian pula dengan Sarah dan Rina kecewa  karena mengira kalau Sri Asih bisa menjadi adik mereka selamanya.

 

Hari-hari setelah  pengadobsian Sri Asih yang gagal itu Pak Bintang merasa suntuk. Walaupun tidak seorangpun yang menyalahkan  dirinya namun rasa bersalah itu selalu menghantui perasaannya. Andaikata Pak Bintang tidak menceritakan nasib Sri Asih dan menunjukkan foto-foto Pakde Tomo yang menggendong  bayi seperti orang kurang waras ingatannya, pasti orang se rumah tak tahu bahwa ada bayi yang menderita karena kehilangan ibu dan  ketidak mampuan seorang ayah merawat bayi. Kejadian lain yang membuat hatinya kacau yaitu soal air susu istrinya.

Tak lama setelah bayinya meninggal dunia tiga bulan yang lalu, maka air susu istrinya sudah tidak keluar lagi karena memang tidak ada yang meminumnya. Namun gara-gara ingin menyusui Sri Asih minggu yang lalu di tambah dengan pijitan tangannya sendiri  maka payudaranya  menjadi aktif lagi memproduksi Asi (air-susu- ibu ) Dan sekali diaktifkan maka air susu itu akan terus keluar.  Dan setiap asi itu sudah membanjir memenuhi buah dadanya sampai membasahi kutangnya maka sang istri akan kesakitan dan terpaksa memompanya dibuang keluar.

“Setiap kali asi-ku penuh dan terpaksa kubuang aku terus terang sedih Mas.” rintih sang istri. “Coba Mas bayangkan , disini asi-ku kubuang karena tidak ada yang meminumnya, namun tidak jauh dari sini di di desa Cijulang ada bayi yang membutuhkan asi, dan hanya diberi susu botol oleh bapaknya yang bodoh dan sempit pandangan!”erang istrinya sambil menangis sedih.

“Saya juga bisa merasakan kekecewaanmu  Ma, namun kita harus sadar Sri Asih bukan anak kita. Bersabarlah…..”  suaminya menghibur.

“Bersabar untuk apa Mas ?”

“Siapa tahu tidak lama lagi Pak Tomo sadar selanjutnya Asih diberikan kepada kita.”

“Sabar itu ada tujuan yang ingin di capai Mas. Selain itu ada kegiatan yang nyata dan teratur untuk mencapai tujuan tadi! Kalau hanya berdoa-dan berdoa saja, sepertinya tidak akan berhasil .Salah-salah Sri Asih akan diberikan kepada  ibu yang lain , atau orang yang bisa membayar mahal Mas.” kata sang istri geram.

Semula sang suami hanya diam. Namun ketika  istrinya berkata bahwa kemungkinan  Sri Asih diberikan kepada ibu atau wanita lain yang berduit banyak, langsung tengkuknya meremang. Mereka memang bukan orang miskin, namun hal itu bukan berarti berduit banyak. Wajahnya tegang dan matanya merah tanda kalau   harga dirinya tersinggung

“Kita memang bukan orang yang berduit banyak Mas, tetapi belum tentu kita kalah karena kita mempunyai kasih sayang yang melimpah buat Sri Asih. “ Sang istri bicara seolah-olah bisa  memahami kerisauan hati suaminya sekaligus memberi semangat bahwa kasih sayang yang ada pada mereka pasti mempunyai nilai plus di mata Tuhan. Karena itu sang suami harus terus berjuang secara nyata untuk mendapatkan Sri Asih.

“ Kita harus berjuang membuka komunikasi terus-menerus kepada bapaknya Sri Asih.” istrinya usul  mengira suaminya belum pernah berusaha membujuk Pak Tomo.

“ Itu sudah kulakukan setiap hari. Mama kan tahu proyekku melewati rumah Pak Tomo. Juga rumah kontrakanku  hanya berjarak lima rumah dengan  tempat  Pak Tomo……”

“Kalau sudah kontak dengan Pak Tomo; mana jawabnya. ?“ sang  istri langsung memotong ucapan suaminya. Dan menambahkan,  “Ini sudah seminggu lebih, malam ini adalah malam yang kesepuluh. Tetapi tak ada berita dari Pak Tomo…..!”gerutu istrinya  sambil kembali mengelus-elus payudaranya yang subur.

“Setiap hari kuusahakan menemui Pak Tomo. Tetapi tak selalu bisa bertemu  karena dia sering bepergian…….” jawab sang suami frustasi.

Sementara mereka sedang membicarakan   Pak Tomo , maka di saat yang sama lelaki  yang mereka bicarakan sedang sibuk bebenah sambil sebentar-sebentar menggoyang-goyang ayunan bayinya agar Sri Asih mau diam. Akhir-akhir ini Sri Asih sering rewel dan menangis berkepanjangan sehingga Pak Tomo kebingungan. Ia tahu persis Asih ingin meminum asi bukan susu dari botol dot. Karena bingungnya ia sering bepergian seharian dengan tujuan  tak pasti, hanya untuk menghindari pertemuannya dengan Pak Bintang. Ia tidak rela anaknya diadobsi oleh Pak Bintang.  Sri Asih adalah  miliknya yang  paling berharga.  Tetapi anehnya Asih kini seperti membencinya. Bayinya sering marah-marah terus dengan menangis dengan tangisan yang berubah-ubah. Kadang-kadang menangis keras-keras tetapi tidak jarang tangisnya sangat menyayat hati. Belum lagi teror yang dialami di luar sana.

Hampir setiap hari datang dua orang yang membujuknya agar menyerahkan bayinya dengan imbalan uang yang banyak dengan alasan bahwa di tangan orang yang berkecukupan selain bapaknya memperoleh  uang yang banyak juga hidup anaknya akan lebih terjamin dan sehat. Kalau bujukan itu tak berhasil maka akan keluar jurus lainnya berupa ancaman akan dilaporkan ke Polisi bahwa bayinya itu adalah anak hasil penculikan disebuah klinik .Pak Tomo tidak takut karena ia mempunyai surat-surat lengkap perihal bayi tadi,dan ganti mengancam akan melaporkan kedua calo bayi tadi.

Ada lagi kejadian lain yang membuat harga dirinya terhina. Waktu itu ia sedang meletakkan bayinya di bangku panjang sebuah warung kosong  untuk mengganti popok yang basah karena Asih mengompol. Tiba-tiba ada dua orang wanita  datang kepadanya.Dengan bersikap  sebagai dermawan mereka memberi uang sedekah dua ribu rupiah. Pak Tomo sangat terkejut, malu dan marah karena itu berarti ia diangggap gelandangan yang  mengais rejeki dengan meminta-minta. Sejak hari itu ia tinggal di rumah terus. Tetapi itupun tak membuatnya tenteram karena orang-orang yang berbisnis bayi lain datang.

“Asih kau jangan rewel lagi ya karena malam ini juga kita akan jalan-jalan.” Kata Pak Tomo  sambil memeluk dan mencium bayinya dengan linangan air mata.

“Ada lagi yang mau dibawa Pak ….?” tanya  seseorang mengejutkan dirinya. Orang tadi adalah Pak Boim, tetangganya  yang menjadi sopir.

“Tidak! mari berangkat.Ini sudah malam. Dan selama saya pergi sekitar seminggu titip rumah ini. Tolong disapu dan di pel serta apa saja yang kotor agar di cuci.!”

“Beres boss. Pokoknya semua beres termasuk orang-orang yang akan membeli bayi bapak akan saya laporkan kepada pak Kades !”

 

Di malam yang sama pukul  setengah dua belas Pak Bintang dan istrinya belum tidur. Di depannya TV sedang menyala dengan acara yang Pak Bintang sendiri tidak tahu karena sejak pukul sepuluh malam ini sudah sangat mengantuk dan tidur  di kursi tamu. Tetapi istrinya uring-uringan  memaksa agar suaminya menemani nonton TV .jangan enak-enak tidur sendiri.

“Mama ini sebenarnya  kenapa ? Apa sakit atau bagaimana ,Kalau memang belum mengantuk kan bisa menonton DVD di kamar jadi Mama bisa terus nonton dan saya bisa tidur.”  kata suaminya dengan mata setengah tertutup.

“Pokoknya Papa tidak boleh tidur dulu, tidak boleh ke kamar. Saya tidak tahu mengapa tetapi rasanya saya ingin menangis, ingin marah, ingin berteriak-teriak  tetapi saya tidak tahu. Jadi Papa jangan tidur dulu. Temani Mama. Kalau sudah sangat  mengantuk boleh tidur di kursi sofa ini dekat Mama!”kata istrinya kesal.

“Sampai kapan Ma…….?”

“Pokoknya temani Mama saja!”kata istrinya judes.

“Duh Gusti Allah , saya mohon ampun, saya bertobat mengapa malam ini istri saya jadi kolokan begini…..”gerutu suaminya sambil menguap panjang. Lalu badannya merosot ke bawah mencari posisi tidur yang nyaman di karpet ruang tamu. Samar-samar telinganya mendengar mobil berhenti di depan rumahnya. Di susul celoteh beberapa orang ,antara lain Satpam-komplek Perumahan  ,yang sudah dikenal suaranya.

“Pa….Papa….itu ada mobil berhenti!” sang istri membangunkan suaminya dengan wajah tegang. Tangannya   beberapa kali menggoyang-goyang badan suaminya yang sudah tidur pulas.

“Heeh……paling-paling Satpam memeriksa mobil yang lewat !” gumam suaminya.

“Pa,,,,,Papa…itu ada suara orang bicara sambil membuka pintu pagar kita. Bangun Pa!” istrinya terdengar panik dan takut terus-menerus  menggoyang-goyang tubuh suaminya.

“Pa bangun!… ada orang masuk ke halaman ! Saya takut rampok !” ratapnya

Karena istrinya benar-benar ketakutan terpaksa sang suami yang baru saja terlelap terpaksa bangun.  Tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu. Mula-mula pelan tetapi kemudian makin keras. Pak Bintang dan istrinya tegang karena selama ini tidak pernah ada tamu tengah-malam . Di komplek Perumahan Indah kota Tangerang ini penjagaan nya ketat apalagi tamu tengah malam. Tetapi ketukan di pintu terus terdengar bahkan kemudian disusul percakapan lebih dari dua orang di depan pintu.

“Pa……Papa…..siapa itu….!” Sang istri ketakutan. sedang  suaminya langsung berdiri dan menyalakan semua lampu lalu bergegas mengintip melalui gorden.Namun belum mencapai  pinggir jendela , tiba-tiba terdengar suara lain yang lebih keras. Terjadi ketegangan yang lain lagi. Suami dan istri  saling pandang . Setelah suara itu tak juga reda  dan justru terdengar makin keras sang istri langsung berdiri dan lari seperti mau terbang.

“Itu suara Sri Asih……ia datang Pa !” pekik istrinya sambil langsung membuka pintu depan mendahului suaminya.  Setelah pintu terbuka  ketegangan pecah.

“Sri Asih anakku kau tiba nak !”  pekik sang istri gembira sambil merebut Sri Asih dari tangan Pak Tomo. Beberapa detik kemudian terdengar suara gaduh . Dua pasang kaki kecil turun dari lantai atas. Rina dan Sarah ikut bangun dan berteriak  gembira. Rupanya kedua anak itu juga tak bisa tidur, tetapi tak berani turun, takut kena marah.

“Awas minggir jangan menghalangi yang mau lewat.Buka lebar-lebar pintunya!” terdengar Pak Bintang menyuruh istrinya dan kedua anaknya bergeser dan pindah ke sofa besar.

“Buat apa membawa kasur  segala ?” tanya Rina  ketika melihat Pak Boim masuk sambil memanggul kasur ke dalam rumah.

“  Untuk tidur saya .” Pak Tomo yang menjawab.   “Sudah seminggu ini Sri Asih rewel juga mencret, setelah sembuh  malam ini langsung kubawa kesini.”  Pak Tomo menjelaskan.

.  “ Saya ikut menginap karena itu saya membawa kasur sendiri. Selama disini saya tidur dengan kasur di lantai tidak masalah  yang penting Asih sudah sampai disini!” Pak Tomo memberi penjelasan sambil menghampar kasur di tempat yang enak di kamar tamu tanpa bertanya dan tanpa perduli apa reaksi tuan rumah.

“Tunggu sebentar  biar saya buatkan kopi buat Pak Boim.” Pak Bintang menawari kopi. Tetapi Pak Boim yang juga sudah mengenal  Pak Bintang menolak karena ia akan segera pulang karena besok pagi ada order lagi.

Sepeninggal sopir, maka  semua mata terarah ke bayi yang asyik menetek.

Nyonya Bintang tiba-tiba wajahnya  pucat  dan Sri Asih dipeluk erat-erat ketika melihat  Pak Tomo menatap bayinya. Di matanya Pak Tomo seperti seekor monster  yang siap merebut Sri Asih. Wanita itu bertekad memertahankan dan tidak akan memberikan bayinya

“Sri Asih kini membenciku …..!”ucap Pak Tomo memelas.  “Aku juga sering bermimpi di datangi ibunya Asih. Aku dianggap egois! Karena itu  mulai detik ini dan seterusnya Sri Asih kuserahkan 100% kepada Pak Bintang. Besok kita urus surat-menyurat adobsi . Malam ini aku ingin cepat tidur melaporkan kepada istriku di akhirat bahwa Sri Asih telah berada di tangan yang tepat.” Pak Tomo mengakhiri penjelasannya sambil berlinang air mata.

“Mengapa menangis ?” tanya Bu Bintang tetap curiga Sri Asih akan di minta paksa.

“Ini adalah tangisku yang terakhir. Kini aku merasa  ringan dan bahagia karena Sri Asih telah berada di tangan yang aman .Dan ijinkan aku tinggal disini  sampai surat menyurat selesai.”  Pak Tomo menghela nafas . Rasa lega tergambar di wajahnya.

“Setelah itu Mas Tomo mau ke mana?”Kini Pak Bintang ikut gelisah seperti istrinya.
“Aku akan pergi jauh. Jauh sekali ke Indonesia timur menyusuri asal usulku. Kemungkinan besar  aku  tak pernah kembali.  Mulai detik ini dan seterusnya Sri Asih adalah anakmu. Permintaan saya  hanya satu , kelak kalau dia sudah dewasa beritahu siapa orang tuanya. Surat-surat, fotoku dan foto istriku ada di tas.”

“Sri Asih memang anakku yang bungsu. Allah telah mengirim untukku!” Nyonya Bintang langsung memotong  dengan ketus dan bergegas masuk kamar  serta ditutup . Sang suami hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku istrinya yang sangat garang.

Belum lima menit pintu kamar terbuka lagi.

“Rina ambilkan pakaian Sri Asih ! perintahnya  dingin kepada anaknya . Wanita itu tetap berdiri di muka pintu  kamar.Ia tetap khawatir kalau Pak Tomo masuk dan mengambil lagi anaknya. Pak Tomo hanya tersenyum  sambil memberikan tas berisi pakaian Si Asih kepada Rina yang  bergegas menyampaikan tas tadi sambil ikut masuk ke dalam kamar di susul adiknya.

“Hei payungnya ketinggalan !” Pak Tomo mulai menggoda  sambil  menunjukkan payung yang biasa dipakai kalau sedang memayungi Sri Asih.

“Tidak ! Aku tidak memerlukannya !” Jawab Bu Bintang  berang merasa di ejek sambil menutup pintu keras-keras.   Sedangkan Pak Tomo nyengir.

“Maafkan istriku Mas Tomo…..” Pak Bintang meminta maaf  khawatir kalau temannya tersinggung .

“  Tidak apa-apa .Saya mengerti apa yang dipikirkan istrimu. Ia berkhayal aku akan meminta kembali anakku. Perilaku istrimu itu membuatku makin yakin bahwa Sri Asih ada di tangan yang tepat.”diam sebentar  .” Oh ya tunjukkan  toilet dan……. selamat malam!”

“ Ke toilet terus saja lurus ke belakang lalu belok kiri.” kata  Pak Bintang sambil mematikan lampu kamar tamu. Semula ia akan terus ke kamar menyusul istrinya tetapi ia ingat dua anaknya tadi menyusul ibunya ke kamar. Jadi kamar pasti penuh. Karena itu di hempaskan badannya ke sofa. Sebelum ia terlelap telinganya sempat mendengar nafas yang teratur dari tamunya. Pak Tomo telah mendapatkan kembali kepribadiannya sebagaimana lelaki seharusnya.

Selesai.

Dipublikasi di Tak terkategori | Tag , , , , | 12 Komentar

N I R K A L A (Bagian ke tiga tamat )

(Oleh Bintang Rina )

Bagian tiga  tamat.

Jamal tidak tahu sekarang ini memang sudah sore atau belum karena kabut masih tebal . Setelah berputar-putar akhirnya ia menemukan jalan untuk kembali ke pabrik. Tampaknya hari memang sudah rembang petang.

Ia berhenti sebentar memeriksa sekitarnya sambil mengingat-ingat jalan yang menuju ke jalan Cagak. Setelah beberapa kali tersesat akhirnya jalan yang dimaksud ketemu juga,  walaupun makan waktu lebih lama. Namun demikian ia belum berlega hati sebab untuk sampai ke villanya ia masih harus berjalan setengah jam lagi dalam keadaan lelah dan pakaian basah oleh keringat bercampur  rerumputan dan butiran-butiran kabut.

 

Dengan langkah terseok-seok tak mampu berpikiran lain kecuali ingin segera sampai ke villa tuanya,lamat-lamat ia mendengar rengek bayi. Ketika ia menengadahkan wajahnya ia tertegun. Di bagian tembok yang rendah dari  kaki  tugu , yang biasa dijadikan tempat duduk oleh para pemetik teh  , saat ini tempat itu di duduki oleh sosok wanita penggendong bayi yang sudah sebulan ini ingin di temui oleh Jamal . Lampu kapalnya  diletakkan di tanah dekat kaki kanan si wanita misterius.

“Permisi….!” Jamal menyapa pelan.

“Om Yan…..oh maaf . Maksud saya Aden Jamal , Soalnya wajah aden persis sekali dengan Om Yan.” kata sosok wanita misterius  sambil berdiri lalu membungkuk hormat.

“Apa memang wajahku mirip  tuan Yan van Cipaganti…..?”

“Bukan hanya saya saja yang mengatakan demikian. Semua orang terutama para pemetik teh mengatakan wajah Aden Jamal persis Om Yan Cipaganti……..”

“Jadi memang  tidak salah kata Bibi Timah .” kata Jamal .Berhenti sebentar  “Boleh saya duduk disini ?” tanya Jamal. Tak ada jawaban hanya duduknya digeser.

Setelah itu suasana kembali sepi , sosok wanita itu sibuk menyelimuti  bayinya dengan selendang kain panjang yang sudah kumal. Hati Yan tersayat melihat pakaian wanita tadi, terutama kain panjang yang dijadikan selendang bayi. Lusuh dan pasti beberapa bagian sudah di tambal atau di tisik. Senja semakin gelap. Deru angin dingin bercampur kabut tebal membuat mlam semakin sunyi.

“Kata Bibi Timah namamu Ema  Betul ….?”

“Betul  Om…”

“Dan katanya kau pacaran dengan Alex.”

“Betul Om. Sepertinya Om Jamal sudah tahu  riwayat saya.!”

“Hanya sedikit. Misalnya hubungan Ema dan Om Alex tidak disetujui oleh keluarga Om alex, kecuali Om Yan. Selanjutnya katanya Om Alex kemudian pergi dan tak pernah kembali.” hanya itu yang kuketahui.”

“Memang demikian Om. Saya dan Om Alex sudah saling cinta. Lalu suatu hari Om Alex menjelaskan kepada saya bahwa di Eropa ada perang dan Om Alex  mendaftarkan dirinya sebagai tentara kerajaan Hindia Belanda. Saat-saat terakhir  itu adalah saat yang paling indah dalam hidup saya . Kami tidak lagi dilarang bergaul bukan karena keluarganya  menyetujui hubungan kami , melainkan agar Om Alex membatalkan niatnya menjadi tentara dan tetap tinggal di perkebunan,Tetapi tekad Om Alex sudah bulat ingin menjadi tentara.  Akhirnya Om Alex berangkat dan sebelumnya berpesan apapun yang terjadi ia pasti kembali demi  bayinya. Sejak saat itu saya setia menanti. Apalagi setelah anakku lahir maka saya makin setia menunggu kembalinya Om Alex. Tetapi tidak demikian dengan keluarganya. Setelah Om Alex berangkat , aku mulai diperlakukan dengan tidak semena-mena. Lebih-lebih setelah bayiku lahir dan Om Alex tidak ada beritanya maka hidupku di keluarga itu makin sengsara. Akhirnya aku pulang ke orang tuaku , di desa di perbatasan perkebunan ini Walaupun sudah tidak tinggal di rumah keluarga perkebunan,  namun  aku tetap yakin suatu hari nanti Om Alex akan pulang . Karena itu setiap hari aku menanti di jalan cagak. Selama itu hanya Om Yan yang masih memberi perhatian kepadaku dan bayiku. Kalau malam tidak jarang Om Yan membawakanku makanan atau jaket. Dan susu kaleng untuk bayiku.

Semula aku menunggu Om Alex setiap saat yaitu di sela-sela kesibukanku, baik siang atau malam.Namun akhirnya hanya kulakukan sore hingga malam hari saja. Soalnya kapan saja keluarga Om Alex melihat aku berdiri di sini  mereka pasti mengusir dan menghardikku. Sering aku di usir dengan disiram air seolah-olah aku ini anjing kurap yang disini memang banyak berkeliaran. Aku oleh keluarga Om Alex disamakan dengan anjing budug.  Hatiku sedih setiap ingat hal itu. Itulah asal muasalnya aku menanti Om Alex hanya pada malam hari di sini di jalan cagak.” Ema mengakhiri ceritanya sambil membetulkan  gendongan anaknya dan selendang lusuh  yang sudah  tipis dibetulkan posisinya agar bisa menghangatkan badan anaknya.

Setelah itu sepi. Deru angin dingin membuat Jamal menggigil.

“ Demi cinta dan kesetiaanku aku dan anakku ada disini menanti Om Alex pulang.” kata wanita itu sambil memeluk bayinya erat-erat agar tidak kedinginan. Sekali-sekali terdengar tangis lirih bayinya dan bujuk rayu lembut ibunya.

“Bagaimana kalau malam ini Ema  menginap di rumahku ? Disana banyak kamarnya dan suasananya lebih hangat. Bahkan kalau mau kau bisa tinggal disana  selama aku bertugas disini.” beberapa saat setelah  berkata demikian Jamal terkejut sendiri atas ucapannya yang tak dipikirkan sebelumnya.

“Om Yan dulu pernah menampungku disana. Karena villa itu memang warisan untuk Om Yan. Aku senang karena aku bisa memasak untuk Om Yan. Dan Om Yan sangat sayang kepada bayiku. Beliau selalu mengatakan bahwa bayiku ini adalah pengganti adiknya yang meninggal dalam peperangan di Eropa.”katanya sambil kembali menyelimuti bayinya.

“Ayo ke villaku sekarang saja semasih belum terlalu malam.” Sekali lagi Jamal berkata tanpa dipikirkan. Selanjutnya tanpa bicara lagi mereka berangkat ke villa tua, Ketika Jamal berusaha membantu membawakan lentera-kapalnya Ema melarangnya. Dalam perjalanan  menuju villa Jamal sulit memahami jalan pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin dia menawari agar Ema mau menginap  di villanya padahal selama ini ia termasuk lelaki yang gampang jijik dan selektip terhadap wanita. Tetapi mengapa ia dengan mudah menawari Ema menginap di villanya. Wanita seperti Ema dengan pakaian yang seadanya itu bau badannya pasti menyengat. Dan ia tidak suka. Tetapi kini ia bisa melupakan hal itu. Sambil berjalan tersandung-sandung dengan pikiran yang tak pernah terpusat ke suatu masalah hidungnya mencium bau yang harum .Mula-mula hanya sepintas lalu saja namun lama kelamaan bau harum dan melenakan itu makin jelas. Apalagi ketika angin bertiup susul menyusul bau wangi tadi sangat kuat terpancar  menyerang lubang hidungnya.  Ketika Jamal berusaha mendekati Ema untuk meyakinkan bahwa bau harum menyegarkan tadi berasal dari tubuh Ema, tiba-tiba langkahnya terhenti dan matanya memandang ke depan dengan rasa heran yang luar biasa.

“Villa itu terang sekali…….!” Jamal menggumam. Seingatnya  seharian ini dia belum pulang atau meyuruh seseorang agar menyalakan  gensetnya.

Ternyata Ema juga berhenti. Bahkan Jamal mendengar rintihan lirih bahwa Ema ketakutan kalau harus ke villa tua itu.

“Ema yang mengajakmu ke sana itu aku. Kau tidak usah takut…….!”

“Tetapi aku takut. Aku tidak mau disiram air, aku bukan anjing kurap….”

“Ema aku yang mengajakmu ke sana, aku yang akan melindungimu. Pokoknya kau aman bersamaku….” Jamal menghibur.

“Benarkah…..?”

“Kau harus percaya kepadaku !”

“Tetapi kau bukan Yan van Cipaganti !”

“Justru aku bukan Yan  van Cipaganti itulah aku tidak takut.  Aku tidak mempunyai dendam apapun kepada siapapun. Pokoknya kau aman bersamaku !”

Beberapa saat mereka berpelukan. Jamal seperti orang mabuk karena bau yang keluar dari tubuh Ema benar-benar harum dan membuat dirinya terlena..Hanya tubuh Ema terasa dingin sekali. Mungkin dia kedinginan.

“ Badanmu dingin Ema.Ayo kita masuk bersama-sama. Ajak Jamal

Ternyata pintu tidak terkunci. Berarti siapapun yang telah menyalakan genset telah tahu bahwa Jamal akan masuk, sehingga pintu tak perlu di kunci.

“Ayolah masuk. Di luar dingin.”Jamal membimbing Ema masuk. Ema celingukan kesana kemari .dengan wajah pucat. Ia ketakutan.

Ruangan besar tadi terang, bersih dan sepi. Jamal yang sudah sebulan ini ingin mengetahui lebih jauh tentang Ema ,kini bisa menatap wajah Ema. Ternyata dia memang cantik tetapi  pucat  seperti wanita yang ketakutan. Semula Jamal akan menghibur Ema sekali lagi agar tidak takut, tetapi ……….

“Kau tidak boleh ikut masuk Ema !”terdengar hardikan memecah sepinya ruang tamu. Jamal terkejut dan mencari arah suara tadi.

“Aku yang mengajaknya  kesini !” Jamal bicara tegas sambil memutar badan ke arah datangnya suara.

“Aku bicara kepada Ema!” Tuan Andreas Sukawati tahu-tahu telah ada di belakangnya.Wajahnya putih menakutkan ada luka di  kening dan  bibirnya.Pakaiannya basah kuyub penuh dengan ganggang  air, rerumputan  dan lumpur..

“Aku yang membawa Ema ke sini. Bayi yang digendongnya kedinginan. Aku pula yang bertanggung jawab atas emak dan bayinya malam ini !” Jamal tiba-tiba bersuara lantang.

“Terserah kau  Yance ! ini memang villamu! Tetapi orang tuamu melarang Ema masuk!” Tuan Andreas menjawab sambil membuka pintu .Maksudnya menyuruh Ema kluar

“Kau yang harus keluar tuan Andreas !”Jamal memerintah.

“Terserah kau Yance. Saya mau keluar.” kata Tuan Andreas berjalan keluar sambil membanting pintu depan.

“ Jangan banting pintu Andreas Sukawati !Aku bisa memecatmu !   dan mengembalikan ke asalmu di Pakidulan” Jamal membentak dengan mata melotot dan berkacak pinggang.

“Sabar tuan Jamal….sabar….” Ema berusaha meredakan emosi Jamal.

“Cara tuan marah persis marahnya Om Yan. Jadi tidak heran kalau Tuan Andreas ngeri menghadapi orang yang paling ditakuti di perkebunan ini.” tambahnya sambil mendekap bayinya.

Setelah emosinya reda Jamal kembali heran dengan perilakunya sendiri.

“Ini adalah yang kesekian kalinya aku bertindak tanpa kusadari “ pikirnya . Deru angin di luar menambah suasana ruangan besar itu lengang dan hampa

“Oh ya kau sebaiknya tidur di kamar sebelah. Dan biarkan pintu tembus  antar kamar terbuka barangkali kau memerlukan bantuanku, walaupun aku tidak mempunyai apa-apa malam ini. Tetapi kalau susu kaleng memang masih ada.”

“Tuan Jamal baik sekali. Dan lebih lembut dibanding dengan Om Yan.”

“ Begitu ya. Terima kasih. Mari kutunjukkan kamarmu soalnya aku sendiri sudah sangat mengantuk. “

“Tidak usah tuan. Saya sendiri bisa. Jangan lupa saya juga sudah pernah tidur di villa ini. Tuan tidur saja dulu.” Kata Ema sambil tersenyum cantik sekali. Selanjutnya tanpa berpikir untuk mandi atau ganti pakaian Jamal merebahkan dirinya di ranjang besar yang sudah ditiduri selama ia tinggal disini.

“ Ema andaikata kita sudah saling kenal sejak kemarin-kemarin , tentu semua menjadi lain. Dan saya yakin bayi itu akan menjadi lebih baik.” Jamal berkata dalam hati. “Kasihan Ema dan bayinya.” Gumamnya dengan pikiran yang semakin tidak terarah bahkan makin lama Jamal tidak tahu ia berpikir apa, “Aku sangat mengantuk…” gumannya lagi dan dalam sekejab dia telah pulas.

 

“Jamal…..Hei Jamal bangun!” Jamal mendengar ada orang membangunkan dirinya . Mula-mula suara itu terasa jauh dan samar-samar, tetapi makin lama makin dekat. Lalu ada yang mengguncang-guncang badannya.

“Pak Jamal bangun !” terdengar suara tak dikenal membangunkannya. Jamal membuka mata dan melihat ke sekelilingnya.  Ada tiga orang berdiri di sekitarnya. Salah seorang adalah temannya sekantor dan dua orang Linmas yang tak dikenalnya.

“Sudah!  Sudah !…dia sudah bangun biarkan benar-benar bangun dulu !”seseorang tak dikenal berkata.

“Benny !”

“Kau sudah bangun Jamal ? Mengapa kau tidur disini…..?” tanya Benny.

Jamal belum menjawab, dia duduk dan kemudian memandang ke sekitarnya berkali-kali. Benny dan dua Linmas yang mengantarkannya diam dan masih berdiri di sekelilingnya dengan serius dan sedikit khawatir.

“Jamal mengapa kau tidur disini ….? Di bawah pohon beringin kurung?”

“Tahukah Pak Jamal di mana Anda tidur….?” Tanya  salah seorang Linmas yang lebih tua.

“Coba bergeser sedikit , jangan menghalangi saya ?” dengan tangannya Jamal meminta Linmas bergeser sedikit dari tempatnya berdiri. Yang diperintah menurut sambil menengok kearah dimana mata Jamal tertuju.Juga Benny dan Linmas lainnya. Kemudian Jamal kembali melihat tempat di mana dia  tidur.

“Pak Jamal  tidur di makam tua Pak !” salah seorang Linmas menjelaskan, dan Benny mengulangi apa yang baru saja dikatakan oleh Linmas tadi.

“Jadi saya telah tidur di tanah. “

“Ya Jamal, kau telah tidur di sebuah makam tua yang sudah tidak terurus.” Benny menjelaskan lagi.

“Padahal tadi malam saya merasa tidur di sebuah villa atau bangunan tua.” Jamal menjelaskan. bingung.

“ Villa yang bapak maksud memang disini tempatnya.Tetapi itu dulu. Disini dulu memang pernah berdiri sebuah gedung yang megah tetapi kemudian di bongkar sampai rata dengan tanah atas perintah tuan tanah karena sering dipakai berbagai skandal. Agar tidak terulang maka  tanah ini dijadikan makam Ema,anak Ema dan tuan Yan Cipaganti. Orang ini kakak ipar Ema. “

“Mengapa kakak ipar,bukan suaminya.?”

“Suaminya seorang serdadu Belanda mati di Eropa.” Linmas yang lebih tua menjelaskan. “Pak Jamal tidak takut ?” tanyanya lagi.

“Tidak. saya hanya merasa tolol , mengapa hal ini harus saya alami. Memalukan !” Jamal bersungut-sungut sambil masih menggaruk-garuk bagian badannya yang gatal.

“ Kalau saya ini menakutkan.” kata Linmas tua.

“Dulu hal semacam ini pernah terjadi, tetapi itu sudah lama.”tambahnya

“Kalau orang selalu eling  atau sadar ke pada Tuhan yang Maha Esa, pasti tidak akan mengalami hal semacam ini.” Jamal menggerutu dalam hati menyalahkan dirinya sendiri.

“Mengapa makam kakak iparnya, bukan suaminya ?” tanya Benny yang tidak begitu memahami cerita Linmas tua tadi.

Suami Ema meninggal di Eropa pada waktu perang dunia ke dua. Tetapi Ema tak percaya , karena itu setiap malam Ema menggendong bayinya  berdiri di pinggir jalan Cagak menunggu suaminya pulang. Kakak iparnya  merasa kasihan dan sering menjemput dan mengajak Ema pulang . Namun Ema tetap bandel ia masih selalu menunggu Alex pulang. Dengan bermodalkan lentera kapal setiap malam ia datang ke jalan cagak dengan tetap menggendong bayinya menunggu suaminya pulang .Kakak iparnya yang bernama Yan Cipaganti  yang terlanjur sayang kepada Ema selalu menjemputnya.

Hal itu membuat pacar tuan Yan  marah, cemburu lalu kecewa karena tuan Yan  setia menjemput Ema , Lama kelamaan sang pacar tidak kuat lalu bunuh diri di rawa Balong di gunung Buleut.

Benny melihat jam tangannya . Hari sudah sore, kabut tipis mulai tampak

“Ayo kita kembali ke jalan. Mobilnya saya taruh sana .”Benny menjelaskan.

Tanpa banyak bicara mereka kembali ke pinggir jalan raya. Sambil berjalan kepala Jamal terus berputar-putar mengawasi  hamparan kebun teh yang sudah terlantar. Villa tua yang kemarin masih ada kini tak ada . Heran,

“Kau sangat terlambat menyusulku Ben.”

Terlambat bagaimana dan berapa jam ?” tanya Benny heran sambil terus berjalan.

“Kau terlambat bukan hanya dalam hitungan jam Benny. Kau terlambat tigapuluh lima hari , atau sebulan lima hari.” Ujar Jamal kesal.  “Kalau kau tidak terlambat maka hal aneh tak akan pernah kualami.” Tambahnya.

“Maaf Jamal. Kau menuduhku terlambat tigapuluh lima hari , berarti kau sudah tinggal di perkebunan ini sudah tigapuluh lima hari. Itu maksudmu bukan ?’tanya Benny heran, bukan marah. Juga dua Linmas  tadi.

“Kenyataannya memang demikian.!”Jamal menjelaskan.dengan mendongkol

“HP mu masih ada kan Jamal ?” tanya Benny,

“Betul. Memangnya mengapa ?” tanya Jamal sambil mengeluarkan HPnya.

“Tanggal berapa kau berangkat kesini dan kini tanggal berapa ?”

Jamal memeriksa HPnya kemudian menggeser-geser mencari sesuatu, lalu dia meminjam  HP nya Benny. Dan menyamakan kalender dari dua HP tadi.

“Pak Linmas tolong bacakan sekarang tanggal berapa di HP bapak ?” tanya Jamal kepada Linmas yang lebih muda yang saat itu juga ikut melihat kalender di HP jadulnya.

“Kalau menurut HP saya sekarang ini tanggal lima.

“Nah apa komentarmu Jamal ?” Benny kasihan melihat Jamal bingung

“ Jadi semua yang telah kualami itu berlangsung sebentar  hanya beberapa jam saja. Kenapa rasanya lama sekali. Seperti telah 35 hari tinggal di perkebunan ini.” Gumamnya. Dan mereka berempat saling pandang.

“ Andaikata itu benar-benar 35 hari berarti banyak sekali  pengalaman bapak.” Linmas tua bertanya tegang

“Berarti bapak telah memasuki dunia Nirkala.  Hiiiii takut ”kata  temannya..

“Apa itu dunia Nirkala…?” tanya Jamal dan Benny bersamaan.

“Saya tidak tahu persisnya, hanya orang-orang tua disini mengatakan bahwa dunia Nirkala atau ada juga yang menyebutkan dunia Nirwanci itu adalah dunia di mana waktu tidak berjalan.” Linmas yang tua menjelaskan.

Setelah itu mereka berjalan tanpa bicara. Masing-masing tenggelam dalam lamunannya.

“Apa di gunung Buleut ada gubug kecil yang didekatnya ada pancuran ?”

Kedua Linmas tadi diam berpikir dan mengingat-ingat.

“Sepertinya ada! Benar saya ingat masih ada. Letaknya ada di tikungan yang melebar . Gubugnya ada dipojok tikungan.Setelah itu jalanan lurus  dan menurun  terus menuju Rawa Balong.”  Linmas yang muda memberi penjelasan lebih luas kepada Jamal.

“ Syukurlah !jadi gubug itu memang ada!” Jamal bicara ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Itu memang bangunan tua, sudah ada sebelum perang  dan masih terpelihara sampai sekarang. Itu bukan sembarang gubug, tetapi sebuah mushola kecil tempat para peladang hutan dan buruh teh menunaikan sholatnya kalau pas ada di sana.” Linmas yang lebih tua menjelaskan.

“Jadi gubug itu memang mushola ya .” Jamal menggumam

“Bapak Jamal ingin sholat disana ?” tanyanya lebih jauh.

“Ah tidak, tidak perlu sejauh itu .Kan didepan sana kulihat kemarin ada mushola. Kita sholat ashar disana saja.”kata Jamal sambil mengucap syukur  dalam hati. Mushola kecil di Gunung Bulet telah membangunkan kembali kesadarannya yang tertidur oleh  kabut dari dunia masa lalu. dunia Nirkala.

TAMMAT

 

Dipublikasi di Tak terkategori | Tag , , , , , , , | 4 Komentar

N i r k a l a bagian dua

(Oleh Bintang Rina).

bagian dua

“Tuan Muda Yance itu kakaknya Tuan muda Alex.Mereka berdua sangat rukun dan tuan Yance sangat melindungi dan membela Tuan muda Alex. Ketika semua saudara-saudarinya mengutuk dan mengusir si Ema, justru Tuan muda Yance yang melindungi dan merestui  hubungan antara Tuan muda Alex dengan si Ema!” ujar Bibi dengan suara dipelankan wajahnya tegang. Matanya sebentar-sebentar melihat keluar dengan cemas seperti sedang membicarakan sesuatu yang terlarang.

“Nanti dulu pelan-pelan .Saya belum tahu siapakah nama Bibi dan juga siapa itu Yance, Alex,Ema dan entah siapa lagi yang semuanya belum pernah saya kenal. !” Jamal bertanya bingung.

“Saya Fatimah, namun disini lebih dikenal dengan panggilan Bi Timah. Sedangkan tuan muda Jance dan Tuan muda Alex, adalah anak-anak dari tuan besar perkebunan ini. “ berhenti sebentar, mengintip keluar dan melanjutkan bicaranya  dengan suara  pelan nyaris brbisik . “Ema itu adalah pacarnya tuan muda Alex. Mereka berdua sudah saling kenal sejak mereka berdua masih kecil, maklum di perkebunan yang luas ini yang ada hanya petani, buruh tani, pemetik teh . Mencari teman bergaul yang sederajad disini adalah mustahil . Karena Ema dan tuan muda Alex  sudah berteman sejak kecil maka, akhirnya mereka saling jatuh cinta. Makin di larang mereka berdua semakin nekat. Sampai akhirnya Ema hamil. Namun tuan muda Alex tetap menyayanginya dan menjelang kelahiran anaknya tiba-tiba tuan Alex mendapat panggilan wajib Militer .……..” Bi Timah menghentikan ceritanya dan dengan tergesa-gesa pamit lalu keluar pas dengan datangnya seorang lelaki dengan badan gempal dan wajah seram..

“Selamat pagi tuan Jamal…….”sapanya ramah.

“Selamat pagi!”

“Ah… ya ….singkat saja saya  kepala keamanan pabrik. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa tuan Andreas Sukawati kepala Pabrik mengundang Anda agar siang ini ke pabrik, dan itu kue Bolu kukus dari tuan Andreas. Mohon maaf Tuan besar belum sempat berkenalan dengan Anda.” Kepala Keamanan Pabrik langsung menjelaskan tujuannya tanpa memperkenalkan  dirinya.

“Oh ya. Kalau bapak sudah tahu nama saya tetapi saya belum tahu nama bapak .”

“Saya mandor Gopar. Maaf saya harus meninggalkan Anda  segera. Saya mohon pamit. Maaf ! tidak bisa menemani Anda lebih lama!”

“Nama kepala pabrik tadi siapa …..?”

“ Juragan Andreas. Lengkapnya juragan Andreas Sukawati.”

“Terima kasih tolong sampaikan saya kesana nanti agak siang!” Jamal menjawab kemudian menutup pintu dapur setelah itu dengan tergesa-gesa ke kamar mandi karena perutnya melilit. Satu jam kemudian dia telah siap untuk bertemu dengan tuan Andreas Sukawati. Ketika mau berangkat tiba-tiba dia ingat kue bolu kukus yang di bawa oleh Bi Timah. Bergegas di ke dapur. Di luar dugaan kue yang ada di piring itu kini penuh dengan semut. Menjijikkan karena ada kecoak melintas di atas kuenya. Apa boleh buat dengan hati-hati di buangnya kue tadi ketempat sampah.

 

Perjalanan ke pabrik makan waktu setengah jam . Biasanya sepi tetapi kali ini tidak .Hampir setiap saat Jamal bertemu dengan orang-orang desa. Ada juga pedagang kelontong keliling atau penjual es cendol.

“Hampir dua bulan aku tinggal disini namun baru hari ini aku bertemu dengan orang lain.” pikir Jamal.  “ Sapaanku selalu dibalas dengan anggukan dan senyuman tetapi tanpa ekspresi. Mereka  berperilaku seperti orang yang terpaksa tersenyum ketika hatinya sedang murung atau sedang berkabung . “

Makin dekat pabrik suara gemuruh mesin makin jelas terdengar. Sesampainya dia di muka pintu pabrik seseorang menjawil pundaknya sambil menunjuk ke satu arah di mana seorang tua botak dengan badan masih sehat ,untuk lelaki seumur dia , sedang sibuk berbicara dengan beberapa orang  yang selalu  mengangguk-angguk.Rupanya mereka sedang kena marah.  Tak lama kemudian mereka bubar. Ketika Jamal ragu-ragu orang tua tadi melambaikan tangannya memanggil Jamal. Bersamaan dengan itu beberapa buruh wanita yang sedang melayukan daun teh yang baru dipetik  menyibak memberi jalan agar Jamal bisa lewat disusul kasak-kusuk di punggungnya.

“Maaf baru hari ini saya bisa menjumpai Anda.”ujarnya ramah “ Kenalkan saya Andreas  Sukawati. Kepala  pabrik kecil ini.”  orang tua tadi memperkenalkan dirinya sambil bersalaman .

Orang tua yang berwibawa. Pikir  Jamal.

“ Saya Jamal Adi Baskara. Dari perusahaan pembangunan perumahan……”

“Disini wajah Anda lebih di kenal daripada nama Anda sendiri….” Tuan Andreas Sukawati berkata sambil tertawa ramah kepada tamunya.

“Oh ya …?! Apakah itu berarti  saya orang yang beruntung ?!” Jamal membalas sambil tertawa dan dalam batin dilanjutkan: “Apakah saya harus berbicara sambil berteriak-teriak….?” Jamal bising oleh gemuruh mesin

Suara mesin memang memekakkan telinga sehingga Jamal harus berkata keras, nyaris berteriak-teriak.

“Rupanya Anda terganggu dengan suara gemuruh disini. Tunggu sebentar ” Tuan Andreas menjawab seolah-olah tahu keluhan Jamal yang hanya diucapkan dalam hati. Terlihat kedua tangan tuan Andreas  melambai-lambai seperti seorang dirigen.Dan ajaib sekali tiba-tiba terjadi perubahan yang sangat tidak masuk akal. Suara mesin yang  gemuruh dan celoteh para para buruh yang semula hiruk pikuk berubah menjadi pelan seakan akan dia menonton kegiatan pabrik teh di sebuah TV yang suaranya dipelankan.

“Bagaimana…..? Apa sudah tidak mengganggu lagi ?” tanya tuan Andreas sambil tertawa  setengah mencibir.Sinis. Jamal hanya tertawa dan mengangguk.

“Anda pasti bertanya apa artinya wajah Anda lebih di kenal daripada nama Anda bukan ?!”lagi-lagi Tuan Andreas  bisa menebak yang ada dipikiran Jamal

Sekali lagi Jamal tidak menjawab hanya mengangguk membenarkan. Matanya menyapu sekitarnya dan semua orang memang sedang memperhatikan dirinya.

“Wajah Anda mirip sekali dengan wajah anak pemilik perkebunan ini.”

“Mirip ? Siapa orang itu ?” sekali  lagi Jamal melihat sekelilingnya dan wajah-wajah yang tadi memperhatikan dirinya kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya..

“Orang itu Yance. Tepatnya Yan van Cipaganti ! Dia kakaknya Alex .” Tuan Andreas berkata sambil menatap tajam Jamal, seperti mengharap suatu jawaban atau komentar yang sangat ditunggu-tunggu.

“ Alex, Yan van Cipaganti atau siapapun orang-orang disini ,saya tidak tahu apa-apa  .” Jamal berkata sambil mengangkat bahu.Masa bodoh.

“Anda memang tidak pernah tahu apa-apa Jamal ! “ tiba-tiba suara tuan Andreas menjadi keras. Tersinggung.

Jamal  terkejut bercampur heran tak mengerti.

“Saya memang tidak tahu apa-apa tuan !” Jamal menjawab serius.          Tuan Andreas  diam . tampak kalau ia menahan marah.

“Kau memang  telah lama pergi ! .Namun itu bukan alasan bahwa kau tidak tahu apa-apa. Kau masih muda Yance dan kau pergi belum sampai lima tahun. Itu artinya kau masih ingat semuanya. Kepergianmu tidak bisa kau pakai sebagai alasan untuk tidak tahu apa-apa atau lupa! Saya serius Yan van Cipaganti!!” Tuan Andreas  Sukawati meradang sambil menunjuk-nunjuk wajah Jamal.

“Masalahnya…”Jamal berusaha menjelaskan tetapi langsung di potong

“Kau mungkin bisa  membohongi orang lain hanya dengan mengganti namamu entah menjadi Frans, Atau Memet atau Jamal sekalipun….”Tuan Andreas  menatap tajam Jamal dengan wajah merah padam menahan marah.    “ Tetapi tidak bisa menipuku !” Setelah itu pandangannya menyapu sekitarnya. Jamal mengikuti apa yang sedang di lihat oleh Boss pabrik . Tak mengerti. Ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa kecuali pabrik yang semula terdengar pelan seperti televisi yang dipelankan suaranya kembali hiruk pikuk dan bergenuruh karena kemarahan tuan Andreas. Jamal penasaran. Sekali lagi lelaki muda tadi mengulangi menyapu pandangannya ke seluruh areal pabrik. Beberapa detik kemudian dia terkejut dan telinganya mendadak sakit. Kini pabrik bergemuruh hebat melebihi yang tadi. Seolah-olah ada lima atau lebih lokomotif berlari kencang . Bukan itu saja kini pabrik menjadi gedung yang besar dan berisi ribuan orang berteriak-teriak  histeris. Tangannya  diacung-acungkan seperti massa yang marah dan siap mengamuk.

“Mengapa  tiba-tiba banyak orang dan semua menjadi  gila ? Mengapa mesin pabrik itu tiba-tiba bergemuruh lebih kencang lebih dari yang seharusnya. ?” Jamal pikirannya kacau dan menutup telinganya .

Ditengah suasana yang menakutkan dan tidak dimengerti ia melihat mulut tuan Andreas bergerak-gerak seperti sedang bicara. Anehnya Jamal bisa mendengar dengan jelas suara tuan Andreas. Boss pabrik itu sedang mengumpat dan memaki dirinya. Orang tua tadi sedang  menuduh bahwa dirinya yang menyebabkan kematian anak gadisnya.

Otomatis Jamal  ganti berteriak dan meraung-raung menolak mentah-mentah tuduhan itu.

“ Saja menolaknya karena saya adalah Jamal Adi Baskara dan bukan Yan van Cipaganti. Saya juga tidak tahu menahu siapa anak tuan Andreas! Dan…….”

Tetapi tuan Andreas tidak mau mendengar  dan tetap menuduh bahwa Jamal sebenarnya adalah Yan  van Cipaganti .Akhirnya tuan Andreas mengajak Jamal keluar pabrik. Karena Jamal merasa tidak bersalah maka Jamal menurut bahkan penasaran. Ketika diajak naik truck tua berdua saja ia tidak menolak.

“ Mau ke mana ini?” Jamal bertanya dalam hati.

“Kita ke Gunung Buleut !” jawab Tuan Andreas seolah tahu apa yang ditanyakan Jamal. Truck tua dengan cepat keluar wilayah pabrik.

“ Disana mau apa ! “ Jamal bertanya langsung .Tengkuknya meremang.

“Kau bisa berpura-pura tidak tahu, atau berlagak lupa. silakan saja  ! Yang pasti sebentar lagi kau akan tahu dan saya yakin kau akan menyesal!” kata lelaki tua tadi dengan geram, sambil memelototi Jamal penuh kebencian.

“ Lima tahun aku menyimpan dendam dan sakit hati kepadamu Yan ! Lima tahun itu cukup lama!” tuan Andreas Sukawati terus berbicara dengan  dendam membara mewarnai wajahnya. Kebenciannya kepada lelaki yang dikira Yan van Cipaganti dilampiaskan dengan menginjak pedal gas dalam-dalam sehingga truck tua itu terguncang-guncang karena selain jalan yang berbatu-batu, juga banyak kelokan tajam dan jalan menurun.  Kabut tebal datang bergulung gulung.

“Hati-hati !, jalan berkabut ! nyalakan lampu! ” Pekik Jamal .

“Kau tidak usah mengajari aku Yan ! Aku telah menjelajahi daerah ini ketika kau masih memakai popok. Yang pasti sebentar lagi kau akan menemani Anna  putri kesayanganku!”Tuan Andreas masih terus berkata tanpa mengurangi injakan kakinya ke pedal gas sehingga truck tua itu makin  tak terkendali.

“ Sekali lagi kuingatkan bahwa Aku Jamal  Adi Baskara  Tuan! Bukan Yan van Cipaganti !” Jamal berteriak keras-keras untuk menyadarkan lelaki botak disebelahnya. Tetapi tuan Andreas hanya menengok sebentar dengan mulut mencibir. “Kau mulai takut Yan ! Sebentar lagi kau akan kencing di celana!”

Di jalan yang menurun , berbatu dan berkelok-kelok tajam itu truck berlari kencang seolah-olah truck tua itu menyatu dengan seluruh emosi tuan Andreas yang sedang mata gelap.

Menjelang menikung ke kanan tiba-tiba mesin batuk-batuk, kecepatannya berkurang banyak  namun suara yang menderum-derum menunjukkkan bahwa tuan Andreas terus menginjak pedal gas Setelah melewati satu tikungan kekanan yang agak lebar truck kembali melaju kencang .Beberapa saat sebelum truck kembali melaju  Jamal sempat melihat di pojok kiri tikungan ada sesuatu yang luar biasa.

Ditengah kabut yang gelap dan berangin ia melihat gubug kecil .Didekatnya ada pancuran. Yang aneh di tempat yang gelap berkabut gubug tadi tampak terang bersih dan nyaman. Ia hanya melihat sekejap. Beberapa detik kemudian truck kembali berlari kencang Namun gubug kecil dengan air mancurnya telah memancarkan pesonanya sangat kuat dan membekas di hati dan pikirannya. Jamal merasa sedikit tenteram ,melihat  gubug kecil yang kelihatan bersih dan lebih terang .

“ Aneh ! Gubug apa itu ? mengapa tampak terang di tengah kabut tebal ini Mengapa hatiku bergetar?” pikirnya sambil kepalanya berputar mengikuti gubug yang “berlari cepat” ke arah yang berlawanan dengan larinya truck. Ketika jalanan lurus ke bawah dan truck kembali melaju dengan kecepatan tinggi, seharusnya Jamal memusatkan konsentrasinya pada keselamatan dirinya sebab telah berkali-kali kepalanya terbentur-bentur bagian dalam truck yang kini terus meluncur di luar kendali. Tetapi itu tak diperdulikan. Jamal tak perduli apapun, ia tak perduli dengan tawa menyeramkan dari tuan Andreas, ia tak perduli kepada kabut yang semakin tebal yang menghalangi pandangannya. Ia tak perduli dan menepiskan lengan tangan kiri tuan Andreas yang mengguncang-guncang pundaknya. Justru ia ingin melihat kembali gubug kecil yang baru saja dilewati. Gubug kecil yang terang di tengah kabut.Sambil memegang erat-erat gagang pintu truck ia berusaha membuka kaca jendela . Macet.

“Sebentar lagi kau akan menyusul Anna putriku satu-satunya berbulan madu di rawa balong!” tuan Andreas kembali tertawa menyeringai sambil berusaha sekali lagi mengguncang-guncang pundak kanan Jamal.

Tetapi kemauan Jamal sudah sulit di tebak. Dengan tangan kanannya ia  berusaha menepis tangan tuan Andreas yang menggoyang-goyang pundaknya Dengan tangan kirinya ia berusaha membuka pintu truck agar bisa meloncat keluar Ketika laju truck makin tak terkendali dan kabut semakin menebal tiba-tiba truck oleng ke kanan dan ke kiri dan pada satu guncangan yang hebat Jamal terlempar keluar bersamaan dengan lepasnya pintu truck tua.  Untung dia jatuh di rerumputan dan tidak tertimpa pintu truck yang ikut lepas pada waktu dia meloncat keluar. Selanjutnya ia berguling-guling di rerumputan.

Sebelum pingsan ia masih sempat melihat kemana arah perginya truck tua tadi dan samar-samar telinganya mendengar suara barang besar dan berat tercebur ke dalam air. Truck tua perkebunan itu tercebur  dan pelan-pelan  tenggelam ke dalam rawa balong berikut penumpangnya tuan Andreas Sukawati.

Entah berapa lama Jamal tak sadarkan diri namun ketika ia telah siuman dengan terhuyung-huyung ia berusaha melihat kebawah ditempat di mana truck kecebur rawa. Dengan ekstra hati-hati ia mendekat ke rawa.  Betapapun ia berusaha memperhatikan rawa yang ada di bawahnya tetapi ia tak melihat apa-apa. Kabut masih tebal dan sepi. Jamal tak menemukan bekas-bekas apapun yang menunjukkan ada truck kecebur rawa. Dengan masih sempoyongan ia kembali ke perkebunan.Tetapi tidak mudah karena  selama ini ia belum pernah ke sini. Yang penting hari ini ia harus kembali ke villanya. (Ke bagian tiga tamat).

 

Dipublikasi di Tak terkategori | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar