Tulisan Istimewa

Jujur atau murah…..pilih yang mana.(oleh Bintang Rina )

Menunggu  panggilan di  siang yang panas dan sibuk  memang tidak menyenangkan. Untung di ruang tunggu BRI ada AC-nya dan tempat duduknya cukup banyak jadi para nasabah tidak kegerahan. Untuk mengisi waktu yang kosong aku memperhatikan orang-orang di sekitarku.

Di barisan kursi didepanku ada beberapa ibu yang sedang asyik berceloteh. Memperhatikan penampilan mereka yang cukup pantas dan gerak-gerik yang cekatan tampak sekali kalau mereka itu wanita pengusaha yang profesional. Istilah lokalnya mereka itu “mbok bakul  masa kini.“ dengan  beberapa kartu ATM di dompet mereka, dan tas besar kumal yang berisi uang jutaan rupiah untuk di setor ke BRI. Siang itu mereka sedang membahas sebuah kasus yang tidak berkaitan dengan bisnis mereka.

Sambil menunggu panggilan aku menguping.

Topik yang dibahas  soal mem-plester teras dapurnya. Ibu Pertama meminta pendapat  apakah biayanya kemahalan. Ibu Kedua menjawab bahwa ongkos tukang tembok memang sebegitu. Ibu Ketiga tiba-tiba nyeletuk  bahwa untuk hasil kerja yang seburuk itu biaya sebanyak itu termasuk kemahalan. Komentar ibu Ketiga tadi membuat ibu Pertama kecewa dan memandang kembali ke ibu Kedua seolah olah meminta penjelasan atau dukungan. Di luar dugaan ibu Kedua menjawab bahwa pendapat ibu Ketiga tadi  benar yaitu dengan hasil kerja yang buruk seperti itu memang termasuk kemahalan. Ibu Pertama langsung wajahnya pucat, dan kecewa berat. Percakapan terhenti sejenak karena ada panggilan dari teller. Di luar dugaan wanita lain katakanlah ibu ke Empat yang juga sudah mengenal mereka berkomentar bahwa  ongkos tukang seperti yang dikatakan ibu Pertama  terlalu murah.

“ Terlalu murah untuk  seorang tukang. Kan sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa ongkos tukang memang lebih tinggi lagi dari ongkos kenek bangunan.. Dan sampeyan sudah setuju bukan ?” ibu keEmpat langsung menunjuk hidung. Ibu Pertama mengangguk mengaku.

“Lalu mengapa tukangnya hanya dibayar sama dengan ongkos kenek bangunan ?” tanya ibu ke Empat berang.

“Karena kata ibu ke Dua  ongkosnya pantasnya hanya seperti yang telah terjadi kemarin itu.” Ibu Pertama membela diri sambil sekali lagi memandang ibu ke Dua. Wajahnya masih pucat.

“Apa dasarnya ibu mengurangi ongkos tukang ? Bukankah semula sampeyan sudah setuju dengan saran saya?” ibu ke Empat gemas menggeleng-gelengkan kepalanya,” keterlaluan !”

“Soalnya tukangnya mau menerima dan tidak berkata apa-apa lagi.” Ibu Pertama membela diri.

“Anda ternyata tega kepada wong-cilik !  Jangan kaget kalau lain waktu tak ada tukang yang mau datang  kalau di panggil !”  ancam ibu ke Empat yang  hatinya penuh kasih. Ia kecewa atas sikap ibu Pertama. Tetapi ibu ke Dua langsung memotong :”Jangan khawatir masih banyak tukang lain! Nanti saya carikan kalau memang perlu!”

Percakapan terhenti karena ada panggilan  dari teller, berturut-turut. Tak lama sayapun dipanggil ke bagian penggantian nomor PIN baru. Percakapan di ruang tunggu BRI  Saya tinggalkan

 

Malamnya  karena belum mengantuk  pikiranku mengembara kemana-mana dan akhirnya hinggap ke percakapan  para mbok bakul professional di BRI tadi siang  .

Pokok pembicaraan  tadi siang itu sederhana dan sudah sering terjadi, namun membangkitkan minatku karena dibalik omong-omong  sederhana tentang murah atau mahal sesuai dengan hukum bisnis yang sudah berlaku umum, tiba-tiba ada seseorang yang menganggap transaksi tadi tidak sah.

Ibu Pertama  membayar ongkos tukang bangunan dengan sejumlah uang, yang nilainya lebih rendah dari janji sebelumnya.Karena tukang bangunannya menerima upah tadi tanpa protes dan langsung pulang, maka persoalannya dianggap sudah selesai. Pendapatku pun demikian.

Tetapi transaksi tadi menjadi menarik karena ibu ke Empat yang semula diam seperti acuh-tak acuh tiba-tiba mengatakan bahwa Ibu-Pertama telah berbuat tidak jujur karena tidak menepati janjinya.Seharusnya ibu Pertama membayar tukang tersebut 100% sesuai janjinya, tetapi nyatanya hanya membayar 80% dari yang pernah dijanjikan.  Menurut ibu KeEmpat , janji ibu Pertama itu telah didengar dan disaksikan  sendiri . Pelanggaran janji inilah yang kini diprotes oleh ibu KeEmpat. Dengan ucapan ibu ke Empat ini aku jadi berminat. Dan transaksi tadi kuberi judul:   kasus ibu Pertama : JUJUR atau MURAH  pilih yang mana.

Sebagai komentator imajiner komentarku sebagai berikut:  Kalau ibu Pertama mendapat dukungan dari teman-temannya dan menganggap bahwa urusannya sudah selesai , bagiku belum.Soalnya ibu Pertama yang sudah terlanjur berjanji akan membayar ongkos tukang  100%  belum ditepati. Memang janjinya hanya terucap dalam hati , namun janji tetap janji jadi harus ditepati . Apalagi nyatanya sudah ada saksinya.

Namun sikap dan pendirian  yang dipegang oleh ibu Pertama lain. Baginya janji yang masih didalam hati itu kalau dilanggar tidak apa-apa karena tidak merugikan siapapun, sikap ini bisa kupahami walaupun salah dan sudah umum terjadi.

Demikian pula sikap ibu ke Empat yang berpendirian bahwa janji itu walaupun baru diucapkan  didalam hati , harus ditepati , apalagi ada saksi , hal itu justru memperjelas masalahnya . Aku juga sepakat dengan pendirian ibu ke Empat . Lalu bagaimana solusinya ?

Menurut ajaran pengolahan jiwa yang berdasarkan KeTuhanan yang maha Esa  , Janji adalah sikap batin yang masih harus diwujudkan dengan jujur,baik dan benar . Soalnya nilai sebuah janji terletak pada  pada kejujurannya waktu mewujudkannya. Singkatnya Jujur mengandung arti mewajibkan diri menepati janji , walau hanya terucap dalam hati. Kalau ada orang yang mendengar janji tadi , maka janji tadi ada yang menyaksikan. Dalam kasus tadi siang  janji ibu Pertama tadi disaksikan oleh ibu ke Empat. Dan ibuKeEmpat sudah memprotes.

Bahwa ibu Pertama menolak memenuhi janjinya  alasannya memang masuk akal, karena sejak semula tukang bangunannya tidak diberi janji apa-apa.  Dan tukang bangunan memutuskan lebih baik bekerja daripada menganggur. Akhirnya tercapailah  kesepakatan  transaksi antara mereka. Tukang bangunan mendapat pekerjaan , dan ibu Pertama membayar lebih murah dari yang dijanjikan. Ibu Pertama tidak menipu dan tidak merasa mengingkari janji,karena janji tadi telah diwujudkan . Hanya jumlahnya  kurang dari yang seharusnya yaitu 80% saja.

Malam  ini sebelum terlelap, aku telah memutuskan tidak bisa menerima cara berpikir ibu Pertama.  Kalau sudah berjanji dalam hati tetapi kemudian prosentase kejujurannya dikurangi sedikit hanya sekian persen saja , hingga tidak sampai 100% maka disinilah letak beda pendapatku , juga pendapat ibu ke Empat,terhadap ibu Pertama tadi.

Bahwa soal janji adalah soal dipenuhi janjinya 100% atau hanya sebagian adalah soal pertanggung-jawaban batin masing-masing, karena apapun yang kita janjikan  , baik yang sudah terucap atau masih dalam hati selalu ada saksi abadi yang menuntut pertanggung jawaban kita . Saksi itu adalah Allah Tuhan seluruh jagad-raya.  Jadi kita harus selalu sadar  bahwa  kita tak pernah sendirian. Allah selalu bersama kita. Jadi jangan sekali-kali menganggap kita bisa berbuat kurang bertanggung jawab karena kita sebenarnya tidak pernah sendirian.

S e l e s a I .

 

 

 

Iklan

Tembang kenangan(oleh Bintang rina )

Pak Garang   yang sudah meninggal enam  tahun yang lalu sore ini  muncul kembali dalam ingatan Pak Lan setelah melihat cucunya bermain dengan teman-teman  sebayanya  di halaman mushola  sebelum belajar mengaji.

“Dia  anaknya Pak Sudar bukan ?” tanyanya   tanpa menengok.

“Betul ! ”  jawab Pak Jupri sambil menutup gudang  mushola, sedang Pak Lan masih menatap Rizal anak Pak Sudar yang sedang bermain karet-gelang  dengan cucunya.

”Apa ada yang menarik ?”

“Ah tidak ! Tidak ada!”jawab Pak Lan sambil menghindari tatapan mata sahabat tuanya , tetapi tak urung terucap juga komentar dari mulut Pak Lan.  “Pak Sudar ternyata masih mempunyai anak kecil.” dan di teruskan, “Setua itu masih mempunyai anak sekecil itu cukup mengherankan!” tambahnya.  Namun beberapa detik kemudian Pak Lan tersadar.“Astaga ! Mengapa aku jadi usil begini.” Di goyang-goyangkan kepalanya seakan ingin membuang gambaran yang ada di pikirannya.

“Apa sampeyan benar-benar belum tahu soal ini ?” tanya si Sahabat  siap memberi penjelasan karena menduga  Pak Lan belum tahu.

“Ah aku sudah tahu !” jawabnya sambil terus mengawasi cucunya dan anak Pak Sudar  berbaris bersama teman-teman kecil lainnya  masuk ruang belajar.Tak lama kemudian dari ruang belajar mushola terdengar suara anak-anak mulai mengaji.

“Tetapi  apakah sampeyan  sudah tahu siapakah Pak Sudar itu ?”

“ Sudah ! saya sudah tahu ! Pak Sudar kan orangnya setua kita bukan ?” jawabnya cepat.

“Tetapi apakah sudah tahu istrinya ?” si teman cepat memotong penuh semangat. Dan tanpa sadar Pak Lan tertular ikut bersemangat. Soalnya dia belum tahu

“ Belum !Ceritakanlah !”

“Istri Pak Sudar cantik dan energik walaupun dia hanya orang desa .” ujar Pak jupri gairah.

.”Anak kecil yang sampeyan perhatikan tadi bukan anak Pak Sudar tetapi anak istrinya dengan lelaki selingkuhannya.” Pak Jupri menjelaskan, Pak Lan mengangguk tanpa komentar:

”Waktu itu istri Pak Sudar terpaksa di cerai setelah tertangkap basah skandal dengan lelaki yang selama itu menjadi sopir Pak Sudar.” Pak Jupri menjelaskan penuh gairah dan melanjutkan “ Setelah di cerai maka si sopir di wajibkan menikahi mantan istrinya. Ternyata rumah tangganya tidak berlangsung lama, si sopir yang kini menjadi suami barunya kabur tanpa memperdulikan istrinya yang sudah mulai hamil. Karena sang istri tidak mempunyai sanak famili, serta sejak menjadi istri Pak Sudar sampai dengan perceraiannya tidak pernah lagi bekerja sebagai pembantu rumahan, maka sepeninggal suami barunya hidupnya sangat merana. Melihat hal itu lelaki tua itu tidak tega. Apalagi setelah beberapa kali  Pak Sudar memergoki anak laki-lakinya yang sudah bekerja, sering membantu ibunya dengan uang ,kadang-kadang juga beras. Pak Sudar prihatin.Akhirnya ia memutuskan menikahi kembali istrinya termasuk menerima anak hasil perselingkuhannya   yang kemudian di beri nama Rizal. Ternyata Pak Sudar memang lelaki yang berhati mulia. demikian juga dengan anak-anak Pak Sudar yang sudah berumah tangga, mau menerima Rizal sebagai adik mereka.”

Setelah bercerita Pak jupri diam juga Pak Lan. Suara anak-anak mengaji menenggelamkan mereka  dalam lamunannya.

“Mengapa diam ?” tanya Pak Jupri melihat temannya seperti sedang memikirkan  sesuatu.

“ Aku tiba-tiba ingat temanku waktu saya masih tinggal di Bogor . “

“Apa seperti Pak Sudar juga!” tanya sahabatnya si Kakek serba tahu yang selalu ingin tahu.

“Serupa tetapi tak sama ! Akhir ceritanya berbeda.

“Ceritakanlah !” Kakek Jupri bergairah.

“Kalau Pak Sudar seorang tengkulak hasil-bumi, maka Pak Garang temanku yang di  sana itu seorang tentara. Istrinya selingkuh ketika suaminya melaksanakan tugas Negara.

Sepulang operasi  Pak Garang terkejut, Karena istrinya sudah hamil, padahal sebelum bertugas istrinya belum hamil karena mereka masih termasuk pengantin baru. “

“Saya bisa menduga ! sang istri di cerai dan suaminya kawin lagi !” Kakek Jupri menebak.

“Tidak, tidak , sampeyan salah ! Istrinya tidak di cerai, karena suaminya mencintainya. Rumah tangga mereka terus berjalan sampai mereka mempunyai anak enam orang ! “

“Lalu apa yang menarik dari Pak Garangmu itu !”

“Pak Garang tidak menceraikan istrinya bukan karena cintanya yang tulus melainkan  ia menyiksa istrinya dengan cara sengaja terus menerus menghamili istrinya. Caranya setiap hari, bahkan setiap saat dia meniduri istrinya. Bagaimana tersiksa dan tertekannya sang istri dengan cepat di ketahui orang banyak. Bahkan komandan kesatuan dan para istri prajurit lainnya berusaha menyadarkan dan mendamaikan , tetapi Pak Garang tidak perduli. Bertahun-tahun lamanya rumah tangga mereka tak pernah tenang. Setiap saat terjadi pertengkaran. Dan anak-anak yang telah tumbuh besar akhirnya mengerti dan berusaha.mencari jalan damai dengan caranya sendiri-sendiri. Setiap orang tuanya bertengkar  anak-anak menyingkir keluar rumah, pergi kemana saja pokoknya menghindar. Karena perilaku Pak Garang semakin semaunya sendiri misalnya suka mangkir dari tugas. Otomatis konditenya di militer jelas buruk. Tetapi pak Garang tidak perduli.Dihatinya hanya dendam atas  perselingkuhan istrinya. “ Pak Lan berhenti sebentar mengambil nafas dan dilanjutkan.

“Akhirnya Pak Garang dipensiun dini “ Bagaimana keadaan rumah tangganya setelah pensiun ? ternyata tidak berubah justru semakin memburuk. Mereka sekeluarga bagai hidup dalam neraka. Istrinya yang terlalu lama mengalami siksaan dan penghinaan semacam itu akhirnya kelelahan bangkit dan berani menolak perilaku suaminya yang tidak wajar. Waktu itu anaknya sudah enam orang.

Anak lelaki pertama yang di anggap anak hasil selingkuhan istrinya tumbuh besar menjadi laki-laki yang galak dan sempat masuk penjara dua tahun.Setelah keluar penjara wataknya berubah menjadi baik Di penjara itu ia sempat mawas diri dipandu oleh seorang mantan napi tua yang telah menjadi penasihat napi muda. Di penjara si anak baru mengerti duduk persoalan dirinya.

Si anak kini mengerti  siapa dirinya sebenarnya dan mengapa dirinya di penjara.

Waktu di pengadilan ketika ia dinyatakan bersalah karena terbukti bertugas sebagai kurir pencuri  sepeda motor curian. si anak baru yakin bahwa dirinya telah dijerumuskan oleh ayahnya Pak Garang berharap anak yang galak itu melawan Polisi atau mengamuk.dan di tembak di tempat.Ternyata tidak demikian.

Yang lebih menyakitkan waktu di pengadilan bapaknya mengingkari semua keterlibatannya dengan anaknya,malahan membagus-baguskan dirinya selama ini dengan mengatakan bahwa selama itu ia telah mendidik anaknya baik-baik walaupun anak itu anak haram. Itulah kebohongan yang paling menyakitkan dari bapaknya .Sekeluarnya dari penjara si anak laki-laki yang sudah mengerti persoalan dirinya berubah menjadi sangat menyayangi dan selalu membela ibunya. Sekeluarnya dari penjara ia bisa bekerja atas rekomendasi dan bimbingan LSM yang menangani kasus kriminal remaja. Setahun bekerja  si anak berhasil menabung dan membuatkan lapak warung gado-gado  untuk nafkah ibu dan adik-adiknya. Melihat bahwa kini anak selingkuhannya membantu ibunya, si bapak semakin benci kepada istrinya yang terang-terangan memanjakan si anak haram.Perilaku Pak Garang makin menakutkan dan kerjanya makin tidak menentu.

Suatu hari setelah menghilang selama tiga bulan Pak Garang pulang dan hatinya tercekat karena bagian depan rumahnya kini telah lebih baik daripada selama ini. Belum lagi Pak Garang istirahat setelah menghilang lama, tanpa membuang-buang waktu  si istri yang  kini merasa kuat menyerocos bangga menceritakan bahwa yang merenovasi kamar tamu adalah anaknya

.” Anak  yang telah kau kirim kepenjara dan kau nistakan, nyatanya bisa menghidupi aku dan anak-anakku!…….” Istrinya menjelaskan dengan cara yang menyinggung perasaan Pak Garang. Sebetulnya perbaikan rumah itu hanya sederhana . Yang diperbaiki hanya bagian depan rumah dengan di tembok di bagian bawah dan triplek di bagian atas. Jendela serta pintu depannya di ganti dengan model baru yang lebih baik. Pokoknya tampilannya lebih baik daripada sebelumnya. Dalam hati Pak Garang malu karena selama ini ia tidak pernah sedikitpun memperbaiki atau mengganti yang rusak. Karena  malu, benci dan dendam kepada istri dan anaknya maka dengan meraung Pak Garang mengatakan bahwa kalau hanya tambal sulam seperti ini ia juga bisa. Malahan bisa lebih baik. Bersamaan dengan selesainya raungannya, pak garang mengambil batu , balok  dan apa saja yang ada dihalaman tadi. Lalu di hancurkannya  bagian depan rumah yang telah di renovasi oleh si anak haram. Begitu bencinya Pak Garang kepada istri dan anak sehingga di kerahkan semua tenaganya untuk menghancurkan yang telah di banggakan istrinya. Dan akhirnya terjadilah apa yang memang harus terjadi. Pak Garang terpeleset , jatuh dan hanya sakit seminggu lalu meninggal dunia.” Pak Lan mengakhiri ceritanya dengan nafas terengah-engah.  Riwayat almarhum tetangganya sangat mengores hatinya.

Setelah itu keduanya diam cukup lama . Pak Jupri tampak berpikir keras .

“Pengelewengan yang dilakukan oleh istri Pak sudar dan istri pak Garang ini memang sangat melukai perasaan kita sebagai lelaki. Kemanapun kita pergi kejadian yang menyiksa batin dan harga diri kita akan terus terngiang-ngiang ibarat tembang kenangan yang abadi di hati kita.Akan tetapi penyiksaan terhadap istri dan kemudian menjerumuskan anak yang tak tahu apa-apa ke dalam penjara memang sangat kejam .”kata Pak Jupri

“Apapun yang telah terjadi , apakah hal itu membuat kita senang,  sedih , kecewa, benci atau apapun namanya, maka yang telah kita alami itu tak akan hilang dan selamanya tersimpan di dalam hati. Kalau yang kita alami itu perasaan negatip dan membiarkan menguasai diri kita maka, selamanya kita akan tersiksa.Kita akan selalu mendengar tembang kenangan yang menyakitkan kalbu kita. Akan tetapi kalau kita mau memaafkan apalagi kita lupakan dan kita ubah menjadi yang positip maka, kita bisa dan tetap bisa hidup berbahagia.Contohnya Pak Sudar itu .” Pak Lan menambahkan.

“Betapapun berat dan getirnya perasaan yang kita alami ternyata memaafkan jauh lebih  membahagiakan daripada memelihara  dendam.” Pak Jupri menambahkan

S e l e s a i .

 

PERMAINAN KEKUASAAN

(oleh Bintang Rina)  

“Jujur itu buat siapa dan yang menikmati hasilnya siapa ?!” kata temanku  Beny yang sudah lama berpisah.Tanpa sengaja siang ini kami ketemu lagi.Dia kini telah mempunyai kios yang menjajakan lagu-lagu DVD/VCD di komplek pertokoan yang cukup dikenal di Kandangan.  Dan yang unik walaupun telah lama berpisah kami berdua tak pernah berubah dalam persahabatan.Selain itu kami selalu terlibat dalam diskusi atau perdebatan tanpa  bertengkar. Inilah yang membuat kami bangga dan menjaga keutuhan persahabatan kami.

Yang  khas pada Beny adalah kalau dia bicara , apalagi kalau dia yang memulai debatnya gayanya sangat “khas-Beny “ yaitu  ekspresi mulutnya  selalu sinis atau mencemoohkan lawan bicaranya dan kali ini demikian juga. Walaupun pertanyaan itu ditujukan kepadaku, tetapi langsung dijawab sendiri dengan gaya sinis begini :” Jujur itu hanya mengenakkan orang lain. Kalau kau karyawan maka yang menikmati kejujuranmu adalah Bossmu, paling tidak atasamu langsung.atau siapapun yang kau hormati!” berhenti sebentar untuk menarik nafas kesal. Lalu dengan sikap kecewa karena banyaknya pengalaman buruknya dia menambahkan:

” Aku sudah sering melaksanakan seperti yang selalu kau sarankan kepadaku. Dan hasilnya  aku bukan hanya sakit hati, tetapi juga diPHK dengan cara membuatku tidak betah bekerja ditempat itu. Hasil akhirnya aku tak kuat menahan tekanan dan tergiring keluar dari pekerjaan serta mengalami  terror mental ketakutan sampai beberapa bulan.” temanku mengakhiri pengalaman buruknya . Lalu sambil duduk di kursi di kiosnya yang penuh dengan jajaran keping-keping  DVD yang tertata apik dia meneruskan mengungkapkan rasa sakit hatinya .

“Menjawab pertanyaanku sendiri tadi, “kata Beny selanjutnya ,Maka kini biar kujelaskan bahwa yang berkepentingan agar orang berbuat jujur itu hanya para boss. Semua pimpinan dari orang yang baik sampai yang buruk dan jahat mulai dipanggil bapak kepala sampai Boss  bahkan boss penjahat sekalipun memerlukan kejujuran orang lain di bisnis kotornya. Dan otomatis si boss pula yang  menikmati buah kejujuran bawahannya tadi.Kalau anak buahnya tidak jujur maka dengan tegas si boss akan memecatnya!” temanku mengakhiri uraian kekesalan hatinya.

“Kau sekarang bekerja dimana  ?” tanya Beny setelah selesai melayani dua pembelinya sambil menggeser tempat berdirinya memberikan kursi lainnya kedekatku dan menyilakan aku duduk serta tangannya melambai ke suatu tempat yang agak jauh di seberang kiosnya sambil tangannya memberi isyarat  dua jari. Di sana dipojok agak jauh  diseberang jalan  di sebuah warung ada seseorang mengangguk sambil tertawa mengacungkan jempolnya ,isyarat mengerti dan siap melayani.temanku . Tak lama kemudian  dua gelas kopi dan sebuah nampan kecil berisi beberapa makanan diantar ke kios temanku.

“Ayo sambil kita nikmati hidangan dari pak Nur kita teruskan ngobrolnya .” katanya sambil  mulai menyeruput kopinya.Dan aku menirukan.

“Kios-mu apa memang sepi begini ?” tanyaku. Tanpa menjawab apa pekerjaanku sekarang.

“Tergantung  hari dan juga ada atau tidaknya CD/DVD yang baru.” Jawab Beny.

“Di toko yang menjual DVD biasanya lagu-lagunya terus terdengar.Mengapa tokomu tidak demikian  ?” tanyaku soalnya aku tak mendengar ada lagu-lagu di putar.

“Itupun tergantung situasi. Kalau malam minggu otomatis lagu-lagu diputar keras-keras.  Lagunyapun tergantung kepada pembelinya. Yang pasti yang kuputar lagu-lagu yang lagi tophit. Kalau disini yang popular kagu dangdut. Jadi lagu itulah yang kusetel keras-keras. dan…. Masih banyak lagi penjelasan lainnya. Aku hanya mengangguk sambil menggigit pisang goreng.

“Kini biar kuteruskan pengalaman  pahitku karena berbuat jujur .” Beny meneruskan ujarannya dengan ekspresi wajah yang tegang karena kenangan masa lalu yang menyiksa batinnya.

“Tadi telah kukatakan bahwa yang berkepentingan agar orang-orang, atau para karyawan berbuat jujur itu hanya para boss dan BigBoss. Para karyawan dan pengikutnya harus jujur patuh dan sopan. Kalau berani melanggar kejujuran dan tidak sopan maka alamat hidup si bawahan akan  sengsara bahkan sampai mati. Tetapi jangan kaget, bila atasanmu telah mempercayaimu , bossmu juga berharap kau  bisa berbohong sesuai perintah si Boss terutama dalam perang melawan saingan Bossmu. Kalau kau bisa meyakinkan bossmu bahwa dia aman dan terlindungi karena kemampuanmu berbohong kepada pihak luar maka kau akan dipuji oleh atasanmu dan tidak mustahil mendapat persen yang kelihatan banyak menurut ukuran gajimu yang rutin, tetapi sebenarnya sangat sedikit. Kepatuhanmu yang membuta terhadap Bossmu secara sempit akan membuat dirimu melambung seakan-akan kau dekat dengan Boss. Tetapi bagi Bossmu sebenarnya kemerdekaanmu telah dibeli dan kau hanya budak belian.” Kata temanku sambil menghentikan ujarannya karena ada pembeli datang. Kali ini banyak yang datang.

Percakapan terhenti yang datang  anak-anak ABG. Mereka sedang membutuhkan lagu-lagu tertentu. Dan meminta diputarkan sebelumnya.maka suasananya menjadi hiruk pikuk dengan berbagai celoteh dan tawa  dengan kelucuan yang tak dimengerti orang lain., Temanku ternyata dengan sabar  dan ramah ikut tertawa walaupun aku yakin tidak lucu dan tak mengerti. Demi melayani mereka.Dengan demikian otomatis percakapan kami terhenti . Disaat seperti itu aku ingat watak Beny . Ia sebenarnya orang yang sabar , jujur, tetapi penakut . Dan kalau rasa takut sudah menguasai dirinya maka ia menjadi seorang pengecut dan mudah menyerah. Kalau ia tak bisa keluar dari situasi yang sulit tadi ia akan mudah dikendalikan oleh orang yang ditakuti yaitu Bossnya. Itulah yang kuduga telah dialami oleh Beny. Ia menjadi boneka sang penguasa. Diperintah apapun dia patuh tentunya dengan perasaan takut  dan cemas serta upah ekstra.

Saat rombongan ABG  sudah pergi maka kupergunakan kesempatan tadi untuk bertanya tentang masalah yang membuat temanku tersingkir dengan sakit hati dan ketakutan.

“Ceritanya panjang.”

“Ceritakanlah Ben! Aku ingin mendengarkan.”

Beny yang sudah siap bercerita tentang pengalaman pahitnya berhenti sebentar dan memandang sesaat kepadaku  seperti akan mengatakan sesuatu tetapi dibatalkan. Dia meneruskan niatnya bercerita.

“ Ketika saya sudah 57 tahun , dan tidak berharap mendapat pekerjaan baru lagi.”  demikian Beny mulai bercerita . “Saya diajak oleh teman bekerja  disebuah perusahaan campuran Indonesia dan Jepang di bidang peternakan sapi perah . Tempatnya di tanah bekas perkebunan  terlantar di Sukabumi. Sebagai orang yang sudah berumur dan berpengalaman bekerja cukup ,maka sayapun bekerja sebaik-baiknya dengan harapan mempunyai tabungan yang memadai.

Baru 3 bulan bekerja disana ada hal aneh yang saya rasakan yaitu , untuk sebuah farm yang baru mulai beroperasi disana ada  dua orang Boss. Saya sebut saja Boss A dan Boss B . Kedua orang itu bukan orang asing, melainkan orang Indonesia.Setahun berikutnya muncullagi  seorang Boss bangsa Jepang. Menghadapi 3 orang Boss pasti sulit karena tiap orang pasti mempunyai keinginan sendiri-sendiri.Tetapi itu nanti saya ceritakan.

Belum penuh setahun bekerja saya menemukan beberapa kejadian yang membuat saya tidak senang. Boss A mempunyai kebiasaan mendatangkan barang-barang yang tidak dibutuhkan perusahaan dengan kwalitas yang buruk dan tanpa  ada keterangan apa-apa. Kemudian Boss A memaksa saya agar mengeluakan uang untuk pembayaran barang tadi. Ketika saya katakan bahwa di farm ini tidak ada uang untuk hal-hal di luar yang rutin ,Boss A marah dan memaksa bendahara,menanda tangani tanda terima barang,karena tahu saya sengaja mengelak. Selanjutnya Boss A harus meminta pembayaran di kantor pusat. Bulan berikutnya ketika saya ke kantor pusat di Jakarta saya dimarahi oleh orang-pusat  mengapa saya membeli barang di luar rencana . Tentu saja semua saya jelaskan apa adanya. Akibat penjelasan saya itu lain hari Boss A datang lagi ke Farm  untuk memaki-maki dan mempermalukan  saya  di muka para karyawan.Boss A menganggap saya tidak tahu diri, soalnya saya bisa bekerja di perusahaan itu karena Boss tadi yang memasukkannya. Dan saya  bisa memperoleh jabatan pimpinan juga karena upaya Boss tadi. Menghadapi umpatan Boss tadi saya hanya diam saja. Akibat lainnya bulan berikutnya Boss A mendatangkan orang baru dari luar namanya Hd , yang kebetulan sudah kenal saya. Tugasnya mengambil alih semua  kegiatan saya  tanpa mengeluarkan saya dari pekerjaan. Melihat kegiatannya dan bidang yang ditangani , maka posisinya Pak Hd adalah atasan saya tetapi saya tak tahu apa dan dimana posisi persisnya,  soalnya dia tidak pernah menyalahkan saya dan sebulan hanya  datang tiga atau empat kali  saja. Hubungan antara saya dengan Pak Hd baik-baik saja. Artinya tanpa ada perselisihan atau konflik lainnya.  Tetapi hubungan saya dengan Boss A buruk dalam arti Boss A berusaha mencemooh saya  dimuka karyawan lainnya tetapi dibelakang Boss A para karyawan justru memuji saya dianggap berani menolak keinginan Boss A untuk mengeluarkan uang  di luar rencana.

Suatu hari Boss B yang selalu membaca laporan Farm tentang produksi susu tetapi jarang datang, pada hari itu datang . Setelah memeriksa chilling unit  memaksa saya agar memerintahkan bagian penerimaan susu menambah air sebanyak 200 liter.

“Itu sama dengan  air satu drum besar! “ kataku terkejut. Karena itu jelas tidak jujur maka saya tolak. Boss B tidak marah hanya beliau memanggil langsung bagian chilling unit  dan menyatakan bahwa  karyawan tadi hanya patuh kepada Boss B dan tidak kepada saya. Ketika saya bersikeras bahwa akibat penambahan air tadi susu memang tidak pecah, tetapi kwalitasnya turun. Boss B menjawab dengan santai bahwa “ tujuan kita mencari untung ,bukan menjadi yang nomor satu !”

Akibat penambahan  air maka kwalitas susu jelek, seharusnya oleh pabrik di tolak. Namun demikian susu tetap diterima pabrik. Ini aneh. Setelah saya telusuri Jawabnya satu yaitu Ini berkat perjuangan bapak Hd  dan pabrik itu memang  ada dibawah kekuasaan Boss A Dari situ saya tahu bahwa bapak Hd ini memang anak buahnya Boss A dan bekerja di pabrik susu lain.

Pada bulan yang lain  Boss B memerintahkan saya membuat laporan tertulis tentang keadaan Farm menurut pandangan saya. Pokoknya semua hal tentang Farm ini  dan laporkan secara bebas Tentu saja perintahnya ini saya patuhi.Dalam tempo sebulan laporan yang saya buat beres dan langsung saya serahkan ke Boss B. Karena tidak ada ralat atau perbaikan lainnya, maka kuanggap beres dan saya melupakannya. Setengah tahun kemudian, setelah saya menyerahkan laporan saya kepada  Boss B ,ada kabar angin bahwa Boss B kini posisinya lebih tinggi dari Boss A. Berita tadi bagi saya tak ada artinya.Siapapun yang lebih tinggi posisinya bagi saya tidak penting,hanya kini saya tahu ada persaingan diantara mereka.

Di luar dugaan suatu hari datang Boss dari Jepang,  Boss Jepang tadi  menginap di farm dengan sikap yang arogan. Sebagai pimpinan farm mau tak mau  tiap hari saya harus bertemu dan bicara dengan Boss Jepang . Yang sering membuat saya jengkel adalah Boss Jepang tadi bukan  saja tidak mengerti soal-soal sapi perah, juga kurang memahami sistim pembukuan Indonesia.

Bulan berikutnya waktu bincang-bincang dengannya , baru saya tahu bahwa  Boss Jepang tadi  sudah lama tinggal di Amerika dan waktu tinggal di sana pekerjaannya membacakan untuk pendengar TV/Radio laporan pasar internasional tentang harga hasil bumi di berbagai Negara di luar gandum dan beras. Jadi tugasnya tidak berbeda jauh dengan pembaca laporan cuaca di TV atau radio .Pengetahuan Boss Jepang yang minim soal managemen tadi membuat saya kerepotan.             Entah gagasan dari mana (mungkin dari kantornya di Jepang ) tiba-tiba saya diperintahkan memecat beberapa  karyawan karena dinilai jumlah karyawan di farm tadi sudah kebanyakan. Saya langsung menolak perintah tadi. Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan  saya harus menjelaskan  sampai megap-megap tentang struktur organisasi  perusahaan yang tidak jelas dan tidak adanya uraian tugas untuk masing-masing karyawan. Akibat dua hal di atas saya tidak bisa mengukur kwalitas kerja karyawan. Saya pernah mengajukan struktur organisasi dan membuat uraian tugas untuk karyawan tetapi oleh Boss A dilarang dengan alasan yang tidak jelas. Boss Jepang tidak perduli dengan penjelasan saya . Ini membuat saya makin benci kepada Boss asing tadi. Puncak kebencian saya terjadi di suatu pagi . Boss Jepang memarahi saya ketika saya sedang sarapan. Saya merasa tersinggung , marah sampai bertengkar hebat. Sore itu juga Boss Jepang meninggalkan farm. Beberapa hari kemudian saya mendapat surat yang dibawa kurir dari kantor pusat yang isinya saya di PHK. Tentu saja saya langsung ke kantor pusat minta penjelasan.  Di kantor pusat saya di temui oleh Boss B. Sambil tertawa si Boss berkata bahwa  saya dikeluarkan karena saya bertengkar dan memaki-maki si Boss Jepang. Padahal dia  wakil pemilik perusahaan Jepang disini, seharusnya  dipatuhi dan selama dia ada disini hanya saya yang berani memakinya. Setelah saya di PHK beberapa bulan kemudian reformasi di Indonesia didengungkan oleh mahasiswa disusul penggantian Presiden .Sementara itu di Farm pemecatan 8 karyawan  terjadi juga . Saya lega karena saya sudah tidak bekerja disana lagi.

Suatu hari  saya ketemu  Pak Hd dan dia mengajak saya ke rumahnya. Disana dia menjelaskan Boss A  kini sudah  “ di buang “ dari  grup inti dalam kepimpinan di kantor pusat. Kata pak Hd itu semua gara-gara  laporan tertulis saya tentang Farm .

Saya jawab bahwa itu atas perintah Boss B . Laporan itu saya tulis tanpa menulis nama orang yang memberi perintah, juga tak ada nama-nama orang yang berperan dalam pembangunan Farm. Pokoknya hanya tentang Farm. Saya hanya menunjukkan bahwa banyaknya kerugian seperti rendahnya produksi susu ,banyaknya sapi yang sakit  dan mati  dan lain-lain adalah karena sejak awal Farm ini tidak mempunyai rencana dan tujuan yang ingin di capai. Padahal pembangunan perusahaan apalagi bisnis khususnya di bidang pertanian harus jelas tujuan yang ingin di capai . Dari tujuan itulah bisa ditentukan bentuk bangunan , model kandang , jumlah karyawan, luas kantor , dan biaya yang harus di keluarkan. Pokoknya saya menulis semua hal sebagaimana adanya. Mendengar uraian saya tadi bapak Hd angkat bahu, dan hanya menjelaskan bahwa selama berdirinya Farm yang sudah berumur 6 tahun ,tidak ada yang membuat laporan tentang farm tadi dengan jelas. “Dan Anda berani melakukannya !”katanya tandas

Mendengar penjelasan pak Hd ini saya mulai gelisah, apalagi ketika Pak Hd mengatakan Boss A menanyakan rumah saya, keringat dingin membasahi leher dan baju.Walaupun saya sudah lama keluar dari Farm , malahan di PHK ,nyatanya saya masih merasa takut. Bukan rahasia lagi kalau di perusahaan ini Boss A terkenal kasar  dan  mempunyai orang-orang yang setia dan sanggup berbuat apa saja melaksanakan perintah BossA  tanpa banyak bicara.  Ketika saya bertanya kepada pak Hd , mengapa tulisan saya di jadikan dasar keputusan the BigBoss ?  Dijelaskan oleh pak Hd bahwa  pertama sudah lama BossA bersaing dengan BossB. Kalau BossB ingin menang dalam persaingan tadi maka, ia harus mempunyai factor penentu yang bisa menjadi bahan pertimbangan buat pedoman  “the Bigboss . “ Dan factor tadi adalah  laporan Pak Beny.” Anda  rupanya tidak tahu bahwa pembangunan farm tadi sepenuhnya tanggung jawab BossA, dan laporan yang apa adanya tadi, kata pak Hd adalah laporan tertulis yang menunjukkan kesalahan fatal BossA. Dan dijatuhkannya  BossA oleh  the BigBoss sudah lama di tunggu oleh BossB.

“Pak Beny memang pemberani ! kata Pak Hd entah sinis atau mengejek saya.”

“Masalahnya bukan berani atau tidak. Tetapi  saya harus jujur dan tetap jujur.” . jawabku.

Pak Hd tertawa  mengejek walaupun secara samar. Dia mentertawakan diriku. Wajahku waktu itu pasti tampak tolol.Untuk membuang suasana batinku yang tak nyaman aku menanyakan yang lain. yaitu  bertanya soal status tanah dan pendudukan kembali tanah garapan di sana oleh penggarap lama. Pak Hd yang tahu banyak menjelaskan bahwa   Pertama  usaha Farm ini tidak pernah mendapat  badan Hukum dari pemerintah . Dan kedua tanah yang dipakai oleh BossA untuk Farm ini adalah tanah perkebunan terlantar yang sudah lama  di garap penduduk. Jadi merekalah yang berhak. Ketiga  gara-gara laporanku Pimpinan pusat di Jakarta yang sudah tahu sebelumnya makin yakin tentang status tanah garapan itu.  Penjelasan oleh Pak Hd  yang tujuanku semula untuk membuang penampilan tololku justru mengubah rasa tololku menjadi takut. Saya bayangkan tidak mustahil suatu hari nanti ada dua orang pengikut setia anak buah BossA mencari saya , mengajak saya pergi. Dan……..tak kembali .Saya takut!.

Kalau PHK saya ini memang akibat kejujuran saya , dan terancamnya keamanan saya juga oleh sebab saya menulis apa adanya tentang Farm secara jujur ,apaboleh buat.

Kejadian yang menakutkan ini membuat saya hanya ingin bersembunyi , lari dan aman. Dan tidak berani bercerita kepada istri. Selama itu saya hidup dalam kegelisahan.Keluarga saya tidak mengerti hanya heran dengan perilaku saya. Soal doa dan mohon perlindungan kepada Allah yang maha kuasa jelas saya laksanakan. Setelah selama 4 bulan lebih selalu ketakutan , suatu hari saya tiba-tiba merasa bosan dan muak atas perilaku saya . Dan bersamaan itu tiba-tiba ingat uraian mas Bintang bahwa Kejujuran yang kita laksanakan tujuannya adalah mencari ketenangan diri. Bukan untuk membuat orang lain senang atau kecewa. Dengan selalu berbuat jujur maka kita tak perlu menyembunyikan atau campur tangan apa-apa yang bukan hak kita. Jadi tak ada beban dihati kita.

Anehnya setelah ingat saran Pak Bintang dulu waktu belum setua sekarang  hati saya tenang  Keesokan harinya saya ingat dulu BossB pernah mengajak saya membangun Farm di Buleleng (Bali).  Iseng-iseng saya menelpon BossB menanyakan janji beliau akan mengirim saya ke daerah Buleleng . BossB  menjawab bahwa akibat krisis moneter  maka semua rencana termasuk membangun farm di Bali ditunda. Anehnya setelah itu BossB  menyuruh saya menelpon BossA. Saya tertegun mendengarnya . Bagaimana hal itu bisa terpikir oleh BossB. Ucapan BossB ini justru membuat saya marah merasa dipermainkan. Ucapan BossB ini menyadarkan saya. bahwa kalau saya tidak di PHK oleh kedua Boss tadi ,melainkan atas perintah BossJepang ,bukan karena saya berprestasi di pekerjaan, melainkan karena saya dianggap berguna untuk dijadikan “peluru emas  “ oleh tangan-tangan kotor para Boss untuk ditembakkan ke saingannya. Kini saya mengerti mengapa walaupun kedua Boss tadi sering kecewa dan sangat tidak menyukai prinsip hidup saya, tetapi mereka tetap menahan diri agar bisa tetap bekerja di Farm tadi, karena saya bisa dijadikan “peluru emas” Dan yang  tak mereka duga justru Boss Jepang yang mem-PHK  saya. Tiba-tiba  saya sadar bahwa laporan-tertulis tentang farm dulu itu oleh BossB di jadikan semacam peluru emas untuk menembak dan menjatuhkan BossA. Dan berhasil. Rupanya watak jujur dan tegas pada diri saya dulu itu bisa jadi model untuk permainan kekuasaan mereka di kemudian hari entah menghadapi siapa.

Di perusahaan multi nasional dengan banyak anak-perusahaan yang tanpa ijin,adalah tempat mereka bersaing. Perusahaan apapun dan dimanapun sama saja. Dan para Boss memerlukan “peluru emas “ untuk menembak sasaran sebagai  “alat mendukung menaikkan posisi mereka.

“Menurut mas Bintang bagaimana pengalamanku tadi ? tanya Beny  setelah meminum kopinya. “ Bukankah terbukti di Farm dulu itu kejujuranku hanya menyusahkan saya tambahnya polos?.” Sambil memandang meminta pendapatku.

“Apakah begitu menurut mas Beny.” tanyaku

Mas Beny mengangguk gembira dan menambahkan lagi :  “Kini setelah bisnis DVD  I am happy because everything okay !”

“ Apakah  kesusahan dan hidup tertekan masih sering dialami ?” tanyaku memancing emosinya..

“Tidak! samasekali tidak .”jawabnya bangga.Kini aku selalu gembira karena aku menyukai bisnisku  dan kebetulan aku memang suka lagu-lagu.”

“Apakah itu berarti bahwa kebahagiaan, dan kegembiraan yang bisa mas Beny capai itu tidak memerlukan  kejujuran? Berarti jalan jujur itu tidak perlu? Jangan-jangan yang membuat kesenangan dan kegembiraan anda terwujud  itu justru tanpa harus hidup jujur Kasarnya kalau lewat jalan kotor lebih mudah.buat apa bersusah susah  jalan jujur. misalnya bisa menjual barang-barang palsu, barang bajakan, tidak membayar pajak dan…….. !”

“Tidak ! tidak demikian!………. Aku memang salah!”  Mas Beny langsung memotong ucapanku.  “Barusan  aku memang menjawab sembarangan . Aku tidak berpikir panjang. Aku salah mas . Sungguh demi Allah dagangan saya ini semua halal dan bayar pajak….!”  Temanku memperbaiki jawabannya sambil menampar mulutnya sendiri berkali-kali.Ada penyesalan. Dan aku hanya tertawa. Kebetulan toko sepi.

“Kalau demikian coba anda mawas diri berkaitan dengan pengalaman anda waktu di Farm.”

 

 

Lelaki tak berguna (oleh Bintang Rina )

Wati sedang mencari anaknya yang bermain di sekitar mushola ketika ia menghentikan langkahnya karena mendengar suara bapaknya berkata kepada  temannya ,sesama orang tua, tentang hidupnya.

“ Hidup saya sekarang membosankan. Bayangkan saya wajib menjaga dan memelihara kesehatan , tetapi  setelah sehat saya tak tahu  mau bekerja apa.Semua pekerjaan yang dulu kita kerjakan sekarang telah diambil alih oleh anak-anak muda.” kata bapak Wati.

Temannya berkomentar :” Sampeyan , juga kita-kita ini seharusnya bersyukur   telah ada yang mengambil alih tugas-tugas kita. Bayangkan andaikata sampeyan masih harus bekerja seperti beberapa saudara-saudara kita sedesa yang masih harus bekerja sampai tua, terbungkuk-bungkuk , siang mencangkul, sore manyabit rumput untuk ternaknya , malamnya hanya tidur sebentar .karena ia harus ke sawah lagi untuk menjaga air dari irigasi yang jatahnya terbatas  waktu giliran mengairi sawahnya. ….”

“Sampeyan benar ! saya bersyukur tetapi perasaan bosan sering  muncul .Hari-hari terasa lebih panjang dan sepi tanpa pekerjaan yang berarti . Penantian yang melelahkan.” sang bapak menambahkan

“Kalau tidak sabar menanti datangnya panggilan Allah, satu kilometer dari sini ada rel kereta api,  Tinggal pilih mau bunuh-diri pukul berapa  , tiap dua jam KA lewat!” teman sang ayah memberi tawaran sambil tertawa nyengir..

“Huss sampeyan ini ada-ada saja. Siapa ingin masuk neraka ?” kata sang bapak sambil tertawa mendengus dan beranjak meninggalkan teras mushola  setelah menyimpan sapu , ember dll.

 

Sesampainya di rumah  Wati langsung menceritakan kepada ibunya tentang obrolan bapaknya Selesai bercerita , ganti ibunya menjelaskan : “beban batin bapakmu memang berat. “.

“Sebetulnya ada apa dengan bapak ?”Wati memberanikan diri bertanya .

“Kau rupanya belum mengerti ?

“Tahu tetapi hanya kira-kira. “

. Nah kini kujelaskan. Dulu kau tahu bapakmu pernah bekerja di pabrik  besar. Prestasi kerjanya membanggakan. Walaupun demikian bapakmulah orang pertama yang di PHK sebelum karyawan lain secara besar-besaran. Masalahnya karena bapak menolak menjalankan perbuatan yang tidak jujur dari perusahaan dan bapak juga tidak setuju dengan  rencana efisiensi dari managemen pabrik karena berakibat banyak karyawan yang kehilangan pekerjaannya. Akhirnya  bapakmu diangggap membangkang dan dikeluarkan alias di PHK. dengan beberapa tuduhan. Bapak menolak dan melawan.Namun kalah  di pengadilan. Sejak di PHK bapak benar-benar mempraktekkan definisi  yang di katakan Pak De-nya yaitu tentang arti Rela. Caranya bapak mencari kegiatan atau kesibukan yang bermakna misalnya menolong dan membantu orang lain tak perlu yang besar-besar atau yang berbiaya tinggi yang penting waktu membantu hatinya ikhlas.. Selain –rela- dan -narima – bapakmu juga  melaksanakan kegiatan yang mempercepat  cepat rela dan narima dengan nasihat yang juga penting  yaitu jangan mengingat-ingat  peristiwa dan penderitaan yang telah lewat dan jangan mengharap-harap sesuatu yang belum terjadi. Untuk menunjang hidupnya sebagai seorang kepala keluarga bapakmu berbisnis dan bekerja sama dengan beberapa rekan barunya. Waktu itu ibu harus pulang ke desa untuk meneruskan usaha pertanian kakekmu yang telah wafat. Dan bapakmu sendirian di kota dengan menyatakan akan sering pulang. Mula-mula  usaha bapakmu menunjukkan kemajuan. Tahun berikutnya usaha bapakmu yang awalnya menunjukkan keberhasilannya ternyata sebaliknya, gagal total.Usaha bisnisnya bangkrut, termasuk uang pesangonnya dari perusahaan juga ludes. Saat itu baru bapakmu menyadari bahwa dirinya tidak berbakat di bidang bisnis. Padahal sejak awal ibu sudah mengingatkan bahwa bapakmu seorang pekerja yang tekun, yang hobynya menulis  dan bukan seorang usahawan.” sang ibu menjelaskan  dan melanjutkan:

“Bapakmu yang semula merasa bisa benar-benar rela , karena mempunyai usaha dibidang  lain, langsung terguncang hatinya ketika usahanya hancur. Keterpaksaan pindah ke desa ini malah membuat bapakmu frustasi .Untung tidak sampai sakit. Disini bapakmu harus berani melihat kenyataan bahwa dirinya bukan siapa-siapa lagi. Bapakmu benar-benar tidak Rela dan tidak Narima. Sering uring-uringan dan kurang bisa mengendalikan dirinya lagi. Sementara bapak tersiksa karena kenyataan yang pahit itu , ibu mengalami panen raya dengan padi melimpah dan harga jual gabah sedang membaik. Bagi ibu ,sebagai keluarga petani, hal itu bukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi justru telah membuat bapak malu. Sebagai suami ia tidak bisa mencari nafkah , malahan menumpang hidup , makan dan uang saku dari  istrinya. Bertani dan bekerja kasar bagi bapakmu selain tidak mampu, juga berarti mengambil nafkah para buruh tani dan keluarganya yang sudah lama hidup  bersama sawah warisan kakek.” ibu menjelaskan lebih jauh.

“Itulah gambaran bapakmu saat ini. Hatinya menderita , mental tidak stabil, mudah tersinggung dan ucapannya sering  menyebalkan. Suatu perilaku yang tak pernah dilakukan  sebelumnya . Apalagi kalau bicara dengan ibu , walau hanya sebentar , hampir selalu berakhir dengan wajah yang tidak sedap sambil beranjak pergi.. Dulu walau sedang berselisih dengan ibu dibalik adu argumennya  ibu bisa merasakan suasana kemesraan. Bapakmu sebenarnya pria yang romantis. Kini yang terjadi sebaliknya Dalam berkomunikasi selalu ada kesan menyalahkan entah siapa yang disalahkan, terutama bapak sering merasa selalu bersalah seperti lelaki tak berguna . Dan ibu tak tahu apalagi yang harus di ucapkan. Hal-hal yang dulu dianggap biasa ,  kini bisa menyulut perselisihan. Bapakmu sering tersinggung dan disalahkan seolah-olah bapak tak tahu kewajiban atau lainnya. Padahal ibu tidak bermaksud demikian.Dan masih banyak  lainnya.

 

“Suatu hari ada satu pertengkaran yang agak keras , kau waktu itu belum pulang  kerja.. Untuk kedua kalinya bapakmu mengucapkan bahwa dirinya memang suami yang tak berguna , hidup menumpang kepada istri. Kalimat ini membuat ibu sedih , kecewa dan kesal. Rupanya bapakmu tidak tahan menerima kejatuhannya. Di pecatnya bapakmu , hancurnya usaha bisnis sampai dengan kepindahannya ke sini  bukan salah ibu. Tetapi ibu yang kena getahnya.Tetapi ibu tidak mau melayani kemarahaan bapakmu , dan setiap ada kesempatan menghimbau bapak mencamkan kembali nasihat PakDe narto. Tentu saja secara singkat dan tidak melayani perdebatan. Tampaknya sedikit demi-sedikit bapakmu mulai sadar dan berusaha lebih banyak menahan diri.”  Ibunya menjelaskan dengan nafas terengah-engah ..

Wati sedih dan jengkel karena mengira ibunya juga marah dan ganti mendiamkan bapak apalagi setelah bapaknya sering melamun , suntuk dan kemudian bersepeda entah kemana dan sore hari baru  pulang . Dulu bapak sering menikmati  lagu-lagu lama dari DVD beliau untuk menghibur diri . Kini tak pernah lagi . Berbeda dengan ibunya yang mampu menguasai diri dengan  bersikap wajar ,tetap sibuk dan tetap bergosip ria dengan tetangga waktu belanja pagi. Ibunya hanya berbicara dengan bapak bila dianggap penting , Tetapi hasilnya tak ada bedanya . Bercerita atau tidak sang suami tetap  berwajah masam  atau melengos pergi.

“Kau harus tetap menghormati bapakmu dan tidak ikut-ikutan risau dan gelisah.”kata ibunya setelah nafasnya normal.“Bapakmu berjalan di jalan yang benar. Kalau ibu lebih banyak diam tujuannya memberi kesempatan bapak agar sadar, agar Eling dan Narima. Ibu sama sekali tidak marah dan mendiamkan bapakmu !” kata ibunya.  seperti mengerti perasaan Wati anak kesayangan ayahnya. “Proses Rela dan Narima yang menakutkan bapakmu ini berlangsung lebih dua tahun. Sekarang perubahannya ada sedikit..” Ibu mengakhiri ceritanya.

Suatu pagi setelah sholat subuh bapaknya  belum pulang padahal Mushola telah sepi. Lama ditunggu tidak juga muncul .” Bapak telah menghilang !” Wati khawatir bapak bunuh diri karena  ingat gurau sendau temannya di mushola tempo hari. Ternyata ibu juga . Sepeda bapak masih ada, berarti perginya belum jauh. Ketika Wati dan ibunya  sedang mengira-kira kemana bapaknya  pergi, dari jalan-raya di samping rumah terdengar celoteh dan tawa  renyah  beberapa kali. Itu jelas suara bapak. Dengan bergegas tetapi hati-hati Wati dan ibunya mengintip ada apa dengan bapaknya dijalan raya sepagi ini. Ternyata bapak sedang menyapu jalan raya di kanan rumah dan tiap kali terdengar sapaan ramah dari  orang-orang yang mulai berlalu lalang. Ibunya tertegun dan ekspresi wajahnya sulit kutebak. Lalu dengan bergegas sang ibu masuk ke dalam rumah. Selesai  menyapu jalan ,bapaknya langsung menyapu halaman  . Wati menghindar dan cepat-cepat membuat kopi untuk bapaknya.  Ibunya ternyata menghindar dengan cara mandi pagi dengan suara deburan  air yang sengaja di keraskan. Wati mengira tak sampai seminggu bapaknya pasti sudah bosan. Ternyata tidak dan ibu juga tidak menghindar malah dengan manja meminta bapak  memutarkan lagu-lagu kenangan mereka sambil menemani minum kopi pagi. Setelah itu baru ibu ke kandang ayam memberi makan ayam-ayamnya atau menyuruh Wati sebelum kekantor berbelanja ke tukang sayur. Hubungan kedua orang tuanya sudah mencair.

 

Suatu pagi lima bulan kemudian seusai menyapu jalan, teman bapaknya  yang sering bertemu di mushola  mengobrol dengan sang ayah di teras samping rumah dengan hidangan kopi dan ketan kelapa ditaburi bubuk  kedelai . Kedua orang  tua tadi atas  keputusan rapat desa di beri tugas membuat rencana anggaran dan rencana desa untuk tahun depan.

Pemandangan pagi itu  membuat Wati tiba-tiba ingat enam bulan yang lalu waktu bapaknya sedang bertengkar keras dengan ibunya dan mengira Wati masih di kantor. Sebetulnya Wati sudah pulang dan mendengar semuanya. Waktu itu ia hanya sedih. Setelah sekian lama dan sudah melupakan kejadian itu pagi ini di luar dugaan Wati memahami lebih banyak  tentang makna pertengkaran  yang pernah  di berikan oleh seorang dosen favoritnya. Kini Wati tahu  bahwa di balik pertengkaran orang tuanya dulu itu ada lolongan pedih betapa ayahnya telah menderita . Penyebab utama penderitaan itu hanya akibat rasa tidak Rela dan tidak Narima yang berkepanjangan. Dan untuk mengobatinya sebenarnya bapaknyapun sudah tahu. Ayahnyapun telah melaksanakannya. Namun karena proses penyadaran diri itu makan waktu maka , angan-angan, perasaan dan nafsu-nafsu  ayah sering bergolak hebat. Kehilangan  kekuasaan dan penghasilan membuat bapak  kehilangan jati dirinya yang asli. Bapak sebagai  lelaki yang sudah puluhan tahun mampu memenuhi dibutuhkan keluarganya  tiba-tiba tak bisa lagi, akhirnya bapak merasa kehilangan peran dan merasa tidak di butuhkan lagi baik sebagai suami maupun sebagai lelaki.  Malahan minta makan kepada istrinya. Ayah tidak bisa menerima kenyataan itu, ia malu dan merasa  hidup miskin dan lemah tidak pantas untuk ditampilkan. Untuk menutupinya ayah bertindak keras Ayah bersembunyi di balik –topeng ganasnya– Dengan berperilaku galak ia merasa bisa menutupi kelemahannya. Tetapi karena jati dirinya bukan orang seperti itu, apalagi menghadapi istrinya maka bapak  hatinya makin kacau. Dalam hati bapak ingin  minta tolong , bapak sambat . Suara batinnya  seolah-olah mengatakan tolonglah aku. aku kini sedang menderita. Tetapi karena gengsinya tinggi maka yang terucap hanyalah “Aku tahu kau muak kepadaku karena aku hanya lelaki yang tak berguna. Seharusnya aku tak disini !” Itulah ucapan yang pernah diucapkan bapak dulu itu. Suatu gambaran nyata dari seseorang yang jati dirinya sedang kacau. Ucapannya menjadi kasar yang membuat sang istri menjadi jijik dengan tingkah laku suaminya yang menakutkan, tidak gagah dan tidak membuat bangga seperti dulu-dulu.  Untung ibunya Wati sabar sehingga bisa menahan diri dan mengarahkan bapaknya  agar kembali Rela dan Narima serta tidak bosan memotivasi diri agar bangkit kembali karena kepandaian bapaknya yang belum tergali masih banyak.

Saran ibunya tepat. Setelah bapak bisa Narima dan hatinya bersih maka dengan sendirinya  muncul gagasan-gagasan baru  yang orisinil dan actual. Wati sangat bangga dengan ibunya yang sabar dan ulet.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bapak ideal

(Oleh Bintangrina )

“Biasanya Roni berjalan di belakang kita. Tetapi sudah beberapa hari ini dia tak kelihatan.” Pak Heru TU sekolah SMP “Bakti Pertiwi” berkata sambil menengok ke belakang.

“Dia sakit. Ada surat keterangan dari ibunya.”kataku.

“Dari ibu angkatnya bukan ?”

“Pasti!” Mana mungkin dari ibu kandungnya.” jawabku sambil ikut menengok ke belakang ,  posisi dimana biasanya Roni berjalan di belakang kami. Pak Heru tertawa dan di lanjutkan,

“ Tentu saja . ibu kandungnya jelas tidak mungkin!” dan di tambah “ Dia anak yang baik, sopan yang pasti dia minder.” Aku  hanya mengangguk

“Kata beberapa guru otaknya agak kurang. Apa memang demikian ?” tanya Pak Heru.

“Dia memang agak terbelakang. Tetapi bukan bodoh seratus persen. Dia hanya lamban. Akan tetapi kalau sudah mengerti  maka, pengertian itu akan melekat erat dalam ingatannya.”

“Maksud bapak bagaimana ?”

“Kalau pelajaran yang bersifat hafalan dia selalu ingat , Akan tetapi kalau pelajaran soal  perkalian, penjumlahan, pembagian, pokoknya yang bersifat penalaran dia pasti tertinggal . “

“Berarti dia memang bodoh.” Pak Heru bersikukuh  , lagi-lagi aku hanya mengangguk.

“Kalau di bandingkan dengan ibu kandungnya Roni termasuk lumayan.” Pak Heru meneruskan

Untuk kesekian kalinya aku hanya meng-iya-kan .

”Ah kita harus berpisah . itu sudah ada angkot yang menunggu .” Pak Heru pamit dan aku menyeberang jalan. Ketika menengok ke belakang , sekilas kulihat ada  Roni  menghilang di balik pagar hidup. Kuduga ia akan menyeberang juga tetapi batal dan segera menghilang ketika melihatku menengok ke arahnya..Ada rasa bersalah karena belum juga bersekolah walaupun sudah sehat. Kemunculan dan menghilangnya mudah di tebak. Ia pasti baru saja menemui ibu kandungnya.

Malamnya  ketika aku sedang bekerja memeriksa hasil ulangan anak didikku ,aku melihat Roni berkelibat  di depan rumah. Semula aku ingin memanggilnya, namun kubatalkan . Lebih baik aku meneruskan pekerjaanku. Tetapi belum sampai lima belas menit bekerja aku kehilangan selera karena kepalaku  tiba-tiba dipenuhi dengan riwayat Roni.

Dua tahun yang lalu Roni yang sudah 13 tahun umurnya menjadi siswa di sekolah ini tanpa tes masuk apapun juga. Bukan hanya Roni saja melainkan semua anak-anak SDN III yang sudah selesai ujian namun tak ada biaya , atau nilai ujiannya terlalu jelek pasti meneruskan sekolahnya disini  di SMP Bakti Pertiwi.  Sekolah ini masuk sore dan tempatnya di SDN III juga. Sekolah SMP  sendiri adalah sebuah yayasan yang di dirikasn oleh tokoh-tokoh desa yang sebenarnya tak bersemangat mencerdaskan bangsa kecuali memancing dana bantuan dari Pemerintah  dan dari para donatur. Nyatanya tak pernah ada kepastian apakah bantuan itu ada atau tidak  karena kebanyakan warga desa sudah tahu mental para pengurus yayasan Bakti Pertiwi. Kalau sampai sekian puluh tahun sekolah ini masih hidup adalah bukti bahwa bantuan itu ada. Tetapi dari siapa dan berapa banyak tak ada yang tahu. Yang pasti itu karena karena masih ada semangat mengajar dari beberapa gelintir guru yang datang dan pergi kalau ada waktu . Dan yang lebih menyedihkan jumlah guru yang mau mengabdi  sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa  uang jasa , lebih sedikit lagi. Hanya kadang-kadang  ada donatur dadakan yang uangnya sampai ke tanganku atau tangan Pak Ferdinan Heru.Atau karena tanpa alasannya yang jelas beberapa orang tua siswa tersentuh hatinya dan mau membayar uang sekolah walaupun hanya sekedarnya.

Sebagian besar siswanya setelah keluar dari sini tidak meneruskan sekolahnya. Maklum  sebagian besar orang tua para siswa ini hanya buruh tani , tukang ojek,pedagang asongan  atau anak penjaga villa . Ada juga  anak preman, atau anak dari suatu keluarga pengangguran .

Roni memang berbeda dengan siswa lainnya. Orang tua  angkat Roni ini adalah wanita yang cukup Ia wanita single parent. dengan dua anak yang kini sudah mandiri dan berumah tangga . Entah apa niatnya tetapi yang pasti si wanita tadi mengangkat Roni dan merawatnya sebagai anaknya dengan penuh kasih. Jadi Roni ini di banding  teman-temannya sedikit  lebih baik. Selama hidupnya di biarkan mengalir seperti apa adanya dia tak mempunyai masalah. Itu telah terbukti ketika dia masih kecil sampai dia lulus sekolah dasar

Waktu Roni sudah kelas lima sekolah dasar dia tahu bahwa ibu kandungnya masih ada sejak itu setiap hari di tengoknya sang ibu yang tingggal di rumah seorang wanita pensiunan perawat tidak jauh dari tempat Roni bersekolah. Roni baru pulang ke rumah setelah makan siang bersama ibu kandungnya. Ibu angkatnya memahami. Ini berlangsung sampai Roni kelas dua SMP.

Ketika penalaran Roni makin berkembang dan perasaannya semakin halus, maka gurau sendau teman-temannya menyadarkan dirinya  bahwa ibu-kandungnya  adalah wanita kurang waras.

Sejak saat itu ia mulai merasa malu dan menjauhkan diri dari ibu kandungnya.  Namun kasih sayang dua manusia itu lebih kuat dari hambatan sosial yang ada. Dengan sembunyi-sembunyi ia selalu berusaha bertemu ibu kandungnya . Yang melegakan adalah wanita pensiunan yang menampung ibu kandung Roni selalu memberi kesempatan ibu dan anak tadi bertemu di samping kiri rumahnya yang berpagar tinggi . Dasar anak-anak SMP masih polos,  mereka selalu saja bisa menemukan di mana Roni dan emaknya berada. Mereka lalu bersorak-sorak  menggoda Roni yang sedang asyik menemui ibunya.  Tuhan dengan cara-Nya sendiri tetap melindungi umatnya yang masih anak-anak itu. Teman-temannya justru menggoda Roni dengan  ejekan yang membuat Roni dan ibunya , walaupun kurang waras ,makin sayang dan gembira. Dengan ejekan “Idih, Roni masih manja ya diam-diam ketemu ibunya. Malu kan…!”

Setiap kali aku mendengar celoteh anak-anak tadi aku langsung keluar kelas dan melarang mereka menggoda Roni. Tetapi  anak-anak sambil tertawa-tawa tetap menggoda “Roni manja !”

Ketika Roni sudah remaja, muncul gossip baru , yaitu tentang bapaknya . Kalau ia masih diam dan tidak berbuat apa-apa atas merebaknya gossip  tadi, karena Roni belum memahami  masalah bapak ini . Tetapi ia tak selamanya diam. Ia pasti bereaksi.

Reaksinya  berupa kemarahan berawal dari rasa galau yang muncul sewaktu Roni sakit  thypus dan di rawat di rumah sakit selama sepuluh hari. Pulang kerumah setelah sembuh  dan kembali ke sekolah Roni telah berubah . Ia lebih mengenal dirinya.

Di sekolah dia bercerita bahwa waktu dia sakit perawat rumah sakit swasta di Bogor ,menanyakan  identitas dirinya termasuk menanyakan soal nama ibunya  juga bapaknya. Kebetulan waktu itu  ibu angkatnya tidak ada, dan petugas rumah sakit hanya menyatakan bahwa  nama bapaknya itu perlu untuk membayar biaya rumah sakit. Padahal sejak semula ibu angkatnya sudah mengatakan bahwa semua biaya ditanggung olehnya. Mungkin perawat lupa. Bagi perawat Rumah Sakit pertanyaan seperti di atas adalah tugas biasa dan rutin.

Tetapi bagi Roni berbeda. Pertanyaan  di atas sangat mengejutkan bagai membangunkan dirinya dengan kasar dari tidurnya yang indah dan panjang ke dunia nyata yang menakutkan. Masa anak-anaknya yang berselimut kasih sayang telah tersibak lepas dan menyaksikan wajah dirinya menjadi manusia tanpa status yang jelas.

Roni yang kini telah kelas tiga SMP telah mampu merasakan perbedaan  antara dirinya dengan anak-anak lainnya. Antara lain ia tidak pernah mengucapkan kata bapak , karena tidak  mempunyai bapak. Ibu angkatnya  sejak Roni masih kecil telah menyadarkan bahwa tidak setiap anak ada  bapak dan ibunya di sertai contoh-contoh nyata beberapa teman-temannya, Untuk nasihat itu Roni bisa menerimanya . Tetapi pertanyaan tentang siapa bapaknya , ia belum bisa menerima, karena ibunyapun tidak pernah menjawab pasti.

Pertanyaan  yang  belum terjawab inilah yang terus menerus  mengganggu pikirannya. Karena orang-orang yang bisa dipercaya  dan mengenal dirinya tidak mau bicara berterus terang , maka Roni yang sudah penasaran mencari informasi perihal di atas melalui jalur lain.

Sebagaimana diketahui karena peristiwa yang berkaitan dengan kehamilan Mimin, ibunya Roni, sampai dengan kelahiran  Roni dulunya dianggap peristiwa yang luar biasa  dan menjadi rahasia umum maka , bagi yang menyukai gossip, berita tadi tetap saja dianggap sensasional  sehingga selalu ada bahkan banyak yang ingin tahu.

Melalui mulut para penggosip inilah  Roni bisa tahu masa lalu ibunya ,bapaknya dan lain-lain.

Informasi dari para penggosip inilah yang mengubah Roni menjadi lain. Badannya yang tumbuh sehat , lebih besar, dan pendiam, akhirnya menjadi pribadi yang menakutkan dan mudah tersinggung. Penyebabnya ia minder . Dampak yang mengikutinya adalah ia selalu gelisah  Akibatnya selain tak lagi hirau dengan pelajaran sekolahnya, Ia juga tak pernah terlihat menengok ibu kandungnya.  Ia lebih banyak diam atau menyendiri. Nilai pelajaran di sekolahnya pun semakin menurun Perilaku Roni menakutkan teman-temannya dan menggelisahkan warga desa dan teman-temannya yang mengenal  riwayat Roni.

Roni memang tak pernah bicara apa-apa kepadaku atau Pak Heru soal bapaknya. Dan itu bisa  saya pahami . Namun karena Roni dekat kepadaku dan Pak Heru terutama  pada saat pulang bareng , tidak mustahil suatu saat Roni akan bertanya kepadaku. Ini sangat merisaukan.

 

“Andaikata Roni datang kepadaku dan bertanya siapakah bapaknya ? Maka menurut Pak Sur saya harus menjawab bagaimana?” tanya Pak Heru kepadaku suatu sore di kantor TU menunggu  waktu bubar sekolah.

“ Kira-kira Pak Heru menjawab bagaimana ?” aku balik bertanya.

“ Itulah kebodohan saya. Sampai detik ini saya belum mempunyai jawaban yang pas.”

“Saya juga tak tahu!  Roni itu lahir  di luar nikah.. Kelahirannya tak pernah di harapkan oleh kedua orang tuanya. Anak seperti dia seharusnya di sayang. Sebagai orang beriman kita harus  menutup aib-nya dan mengangkat derajadnya.” hanya itu jawabku.  Setelah itu kami diam , lama.

.Peristiwa  sekitar 16 tahun yang lalu muncul kembali dalam  ingatanku.

Dulu di Pasar Cipanas ada wanita tidak waras bernama Mimin.  Sejak kapan ia datang dan di mana ia tidur selama itu tak banyak yang tahu.  Tetapi wanita yang tidak waras itu tidak pernah mengganggu umum. Malahan sering membantu  angkat junjung  barang-barang dagangan di pasar. Selain itu wanita itu juga tidak jorok ,cenderung bersih. Inilah yang mengherankan. Hanya manusia sehat yang mengerti kebersihan. Andai ia tidak gila , wajahnya cukup cantik. Setelah sekian lama dia  hidup  di pasar, tiba-tiba  Mimin  sakit. Antara lain sering muntah –muntah dan lama kelamaan perutnya membusung. Dengan diantar para pedagang wanita, Mimin di bawa ke Puskesmas dan diperiksa ternyata Mimin tidak sakit, tetapi hamil.

Kehamilan Mimin bagi para pedagang pasar bukanlah hal yang aneh, juga ketika tidak ada yang mengakui siapa yang bertanggung jawab. Semua maklum karena pasar memang bukan tempat yang baik untuk hidup dan tinggal. Apalagi Mimin di kenal tidak waras. Hanya karena kebaikan hati seorang ibu ,pensiunan perawat rumah sakit Mimin di tampung  , di rawat pokoknya hidupnya di jamin oleh Bu Emy, nama ibu yang baik hati tadi. Dan ibu tadi tinggalnya tidak jauh dari  SMP Bakti Pertiwi. Dan setelah bayinya lahir , seorang bayi lelaki diangkatlah bayi tadi oleh sahabat Bu Emy yang bernama Bu Jenab yang tinggal agak jauh dari rumah bu Emy. Sejalan dengan berkembangnya waktu  anak lelaki Mimin yang diberi nama Roni  tumbuh menjadi besar dan sehat karena Bu Jenab juga sangat menyayanginya. Perkembangan yang sudah diduga tetapi tetap  menggelisahkan adalah ketika Roni sudah kelas tiga SMP dan menanyakan siapa bapaknya. Disini Bu Jenap dan Bu Emy , tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan .

“Jawabnya bagaimana Pak?”  pertanyaan Pak Heru membuyarkan lamunanku.

“Yang pasti Roni mula-mula hanya bertanya nama bapaknya.” kataku  .” Namun bisa di duga ada pertanyaan lanjutan yaitu dimana rumahnya, apa pekerjaannya, dia masih hidup atau sudah meninggal. Kalau sudah meninggal di mana makamnya dan seterusnya…”

“Nah itulah yang harus kita jelaskan !” potong Pak Heru.”Dan saya tidak mampu.”tambahnya

“Kita tak bisa apa-apa . Menghibur pun saya tak mampu .”jawabku

“Tetapi jawaban harus ada Pak !”

“Kalau Pak Heru memaksa ,maka jawaban hanya satu, yaitu mencari ayah pengganti yang ideal.”

“Arti ideal itu bagus  tetapi  yang bagaimana ?” tanya Pak Heru bergairah.

“ Kalau Roni mendesak terus saya jawab bahwa kalau kau mencari bapak kandungmu , jelas tak ada yang tahu. Tetapi kalau kau mencari bapak pengganti yang paling bertanggung-jawab, paling berkuasa dan sangat menyayangi dirimu , jelas ada . Saya sebut bapak ideal. Boleh juga kita katakan panutan.Untuk bisa tahu dan dekat dengan bapak ideal atau Panutan tadi maka kau harus percaya kepada beliau dengan kasih sayangnya itulah yang harus di utamakan . Roni tidak boleh membenci siapapun, tidak memusuhi siapapun. Pokoknya Roni harus melaksanakan semua yang diperintah dan menjauhi semua yang di larang oleh  bapak ideal tadi. Jadi bukan hanya kekuasaannya tetapi terutama kasih sayangnya …….”

“Nanti dulu…nanti dulu. Rasanya saya  pernah kenal dengan istilah itu….apa ya….bapak ideal ?” Pak Heru langsung memotong ucapanku.

“Bapak yang ideal , atau Panutan yang tak pernah salah dan menjadi Bapak semua orang memang hanya satu. Dan kalau Roni benar-benar mencari bapak yang ideal , maka Roni harus berani menyatakan diri sebagai putera sang bapak  ….”

“ Putera Sang Bapak …? Stop Pak Sur! Sekali lagi STOP! Jangan bicara lagi. Anda keterlaluan. Jangan samakan Roni dengan Yesus….”

“Saya hanya bicara tentang bapak yang ideal. Hanya itu! Saya kebetulan berkata tentang bapak  ideal yang lebih baik dari bapak-bapak yang lain. Jadi tidak ada kesengajaan untuk menyamakan Roni dengan Yesus. Atau sinis terhadap agama..!” kataku dan Pak Heru terlanjur marah dan sangat tersinggung dianggap aku main-main.

“Ucapan Pak Suryo itu seakan akan mengatakan Tuhan adalah bapakku …..? “ Pak Heru mengulangi ucapanku dengan wajah merah dan “Maaf anda keterlaluan. Jawaban tadi  tidak sopan dan bukan untuk main-main.” Pak Heru  menyerocos protes atas ucapanku.

“Aku bukan sedang main-main Pak. Tiap anak tentu ingin dan bangga mempunyai panutan. Contohnya seorang anak bangga karena bapaknya seorang pendekar, anak yang lain bersyukur bapaknya seorang pejabat dan lain-lain. Lalu bagaimana dan kebanggaan apa buat anak seperti Roni ini ? Apakah harus bangga mempunyai ayah seorang pemerkosa, tukang jambret atau preman pasar ? Tidak bukan. Karena itu kubuat contoh panutan yang ideal . Dan tanpa sengaja  ucapan saya ber konotasi Tuhan sebagai bapaknya. Dan andaikata Roni benar-benar bertanya kepadaku siapa bapak ideal itu , aku pasti tak menjawab hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum Hanya dalam hati kukatakan dengan yakin Tuhan adalah bapakku. Dan aku putera Tuhan. “

“Maaf Pak Sur ! Anda sahabatku , tetapi untuk yang satu ini Pak Sur sudah kelewatan ! Anda sudah menyinggung harga diri agamaku .Bapak seolah olah mengatakan bahwa Yesus Kristus itu sebangsa Roni. Anda kelewat batas !”

Aku hanya mengangkat bahu  . Masa Bodoh. Dan pembicaraan sore itu  berakhir begitu saja.

Hari hari selanjutnya  berjalan biasa-biasa saja. Pak Ferdinan Heru dan Roni juga tampak biasa-biasa saja. Padahal tidak demikian. Aku bisa merasakan Roni sedang berubah. Ia tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan dingin. Di luar sekolah sering terlihat memakai wangi-wangian dan pakaian bagus.  Pak Heru kelihatan membatasi diri dalam berbicara denganku.  Tetapi ini tak berlangsung lama.

Seminggu kemudian sore hari setelah sekolah bubar dan semua kelas sudah kosong. Pak Heru masuk setelah mengetuk pintu dan aku sedang  bebenah mengakhiri  tugasku.

“Belum pulang Pak ?’ tanyanya kepadaku sambil duduk di bangku kosong di seberang meja.

“Sebentar lagi. Tinggal sedikit . “ kataku sambil membenahi lembaran-lembaran kertas ulangan.

Untuk beberapa  saat ruangan kelas sepi.Sambil menunggu saat yang tepat untuk bicara denganku pegawai TU itu menatap berbagai gambar yang ada di dinding kelas.

“Saya sangat terkesan dengan  akhir diskusi kita tempo hari .” Pak Heru mulai bicara Suaranya memecah keheningan kelas. “Ucapan Pak Sur yang mengatakan bahwa Tuhan adalah bapakku sangat meninggalkan kesan yang dalam yang membuat saya berpikir lain tentang  agama. Terutama agamaku.” aku masih diam. Memberi kesempatan Pak Heru melanjutkan

“Ucapan Pak Surya kemarin benar-benar membuka cakrawala baru tentang perkembangan berbagai agama khususnya tentang agamaku sendiri.……..”

“Maaf saya kemarin tidak berniat atau bermaksud bicara soal agama.” aku langsung memotong.

“Ya…ya… saya mengerti , sangat mengerti. Biarkan saya selesaikan penjelasan saya.” Pak Heru juga langsung memotong ucapan ku.

“Sejak lima malam yang lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa para nabi itu adalah manusia ideal yang di ciptakan Tuhan agar menjadi contoh manusia lainnya……” berhenti sebentar  menatapku.” Kalau Pak Surya pernah mendengar cerita menjelang kelahiran Yesus, anda pasti sependapat denganku.” Berhenti sebentar menatapku lagi. Dan melanjutkan

“ Semua berawal dari ramalan bahwa akan lahir seorang bayi laki-laki yang akan menjadi raja agung. Berita ini tentu saja membuat penguasa yang sah tidak rela. Lalu keluarlah perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki di seluruh wilayah kekuasaannya, Sang Raja takut kalau dinastinya jatuh karena adanya bayi baru yang akan menjadi raja besar. Perbuatan biadab itu berdampak jauh dan lama . Kira-kira 16 tahun kemudian setiap bayi lelaki yang selamat dari pembunuhan setelah dewasa menjadi sangat bangga dan sangat mengidolakan bapak sebagai juru selamat yang menyelamatkan anaknya dari pembunuhan masal. Dalam anggapan mereka berkat perjuangan bapaknyalah dia bisa terus hidup. Akhirnya di jaman itu semua pemuda sangat mengidolakan bapaknya. Yang tidak mempunyai bapak cepat-cepat mencari bapak angkat dan dijadikan idolanya sebagai juru selamat. Diantara pemuda itu ada yang kecewa karena tidak pernah mempunyai bapak yang ideal. Yang kecewa itu bernama Yesus dari desa Nazaret. Dalam kegalauan itulah turun  semacam petunjuk atau istilah Jawanya “Pepadang “dari Allah yang isinya bahwa kalau kau mencari manusia yang ideal dan pantas di  jadikan bapakmu,maka usahamu itu pasti sia-sia, karena manusia ideal itu tak pernah ada. Namun kalau kau ingin mempunyai  bapak yang ideal maka akulah Tuhanmu, yang pantas menjadi bapakmu . Dan kau adalah puteraku……” Begitulah yang ingin kuceritakan kepadamu Pak Sur.” Pak Heru mengakhiri ceritanya dengan puas dan nafas terengah-engah. Rupanya Pak Heru sangat serius dengan ceritanya yang terinspirasi dari gagasanku. Setelah itu suasana semakin sepi dan rembang petang mulai menyelimuti ruang kelas. Lampu  yang hanya 15 watt tidak mampu menerangi seluruh ruangan.

“Tengkuk saya meremang Pak!” kataku setelah lama diam.  ”Bukan hanya riwayat kelahiran nabi Isa  R.a itu sendiri yang luar biasa, tetapi cara Anda bertutur sangat memukau. Bayangkan  andaikata cerita itu itu sampai terucap lewat mulut saya maka saya bisa dianggap pencipta onar dan mengganggu kerukunan umat beragama. Padahal sejak semula ide saya hanya berniat memberi peluang kepada Roni bahwa kalau ia kerepotan mencari bapak yang baik , jangan tanggung-tanggung. Anggap saja Tuhan itu bapakmu. Hanya itu yang ada di kepalaku. Jadi bukan membuat atau meniru cerita-cerita dari kitab suci.” aku memberi penjelasan berkaitan dengan ucapanku  yang menyebabkan timbulnya gagasan yang luar biasa dari Pak Heru.

Waktu terus berjalan.

Berbulan-bulan kemudian perdebatan soal Roni yang mencari bapaknya pun akhirnya terlupakan  Apalagi sejak Roni  sudah menyelesaikan ujian akhir SMPnya tak pernah bertemu lagi denganku  Hanya menurut berita yang kuterima kini Roni selalu tampil trendi .Tampaknya yang tidak berubah hanya aku dan Pak Heru yang masih setia mengurusi siswa-siswi SMP Bakti Pertiwi. Setiap tahun kami berdua selalu “mengasuh “ dan “mendidik  “ anak-anak dari kelompok masyarakat lapisan bawah yang tak pernah mempunyai cita-cita yang pasti tentang hari depannya .

Pada suatu sore , ketika ruang kelas  sepi karena sekolah sudah bubar, di luar dugaan dengan sopan masuklah Roni kedalam kelas di mana saya dan Pak Heru sedang  ngobrol. Roni tampil trendi , harum dan percaya diri.

“ Saya datang hanya untuk minta maaf karena dulu tidak sempat pamit.”kata Roni langsung.

“Saya senang kau masih ingat kami berdua yang biasanya pulang sekolah bersama-sama.”

“Saya juga sering ingat hal itu Pak. Karena itu kini saya sempatkan pamitan.”

“Kau sekarang ada di mana, sekolah atau bekerja.”

“Saya sekarang di Pasar Induk Kramat jati. Tidak sekolah . tetapi bisnis !”ucapnya meyakinkan.

“Apa kau sudah pamit ke Bu Jenab, Bu Emy dan ibu kandungmu  ?”

“Sudah ! Saya sudah menginap dua malam di Bu Jenab, dan sudah ketemu emak. Dan kesini untuk pamitan.” Jawab Roni tetap sopan.

“Syukurlah kami gembira !” jawab kami berdua serentak, dan Roni memutar badan keluar .

“Sebentar Ron ! saya ingin bertanya satu hal. Apa kau keberatan ?” tanya Pak Heru tiba-tiba.

“Apa  itu Pak ?”

“Apa kau sudah ketemu bapakmu ?” aku terkesiap mendengar pertanyaan Pak Heru ini

“Sudah pak ! Saya sudah ketemu !” jawab Roni dengan tersenyum  percaya diri.

“Siapakah ?” Pak Heru semakin berani, dan aku hanya berdoa semoga Roni tidak marah.

“Pasar ! Pasar-induk  adalah bapakku !”  Roni percaya diri dan tetap tersenyum penuh arti.

“Jadi begitu ya …..!” Pak Heru manggut-manggut .kelihatan masih penasaran.

“Boleh saya tanya lagi ?” Pak Heru  nekad  bertanya. Hati saya berdebar.

Roni diam hanya matanya menatap tajam kami.

“ Apa nasihat bapakmu ?” sekali lagi aku terkesiap dan tegang.

Dengan wajah tegang sambil berjalan keluar Roni menjawab

Pasar tidak ramah kepada orang miskin !”  .

 

 

 

 

cerita tentang citra

(Oleh Bintangrina )

Malam ini dari kamar indekosannya yang baru  ia mendengar lagi lagu lama yang meninggalkan kesan yang dalam di hatinya.Bukan dari radio atau TV melainkan  dari warung kopi dan mie rebus yang ada di seberang rumah indekosannya. Penyanyinya Sutarji ,anak angkat pemilik warung . Dia bernyanyi sambil bermain gitar.

“Ternyata masih ada juga yang menyanyikannya. “ pikirnya dan membiarkan lamunannya hanyut mengikuti irama lagu tadi dari kamarnya yang sunyi.

“Terlalu indah untuk di lupa ,Terlalu sedih untuk di kenang

“Setelah jauh aku berjalan…….

Penghayatan atas lirik lagu  KoesPlus itu telah mengembalikan ingatannya ke masa remajanya  yang terlalu cepat ditinggalkan dengan cara menyakitkan dan mempermalukan  orang tuanya.

Hidupnya mulai kacau ketika dia baru lulus SMA dengan nilai pas-pasan.

 

“Dengan nilai kelulusan pas-pasan seperti itu seharusnya kau tahu diri !” kata ayahnya menahan marah kepada Rosita ,anak gadisnya , yang ingin kuliah.Tetapi sang anak tidak terpengaruh oleh ejekan dan kejengkelan  bapaknya ,dan tetap memaksa orang tuanya agar dirinya bisa meneruskan  pendidikannya ke perguruan tinggi.

Akhirnya  orang tuanya menuruti tuntutan anaknya karena ancaman kabur sang anak .

Rosita kemudian memang bisa kuliah walaupun hanya di perguruan tinggi Abal-Abal  alias perguruan tinggi tak berijin. Orang tuanya tak tahu , tak perduli dan tak penting. Yang penting anaknya tidak benar-benar minggat. Untuk itu ia telah berhutang banyak ke pemilik bengkel di mana dia bekerja. Rosita yang mengetahui tentang hutang bapaknya dan tentang universitas abal-abal  juga tidak perduli dan tidak penting. Bisa menyandang atribut mahasiswi itulah yang terpenting. Dengan sebutan mahasiswi ia berkhayal bisa nampang, bisa sering pesta-pesta dan bernyanyi. Itu keinginannya sejak SMA . Ia suka pesta senang bernyanyi dan suaranya di akui oleh teman-temannya memang bagus.

Tetapi baru satu setengah tahun kuliah dan belum terkenal  sebagai mahasiswi cantik dan bersuara merdu , ia harus mengalami kekecewaan karena pesta-pesta atau makan-makan di restauran mewah yang pernah di impi-impikan belum juga dialami.Masalahnya bukan kemewahannya yang tidak ada ,melainkan karena ia tak di ajak teman-temannya.

Di kampus universitas “Abal-abal” itu hanya mahasiswa anak orang super kaya saja yang bisa menjadi anggauta – Geng Pelangi Citra –  Konon dengan iuran bulanan sekian ratus ribu rupiah, dan mempunyai mobil pribadi , seseorang baru bisa  makan-makan mewah serta malam mingguan di klub malam terkenal. Sedangkan Rosita hanya mahasiswi kelas teri, dengan make-up wajah sekedarnya  dan kalau ke Mall harus naik angkot atau bergelantungan di bus kota . Tentu saja dengan kondisi semacam itu  ia tidak pernah mampir ke kafe ,minum coffe latte serta menggigit hamburger.

Tetapi faktor yang memperparah dan mempercepat dirinya meninggalkan kuliahnya ada di luar itu semua. Ia telah hamil di luar nikah. Pacarnya yang kaya, gagah dan anggauta Grup Pelangi Citra langsung berganti pacar tanpa merasa bertanggung jawab ketika tahu bahwa dirinya telah membuat Rosita hamil. Malahan si pacar dengan sikap pongah mengatakan bahwa sejak semula ia tidak pernah menyukai Rosita . Kalau Rosita atau siapapun tidak terima dan  mau berperkara ke Pengadilan atau bahkan ke grup Preman ganas silakan saja.

“Paling-paling saya harus membayar sedikit uang dan mencarikan lelaki yang mau mengakui anak yang ada di dalam perutmu, yang belum tentu anakku !” katanya sinis.

Itulah saat-saat yang paling membuat dirinya sangat tidak berharga, dan di waktu itulah ia menyadari bahwa dirinya memang anak keluarga miskin bapaknya hanya montir bengkel  biasa.

Kalau semula Rosita berhasil menekan orang tuanya dengan ancaman kuliah atau kabur, setelah dirinya hamil maka kini orang tuanya ganti mengancam “Pergi dan tak usah kembali” kecuali melunasi semua hutang-hutang orang tuanya. Impian tentang dunia mewah berbuah penyesalan.

 

Suara letusan yang keras di jalanan  mengejutkan dan membuyarkan lamunannya. Rosi bergegas bangkit dan melongok keluar lewat jendela. Terdengar celoteh bercampur makian lalu  di jalanan tampak dua orang mendorong sepeda motor menepi.Sepeda motor tukang ojek yang sedang melintas tiba-tiba pecah ban menimbulkan suara letusan.  Hanya itu. Setelah tahu duduk persoalannya Rosi kembali menutup jendela dan tidur.

Keesokan harinya dengan lesu ia berangkat kerja. Kesibukan Mall yang meningkat  membuatnya lupa akan kegelisahannya. Namun sore hari menjelang pulang kegelisahannya datang lagi. Teman lelaki yang baru dikenalnya  minggu lalu , yang menjemput dirinya dengan motor bebeknya ditolak secara halus.

“Mengapa ?”

“Karena aku sedang ingin sendiri.” jawab Rosita datar.

“Sampai kapan ?”

Rosita hanya mengangkat bahunya.

 

Petang hari setelah makan malam Rosi ke kios di ujung jalan untuk membeli beberapa keperluan. Pulangnya bertemu Sutarji ,anak lelaki yang bermain gitar hampir setiap malam . Karena rumahnya ada di depan pondokan Rosi maka otomatis mereka berjalan pulang bersama.

“Tak kuduga kau pandai bernyanyi dan bermain gitar  .” Rosita menyapanya.

“Ah hanya beberapa lagu saja. Aku suka lagu yang mudah dinyanyikan juga   genjrengan gitarnya sederhana. Cocok untuk ngamen di bus.”

“Lagu apa saja yang kau senangi ?”

“Beberapa lagunya KusPlus , dan lagu yang dipopulerkan lagi oleh Meriam Belina, terutama lagu – Untuk sebuah nama.”

“Tetapi caramu bernyanyi dan memetik gitar terasa sekali bahwa kau sangat menghayati lagunya. Apalagi kalau itu lagunya KusPlus maka, sangat jelas kalau kau menghayati isi lagu itu.Tidak heran kau berulang-ulang menyanyikannya.

“Rupanya Kakak bosan ya mendengarnya ?”

“Tidak! tidak demikian. Sebaliknya aku suka. Kau tahu kan aku baru tiga bulan indekos disini, yang membuatku betah disini antara lain adalah lagu-lagu yang kau nyanyikan hampir setiap malam. Dan caramu bernyanyi juga bagus.!” Rosi buru-buru menjelaskan dengan jujur agar Tarji tak salah paham.

“Aku menyukai lagu itu karena lagu itu adalah lagu pertama yang bisa kunyanyikan sambil main  gitar.” Tarji menjelaskan.

“Siapa yang mengajarimu bernyanyi ?”

“Teman-teman sesama pengamen dan kakak-kakak LSM di Rumah singgah.” Tarji menjelaskan  dan meneruskan “Tetapi Emak yang memberi tahu cara bernyanyi yang baik.”

“ Berarti Emakmu ibu yang baik. Tetapi aku tak pernah melihatnya. di mana dia sekarang ?” tanya Rosi . Setelah itu ia menyesal telah menanyakan emaknya, karena ia telah mendengar cerita bahwa emaknya pergi entah kemana.

“Kata Abah Ocim emak pergi jauh. Entah ke mana dan dimana” Tarji menjawab jujur.

“Suatu saat ia pasti akan mencarimu Ji .” Rosi menghibur dan hatinya ikut resah.

“ Abah Ocim juga berkata demikian. Malahan  kata Abah kalau saya menyanyikan lagu kesenangan emak  maka Tuhan pasti akan menyampaikan perasaanku kepada Emak !”

“Apakah itu juga lagu kesenangan Emakmu ? Itu lagu sudah lama sekali.”

“Ya . Emak paling bangga kalau aku menyanyikan lagu itu. Tetapi Emak sekarang ada di mana aku tak tahu. “ Sutarji galau.

“Kupikir pendapat Abah Ocim benar.  Tuhan pasti akan menyampaikan rasa rindumu kepada Emakmu lewat lagumu sampai suatu hari,entah kapan, di saat yang tepat ia datang untukmu !” Rosita menjawab dengan perasaan tersendat menahan kesedihan karena saat itu  Rosita ingat anaknya yang juga terpaksa  ditinggal.

“Sampai disini kita berpisah. Kau belok kiri aku ke kanan. Daaag.” Rosi pamit

 

Sesampainya di kamar Rosi langsung merebahkan dirinya ke tempat tidurnya. Tak lama kemudian telinganya mendengar lagi lalu lama itu yang dinyanyikan dengan apiknya oleh Sutarji  Lagunya KusPlus yang senantiasa menghanyutkan kenangannya ke masa-masa yang mengaduk-aduk jiwanya.

Terlalu indah untuk di lupa,

Terlalu sedih untuk di kenang.

Setelah jauh aku berjalan…………..

Dipeluknya gulingnya erat-erat  untuk melupakannya. Semua menjadi kacau gara-gara perilakunya yang  hanya memenangkan rasa amarahnya karena dihianati oleh pacarnya.

“ Kini  anakku berumur 3 tahun. Kukira ia pasti cantik karena aku ibu kandungnya cantik, dan juga pasti bersuara bagus.Tetapi di mana dia. Aku selalu merindukannya .” keluhnya dalam hati sambil menutup wajahnya dengan bantal.Tanpa dikehendaki kenangan lain yang paling menyedihkan muncul lagi.

Hari itu adalah hari yang paling mengguncangkan seluruh jasmani dan rokhaninya. Anaknya  perempuan,lahirnya lancar beratnya 3 Kg lebih sedikit . Ia sempat menyusui sampai tujuh hari lalu ia harus berpisah karena anaknya ada yang mengadobsi. Waktu itu ia tak bisa berpikir atau berkata apa-apa. Ia dalam keadaan yang sangat asing bukan saja dengan pengalaman melahirkan yang pertama , dan tempat di mana dia melahirkan, tetapi juga orang-orang yang menolong dan membantu mencarikan bidan  dan terutama sepasang manusia yang akan langsung mengadobsi bayinya. Ia benar-benar kacau dan tak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingat salah seorang familinya mengatakan bahwa bayinya perempuan cantik dan di pangkal tengkuknya  yang sebelah kiri belakang si bayi ada tahi lalat  sebesar biji kedelai warnanya hitam. Hanya itu yang diingatnya. Setelah itu sampai hari ini ia tidak pernah melihat anaknya lagi. Kalau menurut kata orang yang mengadobsi  anaknya waktu itu, konon sebulan paling lama dua bulan setelah ia melahirkan  ia akan melupakan bayinya , seperti cerita para gadis yang mengalami nasib sama dengan dirinya.

 

Sampai seberapa jauh ia bisa merasakan kebenaran ucapan itu  ia tak pernah tahu soalnya sampai saat ini ia tak bisa melupakan anaknya. Rosita memang tidak terlalu merindukan si bayi, tetapi ia juga tidak bisa melupakannya. Ia mengira bahwa waktu akan  menyembuhkan segala-galanya, termasuk melupakan bayinya. Tetapi kapan itu ? Ia sering berandai-andai ,andaikata ia yang merawatnya kira-kira sudah seberapa besar anaknya kini.

Seharusnya berbagai pertanyaan di atas bisa membuat dirinya menjadi pemurung atau temperamental seperti kata beberapa orang. Tetapi nyatanya malah sebaliknya.  Ia menjadi wanita yang ramah, suka menolong dan membantu orang lain baik diminta maupun tidak .Pokoknya secara perilaku ia menjadi lebih baik. Juga kebiasaannya bercanda dan suka bernyanyi tidak hilang, malahan bakatnya di rawat dengan baik-baik. Perubahan itu tak terjadi secara otomatis, melainkan berkat sebuah buku yang di ketemukan ketika ia sedang membersihkan calon kamar indekosannya yang baru. Ia menemukan sebuah buku catatan entah milik siapa , yang pasti milik anak yang pernah indekos disini.Seperti bukunya anak kuliahan.

Buku itu sudah lusuh dan kumal terselip di pojok antara ranjang kayu dan tembok. Tetapi yang luar biasa buku kumal tadi berisi semacam petunjuk atau nasihat budi pekerti utama yang tidak menggurui , tetapi cukup  kuat memacu dirinya mau mempraktekkannya dalam perilaku sehari-hari. Berkat isi buku tadi Rosita mampu bangkit dari frustasinya Selanjutnya walaupun ia akhirnya berpindah-pindah indekosan demi mendekati tempat kerjanya , buku kumal tadi tetap dibawa dan dibacanya berulang-ulang.

 

Suatu sore ketika Rosita sedang berebut menunggu angkot yang akan membawanya pulang tiba-tiba terdengar klakson di bunyikan berulang-ulang dari truck mini bak terbuka dan di sela-sela suara klakson itu terdengar namanya dipanggil-panggil bunyinya keras mengalahkan kenek angkot yang juga sedang berteriak-teriak mencari penumpang. Mula-mula Rosita kurang menghiraukan walaupun namanya dipanggil-panggil karena yang memanggil biasanya para kenek angkot yang sudah kenal dan menawarkan  angkotnya. Setelah si sopir menjulurkan kepalanya ke jendela lebih panjang sambil terus memanggil panggil namanya , Rosita baru tahu bahwa sopir truck tadi memang memanggil dirinya. Lalu dengan bergegas Rosita mendatangi sopir tadi.

“Tarji ? apa kau memanggilku ….?”

“Betul ! Cepat naik Kak !” kata Tarji lebih keras

“Kemana ….?,kan ini  sudah sore dan saya harus segera pulang. Saya capai Ji !”

“Saya juga mau pulang !Ayo cepat naik. Tuh di belakang sopir angkot pada marah  karena saya berhenti disini . Cepat naik Kak !” begitu Rosita naik,tanpa menunggu pintu di tutup truck mini berangkat.

“Kak Ros kemana saja sudah sebulan tidak terlihat. Menurut Mbah Surip kakak menginap di rumah temannya. “ tanya Tarji sambil mengendalikan truck mininya.

“ Betul ! Saya diminta teman membantu menyelesaikan persoalan pacarnya dan sekaligus dapat order bernyanyi di sebuah café . Lumayan untuk menambah penghasilan . Kini sudah selesai.”  Rosita berkata sambil menengok ke belakang, dan menggelengkan kepalanya kearah kenek angkot yang kecewa karena penumpangnya naik truck mini.

Tarji anak tetangga yang umurnya baru sekitar 20 tahun ini sangat dekat dengannya. Selama ini apapun yang dibicarakan dengannya selalu bersuasana riang.

“Bagaimana keadaan Abah ? Katanya emakmu datang . Kau pasti senang sekali !” tanya Rosita dengan wajah cerah. Entah kenapa asal berbicara dengan Sutarji suasana hati Rosita selalu merasa ringan . Mungkin karena Ia sangat simpati kepada nasib sutarji yang di perlakukan kurang manusiawi justru oleh ibu kandungnya.Suatu peristiwa yang jarang terjadi.

“Itulah yang ingin saya ceritakan kepada Kak Ros. Malahan seminggu yang lalu Abah dan Emak resmi menikah . Ternyata benar apa yang dikatakan oleh para tetangga. Abah dan Emak sudah lama saling jatuh cinta..” Sutarji bercerita sambil tertawa aneh dan membuang muka.

“Mengapa kau tertawa ?”

“Ah tidak. “ kata Tarji sambil cengar-cengir. Karena penasaran Rosita terus mengejar dengan pertanyaan yang sama. Setelah diulang beberapa kali dengan wajah serius akhirnya sambil terus tertawa Sutarji bertanya kepada Rosita apakah Emaknya nanti akan hamil dan mempunyai bayi lagi . Pertanyaan itu mau tak mau juga membuat Rosita tertawa tertahan, membayangkan emaknya Tarji hamil dan Abah yang sudah kakek-kakek akan menjadi ayah lagi. Padahal Rosita belum pernah melihat emaknya Tarji.  Rosita akhirnya tidak menjawab hanya tertawa. Tarji juga tidak berharap ada jawabannya , soalnya Tarji tahu jawabnya memang tidak ada . Di pikiran pemuda yang baru gede pernikahan dan percintaan orang tua adalah ganjil dan lucu.

“ Kalau nanti Kak Ros ke rumahku pasti kaget soalnya penghuninya bertambah lagi. Jadi makin ramai lagi sekarang, bukan soal langganan saja , melainkan juga paman Santo datang bersama anaknya yang berumur 3 tahun.”

“Rumahmu benar-benar ramai. Tuh kelihatan dari sini.” Rosita berkata  sambil turun dari  truck.

“ Terima kasih atas jemputannya. Besok saya bisa berkenalan dengan Emakmu dan keluarga Mang Santo.”

“Jadi malam ini Kak Ros belum mengunjungi emakku ?”

“ Belum soalnya malam ini aku harus mencuci pakaianku yang sudah menumpuk.Pokoknya besok pagi aku akan kesana bertemu dengan emakmu dan juga keluarga pamanmu. Daaag!”

Keesokan harinya setelah sarapan dan selesai menjemur pakaian, Rosita ke warung. Sutarji jelas  sudah berangkat ke toko material. Sesampainya disana hanya ada dua lelaki dan seorang pembeli, Abah dan lelaki muda gagah, dia pasti adiknya Abah. Tak ada seorang wanita pun di sana . Padahal tujuannya kewarung ini ingin berkenalan dengan emaknya Tarji. Suasana warung masih sepi, maklum masih pagi. Rosita disambut ramah oleh Abah . Setelah berbasa basi menanyakan khabar menghilangnya Rosita selama sebulan ini , Abah mengenalkan adiknya kepada Rosita. Sambil berkenalan pandangan mata Rosita menyapu seluruh warung. Yang dicari tidak ada. Ketika Rosita akan melepaskan salamannya dengan Santo ternyata lelaki itu belum melepaskan genggaman tangannya sehingga  Rosita terpaksa menatap wajah Santo kemudian ke tangannya yang belum terlepas.Memberi isyarat agar tangannya di lepas.

“Siapa yang kau cari …?” Santo bertanya dengan sorot mata yang tajam.

“Emaknya Tarji di mana Bah ? saya kan belum kenal ?” tanyanya sambil melepas tangannya.

“Ooo dia sudah pergi tadi pagi-pagi sekali, mengantar  Ririn ke puskesmas !”

“Siapa Ririn itu ?”

“Dia anak Santo.” kata abah sambil menunjuk ke adiknya yang baru saja berkenalan dan telah kembali ke belakang meja warung melayani pembeli yang memesan mie rebus..

“Anak itu sakit apa ?”

“Yah namanya anak-anak. Dia pasti kelelahan naik bus dari Tanjung Karang.”

“Ya dia pasti kelelahan .” Santo menambahkan. “Perutnya juga kembung.”

“Kasihan sekali. Dari Tanjung Karang ke sini kan jauh.”berhenti sebentar “ Kalau begitu saya pamit dulu Bah . Selain ingin ketemu Emak juga ingin berknalan dengan emaknya Ririn. Nanti sore saya kesini lagi.”

Bersamaan dengan diakhirinya kalimat Rosi, tiba-tiba Abah dan Santo saling pandang. Santo wajahnya pucat.

“Ada apa Bah? Apa yang salah dengan ucapan saya ?”Rosita heran.

“Tidak !…..tidak…..tidak ada yang salah hanya…….” kata Abah sambil menengok  adiknya yang tiba-tiba menunduk  sambil membuang muka . Ada tangis tertahan.

“Ibunya Ririn telah meninggal dunia tiga bulan yang lalu. Setelah itu Ririn sering rewel.” Abah menjelaskan derita yang harus di hadapi Santo. Setelah itu semua tenggelam dalam sepi.

“Karena di Tanjung Karang tidak mempunyai saudara, dan para tetangga  yang ada di sana adalah orang-orang sibuk serta kurang cocok, maka Santo membawa anaknya kemari.

“Permisi dulu Bah dan Bang Santo. Nanti sore akan ke sini lagi. siapa tahu bisa menghibur Ririn.”

“Terima kasih sebelumnya.” Kata Abah dan Santo hampir bersamaan. Sepeninggal Rosita kedua lelaki itu masih diam. Abah membeku dengan pikiran kosong, sedangkan Santo resah.

”Mau  kemana kau ?” tanya Abah kepada adiknya

“Membelah kayu ! agar pikiran saya tidak ke mana-mana.”jawab Santo sambil kebelakang warung. Di tempat itu memang banyak potongan-potongan kayu bekas bangunan yang di beli murah oleh Sutarji dan dibawa pulang  untuk kayu bakar  dapur warung abahnya.

“Hati-hati kayu bongkaran banyak pakunya. Kalau beradu dengan kampak bisa rusak

 

Sebetulnya bukan hanya Santo saja yang resah  Rosita juga demikian. Wanita muda itu hatinya mudah tersentuh setiap kali bicara soal anak kecil . Cerita tentang kematian ibunya Ririn mengingatkan dia akan anaknya , yang kini entah di mana. Kalau kini Ririn tak mempunyai ibu lagi , itu memang kehendak Gusti Allah, akan tetapi  perpisahan anak kandungnya dengan dirinya bukanlah kehendak Gusti Allah melainkan karena nafsu pribadinya yang tak ingin bertanggung jawab, yang malu mempunyai anak tanpa pernikahan yang sah. Ia ingat dirinya masih sempat menyusui anaknya dan yakin anaknya juga pasti masih sempat merasakan kasih sayang ibunya .

“Anakku pasti masih bisa merasakan betapa bahagianya tidur dalam pelukanku.” berhenti sebentar.  “ Tetapi hanya tujuh hari. Ya Tuhan hanya tujuh hari……Setelah itu ….setelah itu semua dicabut dari dirinya oleh sepasang manusia yang mau mengadobsi bayinya. Kalau dikatakan pasangan yang mengadobsi bayinya itu manusia jahat, maka dirinyalah yang lebih jahat dan kejam sebab di biarkan bayinya di bawa orang lain tanpa perjuangan mempertahankannya, malahan ia mendapatkan uang banyak atas adobsiannya tadi. Konon  uang tadi untuk membayar hutang bapaknya kepada pemilik bengkel, ketika dirinya memaksa karena ingin kuliah. Tetapi sampai seberapa jauh kebenarannya ia tak tahu, karena sehabis melahirkan ia tak mau pulang lagi  malahan nomor HP nya di ganti sehingga hubungan dengan orang tuanya sama sekali terputus.” Rosita menyesal dan merasa  bersalah. Tetapi itu sudah terjadi sekitar hampir tiga tahun yang lalu.

“Anakku seharusnya tidak perlu kehilangan ibu-kandungnya karena ibunya yaitu diriku  masih ada. “ Pikiran Rosita kacau. “Duh Gusti Allah ampunilah kebodohanku. Semoga anakku dimana pun dia berada ada dalam asuhan wanita yang penuh kasih sayang.” Doa nya.

 

“Hai Rosi! kalau bekerja yang benar. Jangan seperti orang melamun begitu ! Begadangnya  di café, pestanya di café , tetapi telernya di sini !” kepala regu kerjanya menegur .

“Maaf….sekali lagi maaf !” Rosita geragapan dan memperbaiki kerjanya. Tetapi sampai jam tugasnya berakhir dia tidak pernah bekerja dengan tenang.Pikirannya  selalu ingat Ririn, anak 3 tahun yang belum di lihat dan di kenal. Anak itu nasibnya pasti sama dengan anakku

 

Waktu pulang tiba hatinya senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Ririn.Ia akan menyediakan waktunya, hatinya dan jiwanya untuk menghibur Ririn. Ririn akan dianggap sebagai anaknya. Itulah tekadnya.Hatinya bertambah mekar ketika dari tempatnya berdiri ia melihat di seberang jalan  tampak Sutarji sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. Pemuda itu naik motor. Itu jelas motor ojek temannya yang dipinjam untuk menjemput dirinya. Entah mengapa Rosita tiba-tiba merasa bahwa Sutarji sengaja datang menjemput dirinya padahal sebelumnya tak ada perjanjian. Agar yakin Rosita bertanya  kepada Sutarji ,

“Maaf sebenarnya kau mau kemana atau baru dari mana  ?”

“Saya sengaja kesini memang untuk menjemput Kak Ros !”

“Terima kasih sekali. Sepertinya ada yang penting.”

“Bagiku memang ada. karena itu aku menjemput Kak Ros.”

“Coba ceritakan alasanmu .” Rosita mulai gelisah.Dan Sutarji langsung bercerita.

 

“ Tadi sore Emak sedang mandi dan Ririn masih tidur. “ Tarji mulai bercerita sambil menyetir motornya pelan-pelan.  “Rencananya setelah mandi maka emak akan mulai mempersiapkan masak  soto kuning sebagai dagangan nanti malam dan besok pagi. Tetapi di luar dugan Ririn yang sedang sakit bangun dan menangis. Tentu saja yang menggendong Mang Santo. Ternyata Ririn terus rewel, walaupun telah digendong oleh emak. Anak 3 tahun itu terus saja menangis padahal  sudah diberi susu juga bubur  untuk bayi. Dan tak henti-hentinya  memanggil-panggil ibunya. Emak, Abah juga Mang Santo terus berusaha menenangkan . Tetapi anak itu tak mau diam. Ia berontak berguling-guling di tanah sambil menangis menjerit-jerit memanggil-pangggil bundanya yang sudah almarhum. Dalam keadaan panik tadi kudengar Mang Santo  bertanya kepada Abah apakah Rosita kira-kira mau menolong seperti janjinya tadi pagi? Dan  Abah menjelaskan bahwa Rosita hanya tetangga dan ia karyawati Mall selain itu ia juga penyanyi Cafe. “Jadi jangan berharap Rosita sempat menolongmu .” kata Abah.

“Lalu apa kata Bang Santo?” tanya Rosita sedikit terkejut dan ingat tadi pagi sambil pamitan sempat menawarkan tenaganya membantu mengasuh Ririn.

“Apakah Kak Ros memang berjanji kepada Mang Santo ?”

“Memang benar !”

“Jangan berbasa-basi begitu Kak. Kasihan Mang Santo. Hatinya kacau tak mampu menenangkan anaknya dan  akhirnya hanya bisa diam.”

“Lalu ada apa lagi dengan Ririn?” panik

“ Tidak ada ! hanya Ririn menangis memanggil ibunya berulang-ulang.”

“Kasihan Ririn. ! Tadi pagi saya memang sudah berjanji dan bukan basa-basi !….. Ayo kebut !” kata Rosita.

“Mang Santo tadi sore sudah sangat panik sampai  mengatakan ia mau mengganti semua ongkos dan mau mengupah Kak Ros asalkan mau membantu menenangkan Ririn. Tanpa malu-malu Mang Santo  menangis sambil bercerita  bagaimana istrinya menyayangi Ririn dan sangat memanjakan Mang Santo karena dengan gigihnya mempertahankan Ririn sebagai bayinya!”

“Jadi Ririn bukan anak kandung mereka ?”

“Bukan !.”

“Barusan kau bercerita katanya Mang Santo mempertahankan bayinya ! Apa maksud mempertahankan tadi ?” Rosita bersuara keras untuk mengatasi suara mesin motor.

“Saya tidak tahu. Nanti saja tanyakan langsung ke Mang Santo kalau sampai di rumah. Tidak enak bicara sambil menyetir motor!”

Sesampainya di rumah Rosita cepat-cepat mandi dan sedikit makan snack lalu bergegas ke rumah Abah. Warungnya kini tampak lebih terang, bersih dan lebih ramai. Soalnya yang di jual bukan hanya mie rebus dan kopi saja, tetapi juga soto Jakarta atau soto kuning. Rosita langsung ke dapur dan berkenalan dengan emaknya Tarji. Tetapi setelah di dalam dan berkenalan dengan Mak Tarji ia tak melihat ada Ririn.  Bang Santo juga sedang ada di belakang warung membelah  kayu menjadi potongan pendek-pendek dan kecil-kecil.

“Kemana Ririn……katanya dia sakit….?”

“Dia memang sakit, kata bu Bidan ia kelelahan dalam perjalanan yang jauh. Tetapi kini telah tidur, Satu jam yang lalu bu Bidan datang lagi memberi obat.

“Maafkan saya  terlambat pulang. Padahal tadi pagi sudah berjanji akan membantu mengasuh Ririn.” kata Rosita dengan rasa bersalah.

“Tidak apa-apa Ros. Kan ada Mpok .” Terdengar suara Santo dan Rosita memutar badan.

“Ririn…….?”

Dia sudah tidur .” Santo menjelaskan sambil menunjuk ke kamar di belakang warung.

 

Seminggu telah berlalu. Hubungan Rosita dengan Ririn sangat baik. Mak Tarji mengajari Ririn memanggil Rosita dengan bulik, dan anak itu menurut. Kedekatan Rosita dengan keluarga Abah Ocim semakin baik berkat Ririn dan Tarji demikian pula hubungan Rosita dengan Santo. Ternyata Santo lelaki yang gagah dan tampan itu pemalu dan sering kikuk. Rosita sendiri akhir-akhir ini mempunyai kesibukan lain yaitu menjadi penyanyi café seminggu tiga malam dan baru pulang setelah pukul 24 malam.Keesokan harinya ia masih harus bekerja sebagai karyawati di sebuah Mall sehingga baru bisa menemui Ririn sore harinya sepulang kerja. Hampir setiap sore menjelang Rosita pulang Ririn sudah ada bersama Santo di halaman depan dan langsung berlari ke jalan menyongsong Rosita yang baru pulang dan turun dari ojek atau angkot. Demi keselamatan Ririn mau tak mau Santo harus menemani dan menjaganya agar Ririn tidak jatuh atau lari ke tengah jalan. Inilah sebenarnya yang membuat dua anak manusia itu semakin dekat. Tarji berkhayal pasti sangat bangga bila mempunyai bibi Rosita yang bukan hanya cantik tetapi juga suaranya merdu.Tarji pernah dua kali diajak ke café dimana Rosita bernyanyi dan dikenalkan dengan para penyanyi dan pemain bandnya. Hampir semingggu sekali Rosita selalu membelikan rok , atau pakaian atau mainan untuk Ririn.

Pembelian pakaian dan perlengkapan bayi lainnya ini yang kemudian membuat Santo segan, malu dan minder. Selama ini bahkan jauh sebelum istrinya meningggal ia tidak pernah berpikir membelikan sesuatu untuk Ririn. Semuanya di serahkan kepada almarhumah istrinya.

Tiga minggu berikutnya Santo mendapat pekerjaan sebagai  Sopir Travel, yaitu kendaraan khusus antar jemput penumpang jarak jauh. Kesibukannya ini membuat Santo semakin jarang bertemu dengan Ririn maupun Rosita. Sebaliknya hubungan Ririn dengan Rosita semakin dekat malahan sering diajak tidur di kamar indekosannya.

Selama hal itu berlangsung  Abah dan Emak tampaknya biasa-biasa saja . Hanya berharap  Rosita  dan Santo bisa berjodoh dan segera menikah itu lebih baik. Itu yang ada dipikiran kedua orang tua itu.

 

Suatu pagi setelah manggung selama empat hari tiga malam di hajatan di luar kota ,Rosita tidak melihat Ririn. Kata Emak  Ririn di ajak pergi Santo entah ke mana. Santo tidak menjelaskan tetapi tampak kalau Santo terburu-buru. Dengan mobil travelnya ia pergi membawa Ririn. Walaupun kecewa Rosita langsung pamit. Dan berkata kepada Tarji ,yang juga mau berangkat kerja ,bahwa  dia malam ini tidak pulang .

 

Keesokan harinya  ketika Rosita sudah pulang kebetulan ada libur tugas dua hari dan sudah siap mengajak bermain Ririn , belum sampai ia keluar indekosannya ia melihat  Tarji bergegas dengan  ekspresi wajah panik menemuinya dan langsung mengadu “  Kasihan Ririn!”

“Kan ada bapaknya , Abah dan juga ada Emakmu .”

“  Ririn hilang!”

“Apa….?”

“Ririn hilang ! benar-benar hilang !”

Mustahil ! bagaimana itu bisa terjadi ?! tanya Rosita kurang yakin dengan berita itu.

“Tanyakan saja langsung ke bapaknya . Tuh dia di bawah pohon sawo . Linglung !” Tarji dengan marah menunjuk ke bangku di bawah pohon sawo. Setelah itu Tarji menghilang.Tampak Santo sedang duduk bersandar loyo di bawah pohon sawo . Tanpa ragu-ragu dengan suara bergetar menahan marah Rosita mendekat dan bertanya kepada Santo tentang kebenarannya.

“Memang benar Ririn sempat hilang. Tetapi kini sudah ketemu.” Santo menjawab,peluh membasahi wajah dan tubuhnya.

“Jadi Ririn selama tiga hari ini hilang, baru ketemu tadi pagi dan langsung dibawa pulang!” Rosita meradang . Mulutnya terus  “berkicau dengan pedasnya “ mengulang-ulang  apa yang telah di katakan Santo di tambahi kata-kata lainnya yang menyakitkan perasaan,.

“Sekarang di mana Ririn ? saya tak melihatnya !” Rosita masih terus mengoceh sambil tangannya menunjuk-tunjuk ke berbagai arah untuk membuktikan Ririn tidak ada. Santo.yang di hardik hanya menunduk, wajahnya pucat.

Abah Ocim  menahan diri agar tidak menambah rumitnya masalah. Perilaku Rosita yang sedang kalap mengingatkan Abah akan almarhumah  emaknya  yang sudah puluhan tahun yang lalu meninggal dunia. Saat itu Abah rasanya seperti  menyaksikan emaknya memarahi Santo yang waktu itu masih anak-anak tetapi berani kabur dan dirinya  disuruh emaknya  mencari anak itu dengan ancaman tak boleh pulang kalau belum ketemu.

“Ririn di bawa Mpok ke rumah sakit .” jawabnya tetap menunduk. Ketika Rosita akan menanyakan di rumah sakit mana tiba-tiba HP nya berdering. Dari Tarji yang baru saja sampai  di rumah sakit menemani Emak.

“Baik saya akan segera ke sana. Begitu saya sampai di rumah sakit Emak kau antar pulang. Apa…….? Saya sendiri yang akan menjaga Ririn ! Sampai kapanpun akan tetap menjaganya , jangan berpikir yang lain. !” telepon di tutup. Saya akan pulang sebentar mengambil pakaian kata Rosita. Santo menengadahkan  kepalanya dan melihat ke Abah, yang hanya memelototi adiknya, sambil menggoyangkan kepalanya.

“Ros…Rosita…biar aku mengantarkanmu !” Santo berkata dengan suara bergetar.

Untuk beberapa saat Rosita tertegun dan sadar  bahwa ia telah menghardik Santo, padahal Ririn anaknya Santo, bukan anaknya. Tetapi mengapa dirinya yang marah-marah.

“Pakai motornya Gufron saja.” Kata Abah sambil melambaikan tangannya  ke jalan . Kebetulan Gufron tukang ojek  kerabat jauh Abah sedang lewat. Abah di desa itu sangat dihormati. Tanpa banyak bertanya atau mendebat Gufron langsung menyerahkan motornya kepada Santo.

“Kita mampir ke rumah dulu. Saya akan menyiapkan pakaian ganti dan juga nanti mampir ke tukang penatu.” kata  Rosita.

“Tukang penatunya di mana….?” Santo heran ketika motor menuju ke arah kota. Kemudian berhenti kesebuah kios. Disitu ada kesibukan khusus.Beberapa karyawan menimbang-timbang pakaian dan mencatatnya , kemudian menyerahkan bukti penerimaan  pakaian yang akan di cuci.

Sesampainya  di rumah sakit  Rosita tampak gelisah dan masuk dengan tergesa-gesa.

“Ros kita harus belok kiri, lalu ke kiri lagi.” Santo menjelaskan kamar di mana Ririn di rawat.

“Oh maaf saya sangat gelisah.”

“Maafkan saya Ros, seharusnya kau tak perlu terlibat akibat kesalahanku !” Santo memberanikan diri berkata sambil menyapu seluruh tubuh Rosita dengan ekspresi yang sulit di tebak.

“Sekarang yang mana ruangan Ririn….?” Tanya Rosita untuk mengalihkan pandangan mata Santo yang tajam tapi sulit di tebak. Santo tidak menjawab hanya dengan kepalanya dia memberi isyarat agar Rosita melihat ke kamar berikutnya , dimana Tarji melambai kearah mereka.

Sesampainya di ruangan Rosita melihat Ririn sedang tidur tetapi tidak pulas. Sesekali terdengar Ririn merintih. Tidak jelas apa yang diucapkan. Ketika Rosita mengatakan bahwa disini ada nenek, ada juga Bulik Rosita , juga abah dan bang Tarji, Ririn bukannya bangun justru menjerit-jerit “tidak mau…..tidak mau….!!”

“Sudah ! Sudah jangan berkomentar apa-apa. Anak ini masih dibayangi  ketakutan dan kepanikan!” kata perawat yang masuk dan memeriksa panas tubuh Ririn.

“Bagaimana dia Mbak ?” tanya Rosita kepada perawat dengan cemas.

“Dia tidak apa-apa, dia hanya kecapaian dan beberapa kali jatuh, entah di mana.” Berhenti memeriksa barut-barut bekas jatuh  dan melanjutkan.

“Sebaiknya saya yang mengantar Empok pulang sambil pamit kepada perusahaan bahwa saya tidak bisa kerja. Dan Tarji menemani Rosita.”

Tak lama kemudian Ririn sudah bangun dan langsung menangis. Begitu melihat Rosita , Ririn langsung bangun dan Rosita sudah mendahului memeluknya sambil membujuk bahwa kini mereka telah bersatu lagi. Ketika Santo berusaha ikut bicara agar jangan menangis terus, Rosita langsung memotong  mengatakan biar saja Ririn menangis sepuas-puasnya agar tidak ada beban batin karena dua , tiga hari yang lalu ia merasa sedih dan takut. Santo langsung diam menunduk dan pelan-pelan keluar ruangan.

Selanjutnya Rosita terus merayunya agar tangisnya mereda dengan sendirinya. Sambil merayu  tangannya mengganti bajunya Ririn dengan yang bersih. Pada saat ia membuka bagian kiri tubuhnya , sampai di bagian pangkal tengkuknya  agak kekiri, Rosita tertegun. Bagian tertentu itu di usap-usap. Beberapa detik kemudian  dipeluknya rubuh Ririn erat-erat. Kejadian yang hanya sekejap ini memang terlewatkan oleh yang ada di situ , kecuali Emak yang sedikit heran akan perilaku Rosita yang tiba-tiba memeluk Ririn sambil menutup matanya seperti sedang berdoa.

Rosita memang sedang berdoa. Beberapa kali di elus-elusnya pangkal kiri tengkuk Ririn . Di bagian yang di elus-elus itu memang  ada tahi lalat besar sebesar kedelai berwarna hitam .Tahi lalat besar yang tak akan hilang seumur hidupnya.

“Tuhan aku mengucap  syukur kepadaMu karena telah mengembalikan anakku yang telah berpisah denganku ketika ia baru berumur tujuh hari.!”

“Ada apa Ros ?” tanya Emak juga Tarji. Santo walapun tidak berkata apa-apa tetapi dia heran melihat kelakuan Rosita yang aneh terutama ketika sedang mengusap-usap pangkal tengkuknya. Santo tahu dan hafal apa yang ada di pangkal tengkuknya Ririn, sebuah tahi lalat besar . Tetapi ia tidak mengerti mengapa Rosita  perilakunya sangat aneh. Lebih aneh lagi ketika mendengar ucapan Rosita waktu membujuk Ririn.

“Ririn mulai saat ini bersama bulik terus ya. Dan memanggilnnya bukan bulik , tetapi ibu, atau bunda .”

“Bunda….?” Emak, Tarji dan Santo terkejut dan saling pandang satu sama lain. Tetapi Rosita seperti tidak mendengarnya. Ia terus saja membuka pakaian Ririn dan menggantinya  dengan pakaian yang bersih yang sudah disediakan oleh Emak.

“Emak kalau akan pulang silakan sekarang saja. Ririn aman bersamaku .” ucapan Rosita ini semakin membuat mereka bingung tetapi tak berkata apa-apa. Santo tegang.

Sambil pamitan dan mengucap mualaikum salam kepada  kepada Ririn dan Rosita semua langsung keluar kamar.

Tanpa di ketahui oleh Emak dan anaknya Santo kembali ke kamar dan menatap tajam kepada Rosita.  Yang ditatap hatinya berdesir, tak tahu mengapa Santo kembali dan menatap tajam kepadanya. Tetapi naluri seorang ibu yang kini mengisi seluruh relung jiwa Rosita membisikkan ada bahaya dan ia  perlu melindungi Ririn. Otomatis tangannya merangkul anaknya dan menatap waspada kepada Santo. Yang dipangku sekarang ini adalah anak kandungnya  tak akan dilepaskan selamanya. Itulah yang ada di benak Rosita.

“Ada apa Bang ? Apa ada yang masih tertinggal ?” tanya Rosita sewajar mungkin .  yang ditanya tidak menjawab  dan tetap menatap tajam pada si wanita.

“ Dengar baik-baik ! Ririn adalah  anakku !” kata Santo dingin.

Ririn yang dipangku Rosita menurut saja malahan ikut menatap  Santo.

“ Mualaikum salam ! hati-hati di jalan…..!” ucap Rosita setelah menguasai perasaannya . Ia sengaja mengucap kata salam untuk mengusir secara halus agar Santo pergi .  Santo akhirnya memang pergi , dan ketika balik badan  bertubrukan dengan Tarji yang mau masuk. Rasa tegang yang di alami Rosita berubah menjadi rasa geli.

“Main tubruk saja!” Santo menghardik sambil keluar, dan Tarji yang semula terkejut akhirnya hanya geleng-geleng kepala dan menggerutu “Dasar !”

“Mang Santo barusan ngomong apa ?”tanyanya setelah tenang.

“Ah tidak ada. dia tak bicara apa-apa.  Hanya menatap Ririn saja.” Rosita menjawab sekenanya. Setelah bicara lain-lain dan ada kemungkinan nanti sore Ririn bisa pulang, Rosita bertanya bagaimana proses adobsi Ririn oleh Santo.

“Jadi Kak Ros belum bertanya langsung ?”

“Tidak sempat. Karena itu kini kau saja yang bercerita agar saya tahu proses adobsinya.”

“Proses adobsinya tidak ada, karena tidak didaftarkan ke mana-mana. “ jawab Tarji . “ Hanya di anggap luar biasa karena  bayi itu di selamatkan dari kecelakaan tunggal mobil di jalan raya di sebuah jalan hutan yang sepi, antara Bakauheni dan Palembang.  Mang Santo yang sedang lewat menghentikan trucknya karena mendengar tangis bayi. Dan memang ada bayi menangis di dalam mobil yang mulai terbakar itu.Seorang bayi berhasil di selamatkan dari kebakaran sedangkan sepasang manusia yang duduk di depan tidak. Anehnya  setelah itu tak ada berita apa-apa , baik tentang sepasang penumpangnya maupun yang mengaku atau memberi tahu telah kehilangan bayi. Akhirnya Mang Santo yang memang tidak mempunyai anak mengaku bahwa bayi itu anaknya. Ternyata istrinya setuju dan merasa senang dengan  memberi nama Marini, dengan panggilan Ririn. Ketika pindah ke Tanjung Karang ,Ririn diaku sebagai anak kandungnya.” Tarji mengakhiri ceritanya. Setelah itu suasana sepi. Rosita sibuk menyisiri Ririn dengan penuh kasih .

“Ririn memang anak bunda  !” kata Rosita kemudian sambil memeluk Ririn dan yang dipeluk tertawa geli. Sebaliknya Tarji heran. Ini untuk  kedua kalinya tiba-tiba Rosita mengaku Ririn anaknya. Tetapi Tarji diam saja dan akhirnya lagi-lagi hanya angkat bahu tak perduli. Tetapi sikap masa bodoh yang dianggap bukan urusannya itu berubah menjadi urusannya.

 

Setelah menginap semalam  akhirnya Ririn diperbolehkan pulang. Semua biaya rumah sakit  telah di lunasi oleh oleh Rosita dan ini membuat Santo tersinggung.

“Itu kan anakku. Mengapa dia yang membayar ?”gerutu Santo dengan wajah tegang.

“Kalau kau mau  membayar langsung saja bicara sama Rosita. Kan ada rekening pembayaran Mengapa harus menggerutu!”emak berkata sambil memberikan rekening pelunasan . Dengan rasa malu Santo mengganti semua biaya rawat inap buat Ririn.

Setelah itu hari-hari berjalan kikuk buat mereka berdua terutama buat Santo karena di matanya kini Ririn sepenuhnya di kuasai oleh Rosita. Dan Ririn tampaknya senang, tak pernah  memanggil-panggil ayahnya. Tidak seperti dulu. Malahan sering menginap di kamar Rosita.

 

Seminggu setelah itu, suatu sore Rosita pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah mandi dan ganti baju dengan bergegas Rosita datang ke warung Abah, mencari Marini. Dengan wajah tegang dia mencari cari Ririn.

“Kemana Ririn ?!” tanyanya dengan ekspresi panik

“Jalan-jalan dengan bapaknya !”

“Ini kan sudah  sudah sore, mengapa belum pulang ? tanya Rosita mulai panik. “Kemana saja mereka  apa sudah mandi? Jangan-jangan di dibawa pergi seperti tempo hari bagaimanapun seorang bapak kurang bisa mengasuh bayi. Apalagi……….” Perkataannya terhenti . Dari halaman terdengar celoteh riang Ririn.  Ririn tampak diturunkan dari tempat duduk tambahan dari sepeda ontel oleh bapaknya.

“Besok sore kita bersepeda lagi ya.” Kata si bapak dan setelah mengiyakan kata bapaknya ,sambil berlari masuk kedalam si kecil mencari neneknya. Dan ketika ketemu Rosita si anak makin gembira dan bercerita bahwa ia baru saja bersepeda bersama bapaknya  keliling komplek perumahan. Dengan perasaan marah dan cemburu  yang di tahan dipaksanya dirinya tertawa dan menanggapi celoteh si anak. Setelah menyimpan speda ontelnya di belakang warung, Santo  muncul ke ruang tengah  warung yang sepi.

“Dari mana saja, sudah hampir magrib masih saja main….!” Tiba-tiba Rosita bertanya  ketus.

“Itu terserah saya. Kan Ririn anakku dan hampir setiap sore kami berdua bersepeda keliling komplek!” jawab Santo tanpa menengok, langsung minum teh manis  yang baru saja diseduh. Kemudian dipanggilnya Ririn di tawari teh yang baru saja diminum dan masih hangat.

“Rin sini minum sama ayah !” katanya membujuk, tetapi cepat-cepat Rosita menanyakan kepada Ririn di mana susu buat Ririn yang baru saja kemarin sore dibelikan. Pesona Rosita lebih kuat sehingga Ririn berlari ke meja di mana terletak susu yang dimaksud.

“Ririn harus banyak minum susu ya agar lebih montok dan sehat, tidak seperti sekarang kurus!”jawab Rosita  tetap ketus.

“Aku bapaknya jelas lebih tahu soal anaknya!” Santo langsung memotong .Ia tersinggung.

“Seorang bapak yang ,menyayangi anaknya mustahil menyerahkan anaknya ke tempat lain sehingga sempat hilang ! Bapak macam apa itu ?” di luar dugaan Rosita menjawab dengan tuduhan yang sangat menyakitkan.

“Saya tidak menghilangkan Ririn ! Kau ini siapa berani-beraninya berkata demikian!”

“Kalau kau merasa bapaknya, mustahil menghilangkan anak kecil. Kau lelaki yang sengaja mengirim anak kecil ke tempat yang tak di kenal. Tidak mustahil kau sengaja menjual Ririn !”

“Jaga ucapanmu!kau lancang sekali ! Kau kira aku seorang kriminal ?!”

“Santo !! “ tiba-tiba Abah Ocim ikut bicara. “Sejak Ririn hilang sampai hari ini kau hanya menampakkan kebingunganmu saja! Kini jelaskan juga kepada kami semua yang ada disini. Kau kemarin itu kemana dan mengapa Ririn sampai sempat hilang !” Abah  Ocim menunjukkan kemarahannya.

“Saya memang  salah Bang !” kata Santo panik sampai tersedak dan terbatuk-batuk.“Tetapi…. tetapi…yang penting Ririn kini sudah pulang dalam keadaan sehat !”  Santo wajahnya masih pucat menahan marah dan berbagai perasaan yang di tahan.

“Bicaralah yang jelas kemana kau bawa Ririn sampai sempat tiga hari hilang! Untung saya belum lapor Polisi . Bayangkan kalau sampai tersebar berita bahwa kita keluarga  penculik atau penjual anak ! Mau di taruh di mana wajahku !?” Abah marahnya sudah serius.

“Saya ke Pandeglang, untuk mencarikan ibu buat Ririn. Ternyata……! Ternyata  saya kecele! Sudahlah Bang saya jangan di tanya terus-menerus begitu. Saya malu  Bang !” jawab Santo sambil duduk di bangku panjang.

Untung warung sepi belum ada pembeli yang datang hanya Tarji yang ikut mendengarkan

“Saya tidak berniat mempermalukan kamu Santo justru sering mencemaskanmu. Kau adikku satu-satunya. Tetapi sejak dulu setiap saya bertanya  tentang dirimu, jawabmu tidak pernah tuntas. Kini karena kita bicara soal anak yang hampir hilang, dan ada tanda-tanda unsur kesengajaan, yang mengarah kepada penculikan dan penjualan bayi maka saya  semakin cemas. ! Santo jawablah pertanyaanku dengan jelas!” Abah kini benar-benar  marah bercampur sedih.

“Abang dan Mpok saya ke Pandeglang benar-benar mencarikan wanita untuk ibunya Ririn. Bukan yang lain….. Sekarang jelas Bang !” Santo menjawab frustasi.

“Kau ketemu wanita itu dimana dan kapan ?”

“Waktu naik bus dari Tanjung Karang ke sini yang meringankan bebanku menghadapi  rewelnya Ririn adalah wanita yang duduk dikursi di sebelahku.Wanita itu ikut menidurkan Ririn di bus. Sebelum berpisah kutanyakan alamatnya, ia tinggal di Pandeglang……….!”

“Cukup ! Bagiku sudah cukup jelas . Adikku yang kusayangi ternyata bodoh !  Bodoh!!”

“Ampuni aku Bang ….!”

“Kalau tujuanmu untuk mencarikan ibunya Ririn , mestinya kau cari wanita yang cocok dan sudah di kenal Ririn, misalnya wanita yang ada di desamu sana diTanjung karang.!”

“Tetapi disana  tidak ada Bang….tidak ada.!”

“Kalau disana tidak ada ya dicari di lain tempat , pokoknya Ririn cocok!”

“Siapa dan dimana Bang ?”

“Kau ini memang keterlaluan ! Matamu melotot tetapi hatimu buta !”

“Iya Bang, saya memang bodoh, hatiku buta. Kini tolonglah saya siapa yang mau dengan aku? terdengar permintaan penuh memelas dari Santo.

“Kau memang keterlaluan !” Abah Ocim gemas dan istrinya memberi isyarat  agar jangan berkata kasar  dan tetap sabar. Setelah mengambil nafas panjang menyabarkan diri sambil geleng-geleng kepala akan kebodohan adiknya,lelaki tua itu berkata dengan tenang

“Wanita yang kini di tempel Ririn itulah yang cocok dengan anakmu. Mengapa bukan dia yang kau lamar ?”

Ucapan Abah Ocim bukan hanya mengejutkan  Santo yang langsung tertegun menatap ke arah Rosita kemudian menunduk, tetapi juga Rosita sendiri yang untuk beberapa saat berdiri terpaku di tempatnya.Ucapan Abah memang sangat mengejutkan yang ada disitu termasuk Tarji. Emak walaupun terkejut hanya menengok sebentar ke arah Rosita.Sesaat ruangan sepi. Abah yang  menatap tajam adiknya, masih diam menunggu . Sang Adik hanya menunduk.

“Mengapa kau diam Santo ?! Kurang cantikkah dia atau ada kekurangan  lainnya ?”

“Tidak  Bang !Rosita terlalu cantik buatku. Abah harus tahu saya hanya seorang sopir, seorang montir. Malahan kini hanya menjadi petani  kopi kurang dari 1000 pohon di Tanjung Karang.” berhenti sebentar . Bayangkan untuk cantik seperti dia kamarnya pasti penuh dengan alat-alat kosmetik yang mahal dan mana aku kuat membelikannya Bang !” jawab Santo memelas.

“Apa kau pernah masuk ke kamarnya Rosita ?” tanya Emak di luar dugaan.

“Tidak Mak, tidak pernah !” tanyakan ke Rosita, kalau tak percaya.!” Santo meminta dukungan Rosita. Yang diminta hanya diam.

“Mang Santo ! Mengapa Mamang berpikiran sempit ? Bukankah Mamang yang mengajari aku pepatah Inggris yang berbunyi “ You are what you think ?   yang artinya dirimu adalah apa yang kau pikirkan. Kalau Mamang hanya berpikir yang sempit-sempit saja memang seperti kemarin itulah jadinya. Ririn hampir hilang. Saya ingin mengingatkan  bahwa Mamang adalah sopir teladan . Dan mempunyai sertifikat sebagai sopir teladan dari Ka Polri, juga mendapat sertifikat terbagus dari sebuah dealer Mobil Jepang dan banyak lainnya lagi ! Mengapa Mang Santo mencitrakan diri serendah itu ?” celoteh Tarji di luar dugaan. Rupanya Sutarji jengkel melihat perilaku adik bapaknya yang karena frustasi lalu merendahkan dirinya dalam menghadapi Rosita.

“ Dimataku Rosita terlalu cantik dan bisa menumpulkan gagasan-gagasanku !” Santo frustasi.

“Apa tidak terbalik Mang ?” Tarji terus mendesak.” Bukankah  kemarin Mamang bercerita kepada saya  bahwa gagasan mendirikan tukang penatu di rumah kita sebagai cabang laundry and dry cleaning besar di Bekasi itu muncul dari Kak Ros pada waktu Mamang mengantar kak Ros ke tukang penatu di kota. Bukankah ide itu muncul karena  Mamang dekat dengan Kak Rosita ?”  di luar dugaan Tarji  masih bercerita banyak tentang ide-ide lainnya yang berasal dari Rosita.

“Sudah !Sudah sukup Ji! Saya malu…” Santo wajahnya makin merah. Malu.

“Kak Ros dan Abah perlu tahu bahwa setiap sore Mang Santo bersepeda ontel keliling perumahan ini bukan hanya main-main dengan Ririn , tetapi sekaligus menyebar pengumuman bahwa dua minggu lagi di rumah kita akan di buka Laundry and Dry celaning ,cabang Bekasi.!”

Semua yang mendengar terkagum-kagum  dengan gagasan Santo. Abah Ocim baru mengerti mengapa sudah seminggu ini adiknya sibuk membersihkan bahkan mengganti kaca depan rumahnya, yang memang hak warisan adiknya , menjadi seperti sebuah toko. Abah sebagaimana biasa tidak langsung bertanya tetapi membiarkan dulu semua kegiatan adik satu-satunya ini.

 

“Nah Santo kini dengar baik-baik omongaku !” Abah Ocim tiba-tiba memotong dan bicaranya berubah, suaranya berat dan dalam , menandakan  dia sedang serius dan Santo mengerti abangnya sedang serius, setengah marah dan harus di dengar baik-baik.

“ Apakah kau benar-benar serius mencarikan emak buat Ririn ?”

“Ya saya serius !” Santo menjawab sambil melirik ke sekitarnya. Keringat membasahi tubuhnya.

“Menurut pendapatmu apakah Rosita pantas menjadi emaknya Ririn ?” tanya Abah selanjutnya.”

Santo hanya  mengangguk dan menengok ke arah Rosita sebentar lalu menunduk lagi.

Yang di di tengok terhenyak . Jantungnya berdebar kencang .Dengan gelisah melirik kekiri. Emak mendekat dan tersenyum penuh arti sambil mengelus punggungnya.Ririn berpindah menempel di badan neneknya.

“Kalau demikian lamarlah Rosita !”

“Kapan Bang …..Sekarang ?”

“Sekarang juga!…… Atau kau menunggu Rosita dan Ririn mendapat suami dan bapak baru ?!”

“ Bapak baru ….?! Tidak bisa , tidak boleh !” di luar dugaan Santo berdiri tegak bicara tegas dan garang. Tangannya terkepal, pandangan matanya  yang tajam itu setelah menatap Rosita lalu bergeser menyapu seluruh ruangan . Seolah-olah dia siap menghadapi apapun yang bakal menghalanginya. Diluar dugaan  kejadian yang mendadak ini justru membuat Rosita kagum atas sikap Santo.

“Demi Tuhan, inilah lelaki jantan yang selalu kubayangkan.Aku aman bersamanya. Tuhan jadikan dia pemimpinku, agar jelas citra diriku sebagai istri dan ibu.”  bisik  Rosita kepada Tuhan.

Suasana mendadak sepi dan tegang. Emaknya Tarji mendadak ingat masa lalu bagaimana dirinya tidak berdaya menghadapi Abah Ocim yang menanyakan apakah dia menerima lamarannya. Emaknya Tarji bisa membayangkan bagaimana gelisahnya Rosita. Karena itu di usahakan dirinya tetap tersenyum ramah  dan mengangguk kepada Rosita.

 

Semua perhatian terpusat kepada Rosita ,sehingga tak ada yang menyadari masuknya seorang lelaki tua sahabat Abah dan duduk tak jauh dari Santo. Santo masih berdiri memandang Abangnya dengan wajah pucat. Sesaat sang Abang teringat masa kecilnya Santo, adik satu-satunya, yang ketakutan karena dimarahi oleh ayah mereka.Dan saat itu dirinyalah yang menghiburnya. “ Kinipun Santo membutuhkan diriku.” pikir sang abang.

“Katakan baik-baik Santo !” suara Abah terdengar lembut. Dan ini  membangkitkan semangatnya. Santo dengan langkah pasti berjalan ke arah  Rosita. Setelah cukup dekat ia bersimpuh di depannya. Rosita tak bisa berpikir lagi , indah menyenangkan dan tak terduga

.Di saat yang bersamaan Ririn mendekati bapaknya ikut bersimpuh dan menirukan perilaku bapaknya. Mereka berdua bapak dan anak memandang ke arah Rosita, memohon kecintaan dan kerelaan hari Rosita

“Rosita, aku melamarmu untuk menjadi istriku dan ibu buat anakku…..Jawablah!”

Semua diam tegang. Emaknya Tarji kembali mengelus punggung Rosita dan tersenyum memberi semangat dengan anggukan kepala.

“ Ya aku mau menjadi istrimu dan ibunya Ririn.” Rosita menjawab lirih

“Saya belum mendengar jelas…. ulangi !” tiba-tiba temannya Abah berteriak menghentak.

“Saya juga belum mendengar kecuali kata “ya “ saja. Mohon di ulangi!” Abah menyetujui.

“Bagaimana kau Tarji apa sudah jelas ucapan Rosita tadi ….?” Abah minta pendapat Tarji sambil melotot  memberi isyarat agar Tarji mendukung gagasan Kakek ,temannya Abah.

“Saya ….saya… terus terang  sebaiknya  Kak Rosita bicara lebih keras. Para pendekar Betawi ini tidak suka yang lembek-lembek !”

“ Ya saya mau menjadi istrinya Bang Santo dan menjadi ibunya Ririn !”akhirnya Rosita yang biasa bernyanyi di Café mempunyai keberanian untuk bicara jelas

“ Syukur Alhamdulillaaaaaah..!!!!” Terdengar ucapan puji syukur dari semua yang hadir.

“Bang Santo berdirilah !Aku malu.”  kata Rosita sambil memeluk Ririn dan mempersilakan Santo berdiri.

Setelah itu Rosita , Ririn dan dan emaknya Tarji langsung berpelukan . Rosita menangis bahagia.

Derita batin yang harus dipikul sendirian akibat perilakunya  sejak remaja kini terhapus sudah. Setelah ini ia akan menemui orang tuanya, yang telah ditinggalkan tanpa pamit untuk, memohon ampun atas segala kelakuannya

Adzan magrib  terdengar dari masjid  komplek.

Selesai.

 

Pretty woman

PRETTY   WOMAN

( oleh Bintang Rina )

 

Orang boleh percaya juga boleh tidak , tetapi sebaiknya Anda percaya bahwa perbuatan apapun yang dilakukan oleh manusia tidak pernah hilang. Orang bisa lupa atau pura-pura lupa, tetapi apa yang dilupakan itu masih ada dan tersimpan di dalam jiwa atau batin yang paling dalam dari orang yang bersangkutan.  Jadi tidak pernah hilang.

Dan perbuatan yang telah dilupakan itu bisa muncul lagi kepermukaan alias ingat lagi bila ada pemicunya. Pemicunya bisa bermacam-macam  biasanya berkaitan dengan nafsu-nafsu , perasaan atau emosi orang yang bersangkutan.

Walaupun demikian munculnya kembali ingatan itu tidak utuh dan tidak orsinil lagi seperti aslinya  karena sudah terpengaruh atau terkontaminasi oleh berbagai peristiwa yang selalu datang dan pergi oleh yang bersangkutan. Terutama pengaruh “waktu “yang  tidak sama.

Di bawah ini ada pengalaman temanku bernama Praba Sentika, yang tanpa sengaja ingat kembali mantan kekasihnya yang telah dilupakan dan hidupnya kembali  dinamis setelah lama membeku. Pemicunya adalah rasa simpati yang menggores kenangannya karena mendengar kisah seorang wanita yang rela pulang ke desa demi merawat bapaknya.

Kisahnya sebagai berikut,

Suatu pagi , di teras belakang  sebuah rumah sepasang suami istri berbincang ringan.

“Setelah sarapan aku akan berjalan-jalan menyusuri saluran induk.” kata Praba Sentika   kepada istrinya sambil menyeruput kopi. Sementara istrinya menyiapkan makan pagi.

Setelah sarapan Praba pamit. Yang dipamiti hanya berpesan jangan jauh-jauh jangan kecapaian.

“Aku pulang kalau sudah lelah atau sudah bosan.”

“Lalu jus tomatnya bagaimana ?” tanya istrinya. Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena sudah jelas yaitu .”Simpan saja di kulkas.”

Setengah jam berjalan Praba ingat sesuatu dan berbelok ke kiri meniti jembatan dari dua batang kelapa di atas saluran induk untuk mampir ke warung . Praba membeli jajanan agak banyak. Bukan untuk dirinya tetapi untuk dibagikan kepada anak-anak atau siapa saja yang ditemui sepanjang jalan.

Tujuan Praba Sentika berjalan menyusuri saluran induk irigasi selain sudah kebiasaannya juga untuk menghibur hatinya yang galau. Biasanya setelah bertemu dan ngobrol dengan siapa saja di jalan maka, kegalauan hatinya hilang. Namun dari tadi tak bertemu dengan seorang pun,baik anak-anak maupun orang dewasa . Ini mengherankan. Jalan irigasi kali Pahit ini memang tidak seramai  jalan desa tetapi juga tidak sesepi seperti hari ini. Biasanya beberapa anak pulang sekolah atau orang  berjalan dari atau ke sawah sering di jumpai . Pedagang keliling yang lewat secara rutinpun hampir selalu ketemu.Tetapi hari ini tidak.

Selain suasana sepi dan langit berawan ,yang lain tak ada yang baru . Juga tak ada yang berubah dari dulu sampai sekarang. Dan mungkin juga sampai kelak di kemudian hari. Lelaki tua itu  hampir saja memutuskan akan kembali karena sudah lelah , bosan dan tidak ada teman berbincang. Jajanan yang terlanjur di beli akan dibagikan kepada anak-anak tetangga, yang jumlahnya tidak banyak , karena KB di desanya berhasil. Desanya sekarang menjadi desa yang makmur tetapi sepi.

Namun ketika akan balik badan tiba-tiba ia berhenti,merasa melihat pemandangan yang aneh. Didepannya masih agak jauh menjelang saluran induk berbelok ke kiri  ada yang berubah.  Karena penasaran  ia terus maju. Setelah saluran induk itu menikung ke kiri dan kali Pahit  lurus maka, tanah kosong dan terbuka diantara kali Pahit dan saluran induk otomatis melebar dan beberapa puluh meter ke depan baru ada  semak dan pepohonan  serupa hutan kecil kayu sengon. Tetapi itu dulu. Kini di sana ada rumah  dari bambu. Lebih tepat disebut  rumah gubug. Ia terus berjalan ke sana. Tujuannya selain berkenalan juga mencari teman mengobrol Ketika tinggal beberapa meter dari rumah gubug itu langkahnya  terhenti. Praba ragu-ragu karena ada yang tidak lazim. Jemuran pakaian.

Status sosial dari penghuni sebuah rumah bisa di tebak melalui apa yang  ada di jemurannya. Tetapi menebak status penghuni rumah bambu  di depannya tidak mudah karena diantara jemuran pakaian anak-anak dan  orang tua seperti baju batik berlengan  panjang,celana ,kolor dan celana butut petani , ada beberapa lembar pakaian  dan kelengkapan  busana  wanita masa kini yang sama sekali tidak menggambarkan bahwa penghuninya  orang desa. Pakaian wanita yang ada di jemuran itu terlalu bagus untuk wanita desa , apalagi seorang petani.  Paling tidak pemiliknya wanita muda yang bukan petani.

Ketika Praba sedang berdiri termangu-mangu ia mendengar semacam percekcokan kecil di dalam rumah. Ia ingin mendengarkan apa yang di pertengkarkan. Namun tidak sempat karena pintu tiba-tiba terbuka dan seorang anak lelaki kecil berumur sekitar 10 tahun muncul dan lari keluar sambil berteriak-teriak bahwa kakaknya galak dan judes. Belum lagi Praba menguasai situasi muncul di pintu seorang wanita sekitar 25 tahun . Ia sedang memarahi anak kecil tadi.

“Santo….Santo kau jangan kolokan begitu….!” kemarahannya  terhenti dan ada ekspresi terkejut  demi melihat ada seorang lelaki tahu-tahu telah berdiri di pintu pagar. wajahnya berubah dari gemas terhadap anak tadi menjadi malu. Sedang si anak terus berlari menjauh ke kampung di seberang saluran induk.

“Maaf saya tidak sengaja berdiri disini…karena…..karena….. !” Praba minta maaf.

“Karena bulan kemarin gubug ini belum ada ! Begitu kan maksud bapak !”wanita tadi langsung memotong dengan judes.

Praba terhenyak  karena sikap galak wanita yang ada di depannya. Tetapi hanya sebentar .  Ia  telah menguasai diri lagi dan mengatakan bahwa dirinya tidaklah seperti itu.

“ Saya bosan harus menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang! Hampir setiap orang yang melintas disini selalu mampir hanya untuk menanyakan sejak kapan gubug ini berdiri Lalu di susul pertanyaan-pertanyaan lain . Saya bosan menjawabnya!”

“Kalau kamu bosan menjawab, saya bisa maklum .”  Praba,berusaha memahami.

“ Kalau begitu saya akan bertanya yang tidak pernah membuatmu bosan !” tambahnya

Wanita itu diam berpikir. Praba Santika bisa menduga  wanita muda itu semula akan mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi . Praba yang sudah tua yang telah melewati masa yang penuh dengan pahit getirnya hidup tahu bahwa wanita di depannya itu membutuhkan seseorang yang mau di ajak bicara demi mengusir rasa sepi. Siapapun tahu bahwa mendirikan rumah di tempat yang terasing seperti ini pasti jarang ketemu orang kecuali orang yang kebetulan lewat.

“Saya hanya ingin tahu anak kecil yang baru saja lari tadi anakmu atau adikmu ?”

“ Dia adik saya namanya Susanto ! Bagaimana  ? Sudah puas dengan pertanyaannya?”

“Belum….saya belum puas saya ingin ngobrol banyak dengan Anda!”

“Maaf saya sedang sibuk !” jawabnya judes. Ketika itu tiba-tiba adiknya datang lagi dengan berlari-lari  Namun pintunya cepat-cepat di tutup dari dalam sehingga si anak berteriak-teriak minta dibukakan pintu.

“Hei Santo jangan berteriak-teriak Pakde punya jajanan banyak Nih semua untukmu !”  kata Praba sambil mengulurkan tangannya yang memegang jajanan. Tetapi anak itu tidak langsung menerima ,justru ia memandang ke arah Praba dan jajan yang ditangannya ganti berganti. Praba terus mendesaknya dengan  mengulurkan tangannya sambil berjongkok .

“ Mbak..!Pakde memberi jajanan, boleh tidak Santo menerimanya …..?” terdengar permintaan yang ditujukan kepada kakaknya yang ada di dalam rumah.  Setelah tiga , empat kali Santo meminta ijin boleh atau tidaknya menerima jajanan, baru  pintu rumah terbuka.  Wanita itu melihat kedua tangan Pakde  menyatu menyangga  jajanan  yang sudah terbuka bungkusnya dekat sekali dengan Santo, dan anak kecil tadi otomatis makin tersiksa  hatinya. Ia sangat ingin makan jajanan itu tetapi di saat yang bersamaan kakaknya muncul dengan wajah garang.

“Ambil dan pilih dua jajanan yang kau suka !” sang kakak memerintah.

“Tetapi….tetapi kata Pakde semua ini untuk Santo kak….!” Ujar anak itu memelas.

Ketika kakaknya akan memarahi adiknya dengan cepat Pakde memotong dan mengulangi bahwa semua jajanan ini memang untuk Santo.Sambil berkata demikian Pakde berdiri dan mendesak pintu . Dengan sendirinya sang kakak mundur dan itu berarti membiarkan Praba Santika masuk ke dalam rumah.

“Bolehkan saya duduk ? saya agak lelah berjalan-jalan dari  dusun Kacangan!”katanya setelah menaruh jajanan di meja, dan dengan cepat Santo menyergap beberapa kue lalu kabur lagi keluar.

“Silakan saja , kursi memang untuk duduk !” karena tak bisa memarahi adiknya akhirnya nada judesnya ditimpakan kepada sang lelaki.

Setelah itu ruangan sepi. Mata Praba menyapu seluruh ruangan. Isinya sederhana dan rapi. Namun di situ terlilhat ada lampu listrik , alat penanak nasi, juga ada strika listrik. Padahal gubug itu jelas tak dilewati listrik dari PLN. Otomatis dan tanpa sadar Praba berusaha menyusuri kabel yang terlihat melintas di atas kepalanya.

“Listrik itu dari tetangga !” kata si  wanita yang bisa menebak pikiran Praba.

“Tetangga yang baik dan pengertian.” Praba berkomentar. Setelah itu kembali sepi.

“Maaf  kalau aku boleh bertanya siapakah nama kedua orang tuamu ?  Soalnya saya rasanya belum pernah melihatnya .”

Wanita itu tidak segera menjawab . Sejenak  matanya memandang tajam ke Praba kemudian berubah murung . Lelaki itu menyesal dan merasa bersalah .

“Kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu saya mohon maaf dan kau tidak usah menjawab.” Praba berusaha memperbaiki sikapnya. Tetapi di luar dugaan ada jawaban,

“Kami sekeluarga semula tinggal di desa Pucang. Namun karena satu dan lain hal maka kami terusir terpaksa  pindah ke bantaran kali Pahit ini !”

“Ooo begitu ya. Rasanya saya pernah mendengar cerita yang menghebohkan dulu itu. Tetapi tak begitu jelas apa dan bagaimana .Ternyata itu ada hubungannya denganmu .”

“Biarlah saya bercerita  kepada Pakde, agar mendengar dari mulut pertama karena masalah itu adalah masalah orang tua saya.”

“Ceritakanlah, saya mendengarkan.” Praba tiba-tiba bergairah.

“ Kejadian yang menyedihkan itu  berawal dari keinginan emak untuk bekerja ke Malaysia atau Hongkong. Padahal tanpa menjadi TKW pun hidup kami lumayan. Namun entah karena apa emak memaksa terus sehingga bapak kalah dan menurut saja.  Singkatnya baru berjalan tiga tahun dari kontrak yang empat tahun itu emak bermasalah.”

“Masalah apa ?”

“Emak jatuh cinta kepada  Bossnya dan entah bagaimana ceritanya mereka kabur, dan lari ke Indonesia. Karena emak masih berstatus istri orang maka  untuk kedua kalinya emak memaksa ayah agar menceraikan dirinya. Dulu memaksa agar ayah mengijinkan emak ke Malaysia. Kini emak memaksa agar ayah mau menceraikan istrinya. Karena tidak berhasil maka emak mulai mengungkit-ungkit uang yang dulu pernah dikirim dari Malaysia.. Untuk kesekian kalinya ayah kalah  sampai akhirnya ayah harus meninggalkan rumah di Pucang yang memang milik emak. Tidak sampai enam bulan setelah perceraian itu ayah sakit dan terpaksa saya yang sudah tiga tahun bekerja di Surabaya  harus pulang mengurus ayah dan adikku.” Wanita itu mengakhiri ceritanya dengan nada hambar. Ia sudah jenuh dengan kejadian yang pasti sudah diceritakan berulang-ulang. Setelah itu suasana kembali sepi

“Kalau kulihat  di laci  didekatku ini ada  buku-buku pelajaran  akuntansi. Ini bukumu bukan ?”suara Pakde memecah sepi.

“Waktu masih di Surabaya saya sempat menyisihkan uang untuk ikut kursus akuntansi Rencanaku kalau ada peluang aku akan kuliah agar cara berpikirku lebih rasional, bukan emosional. Apalagi kini konon guru SD bahkan guru TK juga wajib kuliah lagi agar tidak ketinggalan. Jadi apa salahnya bila aku kuliah juga.Tetapi karena perilaku emak dan kemudian bapak sakit maka semua rencanaku berantakan. Aku harus pulang ke desa mengurus bapak  sampai sembuh dan mengurus adikku Santo. Disini aku tak mempunyai pekerjaan kecuali menunggu rumah, mengurus adik dan menunggu bapak pulang. dengan hati cemas.”

“Bapakmu pergi kemana ?”

“Setelah pindah ke sini bapak kerjanya serabutan.  Pernah menjadi kondektur bus antar kota , tetapi hanya sebentar. Tidak kuat. Karena aku masih mempunyai sisa tabungan kemudian dikumpulkan dengan sisa-sisa uang bapak membangun gubug ini , juga meminjam uang ke tetangga maka aku membeli becak motor untuk bapak. Dengan adanya becak motor rumah tangga pelan-pelan membaik. Selanjutnya untuk mempercepat pelunasan hutang kepada pihak  yang lain maka bapak ikut bekerja sebagai kuli memborong tebang tebu. Sekarang ini musim panen raya tebu dan para pemilik kebun tebu kekurangan tenaga penebang tebu. Lalu bapak ikut. Dan becak motornya di sewakan kepada sahabatnya. Saya sebenarnya berkeberatan  bapak  menjadi buruh tebang tebu. sebab sebelumnya bapak bukanlah buruh tani .Tenaganya tidaklah seberapa karena itu hasilnya  lebih kecil bila dibanding teman-temannya Tetapi lebih besar daripada menjadi penarik becak.” Surti mengakhiri ceritanya.

Selanjutnya gubug kembali sunyi. Sayup-sayup celoteh anak-anak yang  mandi di di saluran induk    membuat sepi semakin lengang.

“Melihat penampilanmu dan wajahmu seharusnya kau sudah mempunyai calon suami,” suara Pak Praba memecah keheningan.

“Sewaktu di Surabaya saya memang sudah mempunyai pacar dan sudah berencana menikah. Namun saya minta menangguhkan rencana itu karena aku masih ingin kuliah. Mungkin  ia terlalu lama menungguku ,apalagi ia telah menguasai diriku sepenuhnya, maka ia bosan .Ketika tahu bahwa ibuku seorang TKI , apalagi disertai berita miring, maka dia memutuskan hubungannya denganku”.

Sambil bercerita demikian tangannya  sibuk menata beberapa kain untuk alas setrika

“Tetangga di atas memberi kesempatan menyetrika jam-jam segini ini Jadi saya minta maaf saya bicara sambil menyetrika.”

“ Ooh poor Pretty woman  !” gumam Praba Sentika kepada dirinya sendiri.

“Siapa yang dimaksud dengan poor pretty woman ?” tiba-tiba wanita itu mengangkat wajahnya bertanya kepada Pakde dengan pandangan mata tajam. Dan Praba gragapan tidak menyangka wanita itu mengerti bahasa Inggris dan langsung berkomentar.Vokalnya  dan ucapannya juga bagus.

“Maafkan aku. Kaulah Poor Pretty woman itu .” Praba menjawab sejujurnya.

“Tetapi aku bukan pelacur !” si wanita mendebat sambil terus menyetrika.

“Kau rupanya juga menonton film itu ?”

“Ya Pretty Woman adalah film pertama yang kutonton  bersama pacarku.”

“Tetapi  Pretty Woman  yang kuucapkan dan ada di benakku  saat ini  adalah kau ,wanita yang cantik, cerdas dan teliti. (berhenti sebentar ) tidak seperti yang ada di film itu.”

“Maksudnya Pakde ingin memujiku sebagai wanita pelacur yang cantik ?”

“ Tidak! sama sekali tidak  dan maaf Surti. Waktu aku menyebut  poor  pretty woman itu maksudku kau adalah wanita matang, cantik yang malang. Dan tidak terpikir menyamakan kau sama dengan wanita dalam film itu. Menurut pendapatku kukira terjemahan wanita cantik  matang  atau dewasa itu yang tepat memang poor pretty woman. Bukan poor beautiful girl.”Praba menjelaskan.

“  Pakde baru saja memanggilku Surti. Namaku bukan Surti!”wanita tadi bertanya.

“ Ooh maaf sekali lagi maaf aku memang gegabah  !Aku tak tahu mengapa  memanggilmu Surti. Rasanya aku sedang berbicara dengan Surti temanku dulu. Dulu sekali !”

Wanita itu tak bereaksi, terus saja menyeterika. Sedangkan Praba menunggu komentar.

“Kau tak keberatan kan kalau kupanggil Surti ?”  akhirnya Praba bertanya karena wanita itu tetap diam. Gerak gerik wanita di depannya memang mirip sekali dengan mantan pacarnya.

“ Silakan saja Pakde ! Aku suka nama itu. Aku juga minta maaf karena bersikap sinis dan judes .” kata si wanita sambil melengos. Hati lelaki tua itu berdesir.” Kamu memang cantik. “

Hari itu kunjungannya  berakhir biasa-biasa saja. Lelaki tua itu hanya pamit tanpa ucapan lainnya. Wanita yang kini senang di beri nama Surti juga hanya mengatakaan terima kasih telah menemaninya tanpa ucapan  “Lain waktu agar mampir.” Suatu kalimat yang diharapkan didengar oleh Pakde  sebagai lelaki yang sehat.Walaupun demikian Praba pasti akan datang lagi .

Sepulangnya dari rumah Surti Praba Santika merasa sehat, kuat dan perkasa kembali. Logika berpikirnya juga merasa lebih dinamis.  Hari-hari selanjutnya disamping rasa gembira dan bergairah lelaki itu juga sering  bersiul-siul lagu “Pretty Woman” Istrinya heran melihat perubahan perilaku suaminya, namun tidak berkomentar apa-apa .

Suatu hari dari pasar suaminya pulang dengan membawa deodorant perfume spray  dan minyak rambut yang mahal sang istri tersenyum geli. Ia menduga suaminya , 60 tahun sedang puber ketiga. Tetapi istrinya yang berumur 55 tahun  tidak berkata apa-apa hanya geli.  Di waktu yang lain sambil bercermin suaminya bertanya kepada istrinya mengapa senyum-senyum , sang istri dengan jujur mengatakan bahwa penampilan suaminya seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Jawaban itu membuat Pak Praba makin serius mengamati wajahnya di cermin . Rambutnya sudah memutih , tetapi tak pernah disemir. Istrinya sejak dulu melarang dengan alasan suaminya lebih jantan dengan rambut putihnya. Sang suami selalu ingat pujian istrinya justru setelah sang istri melahirkan  anak mereka yang keempat.

“Gagah dan jantan seperti  artis film Richard Gere.” kata sang istri waktu itu.

“Siapa dia itu ? Pernah main di film apa ?” tanya suaminya.

“Pria pemain utama film Pretty Woman.”

“Oh ya….benar aku lupa! “

Itu dulu! sudah lama sekali, sejak itu  Praba memang  tak pernah menyemir rambutnya.

“Apa kini aku masih seperti dulu ?” pikirnya sambil mengelus-elus rambutnya.

“Apa aku  masih seperti Richard Gere ?” tanyanya sambil menatap istrinya lewat cermin.

“Kau selamanya gagah dan hebat.”istrinya memuji .

Praba  gembira  tetapi ia harus menahan nafas  dan menyabarkan diri , agar istrinya tidak tahu kalau dirinya ingin saat itu juga terbang menemui Surti. The poor pretty  Woman.

Keesokan harinya ia harus menunda sehari lagi rencananya mengunjungi Surti karena hari itu ia harus menunggu tukang giling padi.

“Sekarang menggiling padi enak tinggal angkat telepon dan tukang gilingnya datang dengan truck pick-up yang dimodifikasi  di tambahi mesin giling padi. Empat tahun yang lalu aku yang harus pergi kepenggilingan di bantu tukang panggul.” katanya kepada istrinya. .

“Ya Papa sempoyongan memanggul  karung berisi gabah,dibantu si Ridon.”

Suaminya hanya tersenyum sambil meminum sisa kopinya.

Setelah truck penggilingan padi datang  dan dalam tempo satu jam selesai maka, sisa waktu hari itu dipakai untuk kegiatan  kecil-kecil lainnya untuk merintang-rintang waktu. Tentu saja hal ini mengherankan ,tetapi sang istri diam saja , malahan ditinggal tidur siang.

Keesokan harinya setelah agak siang baru ia berangkat mengunjunyi Surti tanpa beban. Namun tak urung ia kikuk dan blingsatan ketika sang istri bertanya  mau jalan-jalan kemana dan mengapa memakai wangi-wangian. Jawab yang paling tepat adalah tidak menjawab apa-apa tetapi langsung pergi.

Selanjutnya seperti beberapa hari yang lalu ia mampir sebentar untuk membeli jajanan. Dengan bergegas dan hati berbunga-bunga ia kerumah Surti.

Sesampainya di  sana ia tertegun .Rumah gubug itu tertutup. Sekelilingnya sepi. Tali jemuran kosong tak ada secuilpun kain yang di jemur. Ia memanggil-panggil nama Surti dan juga Santo adiknya namun tak ada jawaban. Kepalanya berputar-putar memeriksa sekelilingnya barangkali ada tetangga yang tahu atau orang sedang lewat. Kemudian ia mengelilingi rumah. Sepi. Orang lewat juga tidak ada. Ia berusaha mencari kabel listrik yang kata Surti berasal dari tetangga terdekat yang telah berbaik hati memberi aliran listrik.  Tetapi kabel itu tak ada mungkin sudah di cabut oleh tetangganya. Tetapi tetangga yang mana ? Soalnya di sekitar rumah gubug itu tak terlihat ada rumah lain. Yang ada hanya tegalan  dengan beberapa pepohonan waru-alas dan sengon serta beberapa pohon jati kebon. Bangunan rumah tidak ada kecuali jauh disana ada sebuah rumah gedung bertembok belakang tinggi dan mustahil mau memberi strum .Sekali lagi Praba mengelilingi rumah sambil memanggil-panggil nama Surti dan Santo. Karena yakin tak ada siapa-siapa maka ia kembali pulang. Jajanan yang telah di beli digantungkan  di dinding bambu rumah itu dekat pintu.

Sesampainya di rumah tanpa banyak bicara  ia mencuci tangan dan kakinya lalu makan siang tanpa menunggu istrinya yang sedang sholat dhuhur. Setelah makan ia bergegas masuk ke kamarnya .  Ia sengaja menghindari pertemuan dengan istrinya yang pasti bertanya macam-macam dengan arif bijaksana. Suatu kebiasaan sang istri yng membuat dirinya malu dan klimpungan  menjawabnya.

Sore harinya walaupun istrinya tidak bertanya apa-apa, tetapi perasaan lelaki itu tidak tenang.    Ia merasa bersalah ,gelisah dan penasaran. Ia gelisah dan khawatir kalau tiba-tiba istrinya menanyakan sesuatu  yang mengharuskan dirinya berbohong dan ia tidak pandai berbohong. Selain itu ia juga penasaran ingin tahu kemana Surti dan adiknya. Mengapa kabel listrik yang beberapa hari lalu  masih ada kini tidak ada.    Masih ada satu pertanyaan yang membuat dirinya menyesal dan ingin segera kembali ke sana. Ia tahu rumah Surti memang tertutup, tetapi ia ingat di pintu itu tidak ada gemboknya. Jadi seharusnya pintu itu mudah di buka, tetapi nyatanya tidak. Berarti pintu di tutup dengan palang dari dalam. Setelah itu penghuninya keluar lewat pintu lain.  Begitu perkiraannya.Tetapi pintu lain tidak ada. Kemungkinannya hanya satu yaitu  pintu  lain itu ada hanya dirinya tadi siang itu kurang teliti memeriksa rumah. Berpikir demikian  lelaki tua itu makin terdorong mengunjungi rumah Surti malam ini. Ia harus membuktikannya dengan meninjau langsung. Selain itu ia berharap bisa berkenalan dengan bapaknya Surti yang katanya kuli tebang tebu. Jam weker di meja kamarnya menunjukkan hari masih sore.

Sejak ia berfikir akan kesana malam nanti maka ,sejak itu pula semangatnya  berkobar-kobar. Ia merasa muda kuat dan sehat. Bersamaan dengan itu akalnya yang sudah lama membeku karena sifat arif bijaksana sang istri kini bergejolak lagi.  Ia tiba-tiba merasa banyak akal. Ia bisa mencari seribu alasan agar sore ini  bisa mengunjungi rumah gubug di bantaran kali Pahit. Setelah tekadnya bulat , ia pamit. Ternyata istrinya tidak banyak bertanya bahkan mengingatkan jangan lupa memeriksa dulu baterai senternya , kalau perlu ganti batu-baterai baru.dan minta suaminya membawa kunci agar kalau pulang bisa  langsung masuk rumah.

Perjalanan ke rumah Surti  ternyata mendebarkan  Mungkin karena ini adalah malam pertama ia merencanakan penghianatan kepada istri tercintanya.

Praba heran dan sulit mempercayai matanya. Dari jauh rumah Surti sudah terlihat terang oleh lampu listrik. Padahal tadi siang ia tahu tidak melihat lagi kabel yang menuju ke rumah itu. Ketika ia sudah benar-benar di muka pintu pagar , tiba-tiba pintu rumah terbuka dan Surti  sedang keluar untuk membuang sampah di pojok halaman. Surti terkejut disusul tawa senang karena melihat Praba ,yang bangga dipanggil Pakde, sudah ada di depan rumahnya.

“Pakde datang. Syukurlah saya pas keluar untuk membuang sampah. Masuklah Pakde, sekalian saya kenalkan dengan bapak saya.”

Singkat cerita malam itu Pak Praba dikenalkan dengan bapaknya. Setelah basa-basi singkat sang bapak minta ijin akan tidur dulu karena ia besok harus berangkat sebelum subuh agar bisa sampai ke tempat penebangan tebu lebih awal dan sebelum panas menyengat ia telah memperoleh tebangan yang lumayan.

Malam ini baru Pakde menyadari bahwa ternyata gubug itu memang kecil dan suasananya kurang nyaman.Kamarnya hanya satu dan itu pasti kamar tidur untuk Surti , sedangkan  bapaknya tidur di ruangan ini juga di sebuah tempat tidur besar  dengan Santo tidur disebelahnya.  Perabotan lainnya hanya meja butut besar, sebuah meja serba guna  dan di pojok agak menjorok kesebuah sudut ada dapur atau pawon  dimana diatasnya ada tempat untuk menyimpan kayu bakar . Khas rumah pedesaan yang masih memakai kayu bakar

“Sekali lagi maaf Pakde inilah tempat tinggalku. Saya harap Pakde tidak kecewa dengan kenyataan ini.” Surti tiba-tiba bicara seperti mengerti pikiran Praba

“Jelas tidak ! Bukankah kemarin siang saya sudah kesini ?Juga tadi siang. Kalau saya kecewa tentu tidak kesini lagi. Selain untuk silaturakhmi dengan bapakmu saya kesini dengan hati agak cemas karena tadi siang rumahmu  kosong…..dan ….”

” Pakde tidak melihat kabel listrik , gembok dan lain-lain…!”  Surti langsung  memotong.

“Ya itulah sebabnya malam ini aku kesini terutama karena penasaran !”

“ Sekali lagi maaf.”

“Ah sudahlah, yang penting malam ini aku bahagia bisa melihatmu sehat !”

“ Silakan duduk di sini. Maklum tak mempunyai kursi lagi.” kata Surti menyilakan lelaki itu duduk di sebelahnya, di sofa panjang.  Sofa butut dengan penutup kain joknya sudah diganti dengan kain selimut loreng. Tanpa sengaja lengan Pakde menyentuh lengan Surti. Badannya dingin seperti es.Setelah itu  mereka semua diam. Bapaknya Surti tidur meringkuk seperti kedinginan, dan disampingnya Santo tidur pulas telentang dengan sarung tergulung di kakinya.

“Bapak sebetulnya sedang kurang sehat, namun tetap memaksa berangkat . Kalau musim tebang sudah lewat maka, peluang untuk mencari uang banyak secara cepat habis sudah.” kata Surti seolah-olah menjawab apa yang dipikirnkan Pakde.  Lalu bangkit menyeduh kopi.

“Badanmu dingin, juga wajahmu putih pucat.”

“Kan sekarang terang bulan. Kalau pas terang bulan badanku dingin tetapi sehat.”

“Tetapi wajahmu pucat, seperti sedang tidak sehat.” Pak Praba melihat wajah Surti memang pucat  sehingga bibirnya menjadi lebih merah.

“Begitu ya ….!” katanya  sambil tersenyum.

Senyuman yang membuat bulu roma Pakde  meremang

Setelah menaruh kopi panas di meja Surti bergegas ke kamar. Kamarnya kecil dan hanya ditutup dengan korden, ciri khas rumah gubug . Surti di kamar lama sekali sehingga Pakde tertarik untuk menyusul. Selain ingin tahu sedang apa di dalam lelaki itu juga mendapat perasaan aneh. Seakan-akan ada dorongan batin agar dia menyusul ke dalam kamar.

Kamarnya sempit dan gelap. Gelap sekali sehingga Pakde tidak tahu apakah di dalam kamar itu ada dipannya atau tidak. Tetapi di dalam tak ada Surti. Ketika senternya di nyalakan tidak mau menyala.  Malahan kemudian tercium bau harum. Semula ia menganggap itu bau khas kamar wanita . Bau kosmetik. Tetapi bukan. Bau harum setanggi  yang tidak disukainya

“Bulan sudah mulai menerangi halaman !” terdengar suara di luar. Pakde  menengok ke pemilik suara. Dan terkejut.Itu suara Surti. Seharusnya wanita itu masih di dalam kamar. Kalau akan keluar harus melewatinya karena ia berdiri di depan pintu kamar. Tetapi Pakde tak sempat berpikir lain kecuali menyusul keluar. Di dekat pintu ia bertabrakan dengan Surti yang akan masuk.Kali ini  ia terpaksa memeluk Surti karena  sempitnya pintu dan Surti hampir jatuh. Sekali lagi lelaki itu merasa badan Surti dingin seperti es.

“Maafkan saya Pakde ! “ kata Surti mundur mundur sambil menutup mulutnya, menguap.

“ kau pasti mengantuk !”

“Sekali lagi maafkan saya….!”

“ Bangun ! Pak bangun…..! Sudah siang ….” Terdengar suara membangunkan dirinya.

Dengan geragapan Pak Praba bangun dan melihat istrinya duduk di dekat kakinya sambil masih menggoyang-goyangkan kakinya yang lain.

“Lihat tuh matahari sudah tinggi ! ayam jago pun sudah berhenti berkokok karena sibuk mengejar-kejar para betina…..!”

“Uuhh maafkan saya Ma. Saya kesiangan!” Pak Praba duduk mengucek-kucek matanya.

“Bukan hanya kesiangan ! Papa juga mengigau. Memanggil-panggil Surti !”

“Apa …? Saya mengigau…dan memanggil-panggil Surti…?”

Istrinya tidak menjawab hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah begitu kuat cinta Papa kepada  Maria Surtikanti , sehingga walaupun sudah puluhan tahun berpisah dan masing-masing sudah beranak bercucu Papa masih juga mengenangnya ?”

“Ah tidak begitu Ma, Mama salah…! Awas minggir saya mau mandi !” Pak Praba berusaha mengalihkan arah pembicaraan. Dan langsung meloncat turun dan bergegas ke kamar mandi besar di belakang .

Di kamar mandi Pak Praba bingung.  Kenapa ia mengigau.Kata istrinya dia memanggil-panggil nama Surtikanti. Dia memang memberi  nama Surti kepada wanita yang tinggal di bantaran kali Pahit. Semula lelaki itu tidak mengerti tetapi kemudian ingat bahwa ia memanggil wanita itu dengan nama Surti singkatan  dari Surtikanti karena wajah  wanita itu mirip Maria Surtikanti  pacarnya waktu kuliah sebelum akhirnya terpaksa putus karena berlainan agama .

“Papa cepat mandinya dan antarkan saya Trenggalek.” Terdengar teriakan di luar.

Sore hari sepulangnuya dari Trenggalek istrinya sudah lupa dengan igauan suaminya, tetapi Praba masih terus memikirkan kejadian yang aneh itu.

Beberapa hari kemudian ia jalan-jalan lagi menyusuri saluran irigasi.

“Jangan jauh-jauh. Papa kan bukan mantri pengairan.” Istrinya mengingatkan.

Dalam perjalanan menuju ke rumah gubug  ia gelisah.  jalannya makin dipercepat.

“ Bila gubug itu mulai menampakkan diri maka, aku harus bisa menenangkan diri dan jalannya harus santai seperti tidak ada kejadian apa-apa.” pikirnya  Namun membeli jajanan buat anak-anak itu perlu, tepatnya untuk Santo, terutama Surti.

Menjelang ketujuan Praba merasa ada yang aneh. Rumah-gubug tak kunjung menampakkan dirinya .Disana memang tak ada bangunan apa-apa. Hanya ada seorang  lelaki tua  sedang menggali tanah membuat lubang.

Hatinya bergetar hebat.Beberapa kali di kucek-kucek matanya untuk meyakinkan  penglihatannya. Tanah di depannya ,di di bantaran kali Pahit tak ada gubug apapun.

“Hai rupanya Pak Askur yang sedang bekerja !”  Pak Praba menyapa dengan suara bergetar suara orang yang terhianati. Yang disapa berhenti bekerja dan tertawa ramah menampakkan mulutnya yang sudah ompong. . Pak Askur memberi tahu tidak bisa salaman karena tangannya kotor. Praba hanya tertawa getir.

“Sedang apa Pak Askur disini ?”Praba berusaha menguasai emosinya.

“ Membuat lubang  untuk menanam jati kebon! “

“Berapa lubang ? Mengapa hanya sendirian ?”

“Ah tidak banyak .Saya taksir paling banyak  200 sampai 350 lubang. Kalau hanya sebegitu tak perlu ada tenaga tambahan.”katanya sambil duduk di bawah pohon , untuk sarapan. Sebelum sarapan ia menawari Pak Praba. Tentu saja ditolak secara halus.

Saya juga mempunyai jajanan , dan kita makan bareng yuk!  kata Pak Praba sambil duduk di sebelahnya yang juga rindang. Mereka berdua makan tanpa bicara.

“Tanah ini siapa pemiliknya ?” suara Pak Praba memecah keheningan pagi.

“Setelah beberapa kali ganti pemilik, maka tanah ini akhirnya menjadi milik orang dari desa Gurah.” Pak Askur  memberi  penjelasan sambil makan.

“Dan tampaknya baru sekarang ada yang mengurus.”Praba mulai memancing berita.

“Nyatanya memang begitu. (Berhenti sebentar seperti mengingat-ingat ) Lalu menengok ke arah Praba.  Dan dilanjutkan .”Pak Praba rupanya bukan orang sini ya ?”

“Saya baru lima  tahun tinggal disini  Pak. “

“Pantas tidak  tahu….”katanya sambil minum  kopinya dari botol plastik bekas mineral.

“ Memang pernah terjadi apa ?” Praba pura-pura tidak tahu apa-apa.

“Berarti  bapak memang tidak tahu atau tidak pernah mendengar !”

“Ceritakanlah Pak.  Sepertinya menyeramkan!” pancingan Praba mulai kena.Namun lelaki itu  harus bersabar lagi agar Pak Askur menyelesaikan dulu sarapannya, di susul merokok  dua tiga isapan. Baru mulai bercerita..

Dulu ketika di negeri ini wanita di beri ijin mencari nafkah di luar negeri maka berbondong-bondonglah mereka berangkat keluar negeri. Tujuannya sebagian besar ke Arab Saudi. Kemudian Malaysia dan Singapura. Dan tenaga kerja wanitanya kemudian disebut TKW singkatan dari Tenaga kerja Wanita. Diantara mereka yang ingin menjadi TKW , ada yang bernama Juariah . Dia sebetulnya bukan keluarga  miskin  yang terpaksa merantau menjadi TKW. Nyatanya suami serta kerabatnya tak mampu menyadarkan dan melarang. Singkatnya wanita itu kemudian menjadi TKW di Malaysia. Setelah tiga tahun ada berita dia sukses besar sehingga bisa membeli rumah dan tanah . Semua kagum . Namun suatu hari terjadi keributan . Wanita itu minta cerai dan meminta kembali semua kekayaaannya yang berasal dari kerjanya sebagai TKW.  Singkatnya si wanita TKW tadi akhirnya berhasil mendapatkan semua hartanya kemudian menikah dengan lelaki  kaya dari Malaysia. Di saat yang sama mantan suaminya  harus pindah ke rumah gubug di bantaran kali Pahit. Untuk menyambung hidupnya mantan suami wanita tadi menjadi tukang  becak motor, dan kalau musim panen tebu ia menjadi kuli memborong pekerjaan menebang tebu. Dan anak gadisnya yang sebelumnya sudah bekerja di pabrik di Surabaya terpaksa pulang karena bapaknya kemudian sakit parah yang lama. Si gadis tampaknya ikhlas menerima nasibnya yang buruk tadi.

Suatu hari penyakit bapaknya kambuh lagi. Dan seperti yang diduga maka hutang sang bapak makin lama makin banyak selain untuk pengobatan dirinya juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dan penyelesaiannya seperti cerita lama , ada lelaki kaya mengaku sebagai tengkulak tebu mau menolong  dan menanggung semua hutang-hutangnya dengan cara yang mudah yaitu anaknya dijadikan istrinya yang ketiga. Sang gadis tak mau tetapi tidak berani menolak secara terang-terangan. Akibatnya terjadilah yang seharusnya tidak perlu terjadi .

Suatu malam lelaki itu datang ke gubugnya untuk silaturakhmi dengan calon istri. Bapaknya yang waktu itu masih sakit tidak bisa apa-apa kecuali tergolek lemah di ambin di ruangan itu juga. Mau tak mau sang gadis terpaksa harus menemui sang tengkulak. Setelah beberapa saat menjamu sang tamu dengan segelas kopi , si gadis minta ijin ke kamar sebentar. Kamarnya  sempit tidak berpintu kecuali korden atau kelambu yang sudah butut sebagai pengganti pintu. Karena merasa sudah menunggu lama maka sang tengkulak heran dan memberanikan diri masuk. Ternyata si gadis tidak ada di kamar yang gelap itu. Diambilnya senter dan diperiksanya kamar yang hanya berukuraan dua setengah meter kali tiga meter. Kamar itu kosong. Kemana perginya si gadis? Sekali lagi diperiksanya kamar itu. Ternyata dinding bambu di bagian pojok telah di lepas gapitnya dan beberapa ikatan bambunya juga telah putus. Rupanya si gadis sudah mempersiapkan pelariannya. Dengan menahan marah cepat-cepat sang tengkulak keluar memeriksa. Dari sebelah luar, dinding bambu yang telah terbuka itu menggambarkan bagaimana cara si gadis melarikan diri.

Apa yang terjadi selanjutnya tak ada yang tahu hanya besoknya , siang hari baru orang-orang tahu bahwa bapaknya si gadis telah meninggal. Dan anaknya lelaki yang masih berumur 10 tahun tidak mengerti kalau bapaknya telah meninggal sejak pagi hari dan kakak perempuannya juga telah pergi entah ke mana. Bagaimana selanjutnya tak ada yang tahu persis, yang pasti Polisi, dan aparat desa semua turun tangan…..” Pak Askur mengakhiri ceritanya.

“Selanjutnya bagaimana pak ? Misalnya bagaimana nasib anak laki-lakinya  yang masih 10 tahun itu ? Kemana perginya si gadis, Apa sebenarnya yang terjadi?” Praba mengejar dengan berbagai pertanyaan. Tetapi jawab pak Askur hanya satu yaitu “tidak tahu”

“ Kalau nama anak gadisnya saya kira bapak tahu ! Tolong diingat-ingat !” Praba dengan putus asa mengajukan pertanyaan yang terakhir.

“Namanya (mengingat-ingat lama) ..Rasminah….ya saya ingat namanya Rasminah .”  Pada waktu pak Askur menyebut nama adiknya Praba sudah tidak mendengar dan tidak berminat lagi, kecewa. Lalu ngeloyor pulang.  Tetapi belum sepuluh langkah Praba balik badan dan setelah menimbang-nimbang bertanya :

“ Kapan rumah gubug itu di bongkar ?…….Kira-kira saja Pak !”

“Kalau itu saya ingat karena saya diijinkan membawa pulang  selembar dindingnya .”

“ Baguslah, tetapi kira-kira  kapan itu ?”

“Tujuh tahun yang lalu !” jawab pak Askur.

“Tujuh tahun yang lalu ….?” Praba minta penegasan.

“Ya tujuh tahun yang lalu. Memangnya kenapa ?” pak Askur balik tanya.

“Ah Tidak ! Tidak apa-apa !”  jawabnya  sambil bergegas pulang. Hatinya kacau.

S e l e s a i .